Sunan Muria : Biografi, Metode Dakwah, Karomah, Makam, Peninggalan, dan Kisahnya

Sunan Muria

Sunan Muria merupakan salah satu anggota dari Walisongo. Dimana Sunan Muria juga sangat berperan dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa, tepatnya di daerah Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah.

Sunan Muria merupakan anggota paling muda yang ada di Walisongo. Beliau merupakan anak kandung dari Sunan Kalijaga yang sudah terlebih dahulu berdakwah dan menyebarkan ajaran Islam di Jawa.

Oleh karena itu, cara dakwah Sunan Muria sangat mirip dengan apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, yaitu dengan menggunakan kesenian.

Selain itu, Sunan Muria juga memiliki kesaktian dan kekuatan yang luar biasa. Meski begitu, beliau tetap berdakwah dengan menggunakan cara yang lembut, halus, dan tanpa adanya paksaan.

Untuk lebih lengkapnya lagi, silahkan simak ulasan dari Sudut Nusantara di bawah ini hingga usai.

Biografi Sunan Muria

biografi sunan muria
Nama AsliRaden Umar Said
Nama LainRaden Prawoto
Nama AyahRaden Said (Sunan Kalijaga)
Nama IbuDewi Saroh
PasanganDewi Sujinah, Dewi Roroyono
KeturunanSunan Nyamplungan, Pangeran Santri, Raden Ayu Nasiki
Tempat DakwahKudus, Jawa Tengah
Tahun Meninggal1551 Masehi
MakamDesa Celo, Kecamatan Dawe, Kudus, Jawa Tengah

Sunan Muria memiliki nama asli Raden Umar Said dan memiliki nama kecil Raden Prawoto.

Raden Prawoto merupakan anak pertama dari pasangan Sunan Kalijaga dan Dewi Saroh. Dewi Saroh merupakan saudara kandung dari Sunan Giri dan merupakan putra dari Syekh Maulana Ishaq.

Jadi dengan begitu Sunan Muria merupakan keponakan dari Sunan Giri. Sunan Giri sendiri sangat terkenal bisa menyelesaikan berbagai masalah yang ada pada masa kesultanan Demak.

Raden Umar Said tinggal di daerah Gunung Muria, tepatnya berada di Puncak Colo yang letaknya berada di sebelah utara dari kota Kudus. Oleh karena itu kemudian Raden Umar Said dijuluki dengan nama Sunan Muria.

Sunan Muria dikenal selalu bisa memecahkan masalah secara adil bagi semua pihak yang terlibat di dalam masalah tersebut.

Beliau juga memiliki kemampuan lain selain berdakwah, seperti bercocok tanam, melaut, dan juga berdagang.

Sunan Muria selalu menunjukkan sikap yang ramah dan suka menolong masyarakat, hal ini yang membuat beliau sangat disegani oleh seluruh masyarakat.

Metode Dakwah Sunan Muria

metode dakwah sunan muria

Sama halnya dengan tokoh Walisongo lainnya, dalam berdakwah Sunan Muria juga lebih mengedepankan sisi kelembutan kepada masyarakat. Hal tersebut dilakukan untuk membuat masyarakat nyaman dan tertarik untuk belajar agama Islam tanpa adanya paksaan.

1. Metode Topo Ngeli

Salah satu cara dakwah Sunan Muria adalah dengan menggunakan kesenian. Dimana kesenian yang digunakan adalah wayang dan gamelan.

Beliau mengajarkan nilai-nilai Islam melalui gamelan dan juga wayang yang dikemas dalam sebuah cerita sehingga mudah untuk dipahami oleh masyarakat.

Kesenian tersebut biasanya dipentaskan dalam sebuah acara, lalu beliau menceritakan berbagai kisah dalam agama Islam yang dikemas secara menyenangkan dan tidak membosankan.

Para penonton yang mayoritas berprofesi sebagai pedagang, petani, dan nelayan sangat mudah dalam memahami nilai-nilai ajaran Islam yang disampaikan oleh Sunan Muria.

Dalam pentas wayang yang dilakukan oleh Sunan Muria, memiliki cerita Islami yang juga dikombinasikan dengan bunyi dari alat musik gamelan yang membuat penonton semakin antusias dalam menyaksikan pertunjukan dari Sunan Muria.

Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, Sunan Muria juga menambahkan berbagai tembang atau lagu jawa di dalam pentas tersebut.

Tembang Jawa tersebut dikenal dengan nama Sinom dan Kinanti, dimana di dalamnya terdapat lirik yang menceritakan tentang kisah di dalam ajaran Islam. Adanya tembang Jawa ini membuat pentas tersebut sangat menarik perhatian dan mampu menghanyutkan hati para penonton.

Sunan Muria juga dikenal sebagai pendakwah yang senang berdakwah Topo Ngeli” yang memiliki arti menghanyutkan diri dalam masyarakat. Dakwah dari Sunan Muria ini semakin menyebar luas hingga ke lereng Gunung Muria.

Kisah Topo Ngeli yang diceritakan oleh Sunan Muria berupa kisah pewayangan yang dilakoni oleh Dewa Ruci, dimana cerita ini juga pernah dikisahkan oleh ayahnya yakni Sunan Kalijaga.

Kisah asli Dewa Ruci sebenarnya merupakan cerita dari seorang empu Majapahit yang diceritakan ulang melalui tokoh pewayangan oleh Sunan Kalijaga.

Oleh sebab itu, kisah ini menjadi semakin terkenal, dan Sunan Muria sebagai anaknya juga melanjutkan cerita dari kisah ini untuk berdakwah.

Kisah Dewa Ruci sendiri menceritakan tentang perjalanan rohani dari tokoh Bima (Wekudoro), yang kemudian masuk ke samudera yang luas dan tanpa batas. Pada akhirnya ia Sang Hyang Nawa Ruci memberikan sebuah wejangan tentang kebenaran yang hakiki.

Dari cerita tersebut Sunan Kalijaga dan Sunan Muria menceritakan ulang dengan mengganti nama-namanya yang kemudian disesuaikan dengan nama-nama dari ajaran Islam.

Misalnya tokoh Werkudara diganti namanya menjadi Hayawaniyyah atau Lhawaudadi, kemudian Samudera Luas diganti namanya menjadi Bahrul Wujud.

Dengan mengubah namanya tersebut, masyarakat akan menjadi lebih familiar dengan agama Islam.

2. Metode Akulturasi Budaya

Sunan Muria dikenal sebagai seseorang yang mudah berbaur dengan segala aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat Gunung Muria. Meski begitu, bukan berarti beliau tidak mendapatkan kesulitan saat melakukan dakwahnya.

Dimana sebagian besar masyarakat di daerah tersebut sudah memiliki kepercayaan masing-masing, jadi tidak mungkin beliau untuk memaksa masyarakat agar menerima ajaran agama Islam secara instan.

Beliau melakukan dakwah bil hikmah atau mengajarkan kebijakan dan berperilaku baik. Agar masyarakat setempat mau mendengarkan ajaran Islam dan menerima agama Islam, beliau melakukan dakwah dengan metode akulturasi budaya.

Dimana Sunan Muria tidak mengharamkan seluruh adat dan budaya yang sudah dilakukan oleh masyarakat saat itu.

Kebiasaan adat yang diperbolehkan untuk tetap dilakukan yaitu sebuah peringatan kematian anggota keluarga setiap tiga hari, tujuh hari, atau hari-hari tertentu. Biasanya peringatan tersebut dilakukan hingga ke seribu hari.

Adat tersebut bahkan juga masih dilakukan oleh salah satu kelompok atau organisasi Islam yang ada di Indonesia.

Dahulu kegiatan memperingati kematian yang dilakukan 3 hari hingga 1000 hari dilakukan dengan membakar kemenyan dan menyediakan sesajen, namun oleh Sunan Muria hal tersebut diganti dengan membaca sholawat dan do’a.

Dengan metode akulturasi budaya ini masyarakat lebih mudah untuk menerima ajaran Islam saat itu.

3. Menjadi Tokoh Teladan yang Baik

Kebiasaan masyarakat desa pada waktu itu adalah dengan mencontoh tokoh teladan yang mereka anggap baik di daerah tersebut. Hal tersebut membuat Sunan Muria mencontohkan dan berperilaku baik kepada masyarakat. Oleh karena itu, ini adalah metode dakwah dari Sunan Muria dengan cara menjadi tokoh teladan yang baik.

Sunan Muria juga dikenal sebagai tokoh teladan yang mampu memecahkan berbagai persoalan rumit dalam lingkup masyarakat, beliau biasanya akan menolong dan juga memberikan solusi dari permasalahan tersebut.

Pada sebuah kisah pernah terjadi sebuah konflik pelik yang pernah terjadi di Kesultanan Demak pada tahun 1518 M hingga 1530 M. Dimana permasalahan tersebut harus mampu ada yang menengahi sebelum konfliknya menjadi semakin besar.

Sunan Muria ternyata berhasil menjadi penengah yang baik dan adil dalam permasalahan besar tersebut, sehingga semua pihak yang terlibat mau berdamai dan menerima hasil akhir yang ada.

Setelah berhasil menengahi konflik tersebut, Sunan Muria kemudian menjadi sesorang yang semakin dihormati oleh para kalangan kerajaan.

Berkat perilakunya yang baik tersebut, masyarakat semakin tertarik dan menjadikan beliau sebagai contoh tokoh teladan yang baik.

4. Menggunakan Wayang dan Gamelan

Metode dakwah paling populer yang juga digunakan oleh Sunan muria adalah dengan menggunakan alat musik gamelan dan juga wayang.

Kedua kesenian tersebut digabung lalu dipentaskan di sebuah acara, dengan begitu Sunan Muria bisa menyampaikan dakwahnya secara menyenangkan, menghibur, dan mudah diterima oleh masyarakat.

Penyampaian ajaran Islam dengan metode ini juga dinilai lebih efisien jika dibanding dengan ceramah langsung pada waktu itu.

Namun beberapa tokoh dalam wayang biasanya diubah karakter dan namanya sesuai dengan ajaran Islam.

5. Menggunakan Tembang (Lagu) Jawa

Selain dengan menggunakan gamelan dan wayang, Sunan Muria juga menciptakan berbagai tembang Jawa untuk menyampaikan dakwahnya. Ini juga yang menjadi salah satu metode dakwah Sunan Muria yang tidak bisa terlupakan.

Tembang Jawa yang paling dikenal dari Sunan Muria adalah Macapat, Sinom, dan Kinanti.

Lagu-lagu tersebut berisi lirik dengan kata-kata puitis yang di dalamnya mengandung ajaran-ajaran Islam.

Lagu tersebut dibuat seenak mungkin untuk dinyanyikan dan dihafalkan, dengan begitu masyarakat sangat menyukai tembang-tembang ciptaan Sunan Muria.

Kisah Sunan Muria dan Dewi Roroyono

kisah raden umar said dan istrinya

Pada saat itu dikisahkan terdapat sebuah acara ulang tahun dari Dewi Roroyono yang diselenggarakan oleh Sunan Ngerang, acara syukuran tersebut kemudian dihadiri oleh para saudara, tetangga, Adipati Pathak Warak, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan lainnya.

Anak-anak dari Sunan Ngerang dikenal memiliki paras yang sangat cantik, baik itu Dewi Roroyono maupun Dewi Roro Pujiwati adiknya.

Namun pada saat itu, sebagian besar pasang mata orang tertuju pada kecantikan Dewi Roroyono yang genap berusia 20 tahun. Bahkan konon jika tidak mampu menjaga pandagannya, maka bisa-bisa akan tergoda oleh bisikan setan untuk melakukan hal yang tidak baik.

Pada saat itu salah satu tamu yang tidak bisa menjaga pandangannya yaitu Adipati Pathak Warak. Bisikan dari setan kemudian berhasil membujuknya untuk memiliki niat buruk pada Dewi Roroyono.

Akhirnya Adipati Pathak Warak menggoda sang Dewi Roroyono dengan mengucapkan hal yang tidak senonoh dan kurang ajar. Mendngar godaan tersebut Dewi Roroyono merasa malu dan marah.

Dewi Roroyono kemudian tidak sengaja menumpahkan minuman di sebuah nampan yang berada tepat di atas Adipati Pathak Warak. Hal tersebut memicu kemarahan dari Adipati Pathak Warak dan membuatnya mengatakan dan menyumpahi berbagai macam perkataan yang kotor.

Bahkan Adipati Pathak Warak hampir saja menampar Dewi Roroyono. Setelah itu Dewi Roroyono kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menangis karena merasa sangat malu.

Kenakalan Adipati Pathak Warak tidak berhenti sampai disitu saja. Saat hari semakin malam dan sebagian besar tamu sudah pulang, kecuali tamu yang berasal dari tempat yang cukup jauh termasuk Adipati Pathak Warak.

Adipati Warak bahkan tidak bisa tidur akibat terngiang oleh kecantikan Dewi Roroyono. Bisikan dari setan membuatnya memutuskan untuk pergi menyelinap menuju ke kamar Dewi Roroyono.

Setelah itu ia kemudian membius Dewi Roroyono menggunakan ilmu sirep yang dimilikinya, kemudian ia membawa Dewi Roroyono keluar rumah melalui atap.

Ia kemudian pergi membawa Dewi Roroyono ke Mandalika yang merupakan salah satu kawasan yang ada di Kediri.

Sunan Ngerang kemudian menyadari bahwa putrinya tersebut telah hilang dan diculik oleh Adipati Pathak Warak. Kemudian beliau membuat sebuah sayembara untuk bisa menyelamatkan dan membawa putrinya tersebut kembali.

Dimana jika seorang perempuan yang bisa menyelamatkan Dewi Roroyono maka akan dijadikan sebagai saudara dari Dewi Roroyono dan anak angkat Sunan Ngerang, namun bagi siapa seorang laki-laki yang bisa menyelamatkannya maka akan dinikahkan dengan Dewi Roroyono.

Meski sudah diadakan sayembara tersebut, namun tidak ada orang yang berani untuk melawan Adipati Pathak Warak yang terkenal memiliki sifat jahat dan cukup sakti.

Satu-satunya orang yang berani pada saat itu yaitu Sunan Muria.

Saat Sunan Muria mulai berusaha mengejar Adipati Pathak Warak dan menyelamatkan Dewi Roroyono, beliau bertemu dengan Gentiri dan Kapa. Keduanya merupakan orang yang sangat menghormati Sunan Muria, sehingga mereka berdua memutuskan untuk membantu beliau dalam menyelamatkan sang Dewi Roroyono, dan meminta beliau untuk kembali ke padepokan.

Mereka mengatakan bahwa santri di padepokan lebih membutuhkan Sunan Muria dan meminta menyerahkan pengejaran tersebut kepada mereka berdua.

Baik Gentiri dan Kapa, keduanya berjanji untuk membawa pulang Dewi Roroyono dengan selamat. Sunan Muria kemudian tidak mendebat hal tersebut dan memutuskan untuk pulang ke padepokan.

Gentiri dan Kapa akhirnya berhasil menyelamatkan Dewi Roroyono dengan bantuan dari Datuk Wiku Lodhang yang terkenal dengan kesaktian yang dimilikinya.

Mereka berdua kemudian membawa dan mengembalikan Dewi Roroyono kepada Sunan Ngerang.

Sunan Muria kemudian merasa perlu untuk memastikan bahwa Dewi Roroyono sudah benar-benar diantar pulang oleh Kapa dan Gentiri kepada ayahnya yaitu Sunan Ngerang.

Namun saat dalam perjalanan, beliau justru bertemu dengan Adipati Pathak Warak yang sedang menunggang kuda, beliau kemudian berusaha untuk menghalangi Adipati Pathak Warak.

Sunan Muria kemudian bertanya kepada Adipati Pathak Warak tentang keberadaan Dewi Roroyono. Adipati Pathak Warak kemudian menjawab bahwa Dewi Roroyono sudah dibawa oleh Gentiri dan Kapa. Itulah alasan kenapa Adipati Pathak Warak berusaha untuk merebut Dewi Roroyono kembali.

Mendengar hal tersebut Sunan Muria langsung memasang kuda-kuda dan mengatakan kepada Adipati bahwa ia harus bisa mengalahkannya terlebih dahulu jika akan merebut kembali Dewi Roroyono.

Adipati yang merasa dirinya hebat dan sakti langsung segera turun dari kuda untuk meladeni Sunan Muria. Adipati Warak kemudian berusaha untuk mengeluarkan jurus cakar harimau.

Sunan Muria kemudian mengeluarkan beberapa serangan balik saja dan Adipati sudah kalah, bahkan Adipati sampai tidak bisa berdiri bahkan berjalan.

Sunan Muria yang berhasil mengalahkan Adipati Pathak Warak kemudian langsung bergegas menuju ke kediaman Sunan Ngerang di Juwana.

Sesampainya beliau di sana, beliau langsung disambut baik oleh Sunan Ngerang, karena Sunan Ngerang sudah mendengar cerita dari Kapa dan Gentiri.

Sunan Muria kemudian dijodohkan dengan Dewi Roroyono. Sedangkan Gentiri dan Kapa diberi hadiah berupa tanah yang berada di daerah Buntar. Hadiah tersebut membuat Kapa dan Gentiri menjadi kaya dan hidup berkecukupan.

Setelah Sunan Muria menikah dengan Dewi Roroyono, kini godaan setan justru datang menghampiri Gentiri dan Kapa.

Mereka ternyata juga sudah terpikat oleh kecantikan dari Dewi Roroyono, mereka juga merasa menyesal telah menghantarkan Dewi Roroyono menuju ke Sunan Ngerang, mereka menyesal telah memberikan tawaran yang terlalu baik kepada Sunan Muria.

Mereka berpendapat bahwa Sunan Muria mendapatkan Dewi Roroyono tanpa perjuangan. Hal tersebut yang membuat niat buruk mereka berdua semakin menjadi. Mereka kemudian berniat untuk merebut Dewi Roroyono yang sudah menikah dengan Snan Muria.

Mereka berdua kemudian menuju ke padepokan Sunan Muria untuk merebut Dewi Roroyono, sebelum itu mereka berdua sepakat untuk menjadikan Dewi Roroyono sebagai istri bergiliran antara mereka berdua.

Sesampainya di padepokan mereka berdua menculik dan bertarung dengan para santri Sunan Muria.

Sunan Muria kemudian menemui Gentiri, saat itu juga Gentiri berusaha untuk mengeluarkan jurusnya, namun pada saat itu juga Gentiri meninggal menemui ajalnya. Dewi Roroyono akhirnya diselamatkan dari penculikan tersebut.

Kabar kematian Gentiri kemudian tersebar luas dengan cepat. Kapa juga sudah mendengar hal tersebut, namun Kapa tidak menggubris dan tetap melaksanakan niatnya untuk menculik Dewi Roroyono.

Ia kemudian datang ke Gunung Muria di malam hari agar tidak ada yang menyadari kedatangannya.

Pada saat itu Dewi Roroyono hanya dijaga oleh beberapa santru Sunan Muria saja, karena sebagian santri termasuk Sunan Muria sedang pergi ke Demak Bintaro.

Alhasil kapa bisa dengan mudah mengalahkan seluruh santri yang menjaga Dewi Roroyono dengan cara membius mereka semua.

Kapa kemudian mengikat tangan dan kaki Dewi Roroyono agar ia tidak bisa melawan Kapa. Ia kemudian pergi Dewi Roroyono menuju ke Pulau Prapat dengan sangat mudah.

Pulau Prapat merupakan tempat tinggal dari guru Kapa yaitu Datuk Wiku Lodhang yang terkenal dengan kesaktiannya itu.

Sunan Muria bahkan tidak mendapatkan kabar penculikan istrinya itu. Namun, Sunan Muria memang berniat untuk pergi ke Pulau Prapat untuk menemui Datuk Wiku Lodhang. Dimana Sunan Muria dan Datuk Wiku Lodhang sudah bersahabat baik sejak lama meskipun berbeda agama.

Kapa sangat berharap Datuk Wiku Lodhang mau menolongnya, namun Datuk justru sangat marah pada perbuatan Kapa yang sangat tidak terpuji.

Menurut Datuk menculik istri sesorang bukanlah hal yang baik. Keduanya kemudian saling berbantah-bantahan dan bertengkar. Tidak tahan dengan perlakuan dari muridnya itu, Datuk kemudian melepaskan ikatan yang ada di tangan dan kaki sang Dewi.

Saat itu Sunan Muria sempat melihat perseteruan antara Datuk Wiku Lodhang dan Kapa, beliau juga melihat istrinya itu terikat di bagian tangan dan kakinya.

Akibat sedang beradu argumen, keduanya bahkan tidak menyadari kedatangan dari Sunan Muria. Saat Datuk melepaskan Dewi, barulah Kapa menyadari bahwa Sunan Muria sudah berada di tempat itu.

Kapa sangat terkejut dan dengan refleks langsung mengeluarkan jurus mematikan yang ia miliki. Hal tersebut justru berbalik kepada dirinya sendiri dan membuatnya menemui ajalnya saat itu juga.

Hal tersebut bisa terjadi berkat adanya perlindungan dari Allah SWT kepada Sunan Muria dan istrinya.

Sunan Muria kemudian langsung meminta maaf kepada Datuk Wiku Lodhang karena tidak sengaja membunuh muridnya itu. Sunan Muria merasa menyesal dengan perbuatannya itu.

Datuk Wiku Lodhang kemudian menjawab bahwa hal yang dilakukan Sunan Muria tidaklah salah. Datuk justru menyalahkan perbuatan dari Kapa yang sudah menculik istri Sunan Muria.

Datuk mengatakan bahwa orang yang memiliki ilmu tidak seharusnya melakukan perbuatan jahat tersebut.

Dengan langkah yang gontai, Datuk Wiku Lodhang kemudian berusaha untuk menguburkan jenazah Kapa secara layak. Setelah itu Sunan Muria dan Dewi Roroyono kembali menuju Gunung Muria.

Karomah Sunan Muria

karomah sunan muria

Sebagai Wali Allah, Sunan Muria juga diberkahi dengan karomah atau keistimewaan sebagai salah satu kekuatan dan bekal untuk berdakwah. Berikut ini karomah Sunan Muria.

1. Maling Kapa

Karomah Sunan Muria ternyata juga berguru kepada Ki Ageng Ngerang (Sunan Ngerang) bersama dengan Sunan Kudus, Adipati Pathak Warak, Kopo, dan Gentiri.

Maling Kapa merupakan istilah yang disematkan kepada Kapa karena telah menculik istri dari Sunan Muria yaitu Dewi Roroyono yang merupakan putri dari Sunan Ngerang.

Hal tersebut diketahui ketika Dewi Roroyono diculik oleh adik seperguruannya yaitu Kapa yang kemudian menyerang Sunan Muria menggunakan aji pamungkasnya.

Sunan Muria kemudian menjadikan serangan aji pamungkas milik Kapa berbalik kepadanya dan membuat Kapa meninggal.

Hal tersebut yang dinamakan dengan senjata makan tuan, dimana niat jelek pasti akan memberikan dampak yang buruk terhadap pelakunya sendiri.

Hingga saat ini, istilah Maling Kapa atau Maling Kopo masih sangat terkenal. Maling Kapa merupakan istilah kepada seorang laki-laki yang menculik wanita untuk dijadikan sebagai istrinya.

2. Guyang Cekathak

Karomah Sunan Muria kedua memiliki sebuah benda berupa pelana kuda yang beliau gunakan untuk meminta hujan saat musim kekeringan melanda.

Ritual untuk meminta hujan tersebut dinamai dengan tradisi Guyang Cekathak atau memandikan pelana kuda.

Ritual ini dilakukan dengan cara memandikan pelana kuda milik Sunan Muria yang sebelumnya diarak dari komplek Masjid Muria menuju ke mata air Sendang Rejoso.

Setelah itu pelana kuda tersebut kemudian dimandikan dengan menggunakan air dari Sendang Rejoso, kemudian air tersebut dipercikkan ke masyarakat dan dilanjutkan dengan sholat dan doa untuk meminta turun hujan.

Tradisi ini diakhiri dengan membaca doa keselamatan dan syukuran dengan cara makan bersama-sama dengan menu gulai, dawet, opor, dan sayuran.

3. Air Gentong Mujarab

Sunan Muria juga memiliki air yang beliau simpan di dalam sebuah gentong (ember air besar). Air tersebut sudah didoakan oleh beliau dan memiliki khasiat yang luar biasa. Atas izin dari Allah air ini bisa dijadikan sebagai obat jika diminum.

Air gentong tersebut dipercaya oleh masyarakat mengandung keberkahan dan bisa mengobati segala macam penyakit. Air gentong tersebut juga dipercaya bisa meningkatkan kecerdasan bagi orang yang meminumnya.

Hingga saat ini air gentong tersebut masih banyak digunakan oleh para peziarah yang datang.

Keteladanan Sifat Sunan Muria

keteladanan sunan muria

Sunan Muria dikenal memiliki sifat yang sangat baik. Sunan Muria sangat senang mengasingkan dirinya di tengah-tengah masyarakat jelata yang membuatnya lebih toleran dan peka terhadap berbagai persoalan yang ada.

Beliau juga sering memberikan solusi terhadap berbagai masalah rumit yang terjadi saat itu.

Salah satunya yaitu ketika terjadi konflik internal di Kesultanan Demak pada tahun 1518 M – 1530 M seperti yang sudah diceritakan di atas.

Dimana Sunan Muria berhasil menjadi penengah dengan memberikan solusi yang bisa diterima oleh semua pihak yang terlibat. Hal tersebut membuat Sunan Muria sangat dihargai oleh kalangan Kesultanan.

Sifat keteladanan beliau bisa terlihat dari cara beliau yang lebih memilih meninggalkan keramaian di pusat Kesultanan Demak dan lebih memilih untuk hidup di tengah masyarakat biasa.

Makam Sunan Muria

makam sunan muria

Sunan Muria dimakamkan di perbukitan daerah lereng Gunung Muria. Tepatnya yaitu Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, Jawa Tengah. Desa tersebut terletak sekitar 18 kilometer dari pusat kota Kudus.

Lokasi makam beliau berada di kawasan Masjid Muria yang berada di puncak bukit. Jadi untuk menuju ke makam tersebut kamu harus berhati-hati dan melewati sekitar 700 anak tangga.

Pada area pemakaman tersebut terdapat 17 batu nisan yang merupakan makam dari para punggawa Kesultanan Demak yang dulu mengawal Sunan Muria.

Sementara di sebelah timur terdapat makam dari putrinya yang bernama Raden Ayu Nasiki.

Di komplek makam tersebut juga terdapat makam para tokoh Islam pada waktu itu, seperti makam putra sulung Sunan Muria, dan makam Panembahan Pengulu Jogodipo.

Sampai saat ini makam beliau masih terawat dengan baik dan banyak didatangi oleh para wisatawan religi atau peziarah dari berbagai daerah di Indonesia.

Benda Peninggalan Sunan Muria

peninggalan sunan muria

Sepeninggal Sunan Muria, beliau meninggalkan berbagai benda sakral miliknya. Berikut ini beberapa peninggalan Sunan Muria.

1. Pari Joto

Pari Joto merupakan peninggalan Sunan Muria di mana buah yang terdiri dari jintan hitam atau habatussauda dan madu lebah atau An-Nahl.

Buah ini sangat baik untuk dikonsumsi oleh ibu hamil karena memiliki kandungan gizi yang sangat baik untuk kekuatan kandungan.

Pari Joto pada awalnya ditanam dan dibesarkan di sekitar rumah Sunan Muria, namun saat ini buah Pari Joto banyak ditemukan di berbagai wilayah.

Terlebih saat ini banyak juga yang mengembangkan buah ini kedalam jenis kemasan obat yang sangat mudah untuk dikonsumsi.

2. Bulusan dan Kayu Adem Ati

Saat Sunan Muria masih hidup, terdapat seekor kura-kura kecil yang dipercaya pada saat itu bahwa kura-kura kecil tersebut merupakan jelmaan dari manusia. Kura-kura kecil tersebut kemudian dikenal dengan nama bulusan.

Pada masa itu juga terdapat sebuah pohon yang bernama Kayu Adem Ati yang juga dipercaya memiliki kekuatan dan dijadikan sebagai tanaman keramat.

Bulusan dan Kayu Adem Ati pernah menghilang, lalu muncul kembali dengan sendirinya tepat di hari kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Oleh sebab itu masyarakat menganggap kedua peninggalan Sunan Muria ini sebagai dua makhluk yang sakral.

3. Pakis Haji

Pakis Haji adalah peninggalan dari Sunan Muria berjenis tumbuhan sikas yang banyak digunakan untuk mengusir hama pada tanaman padi pada masa Sunan Muria.

Bahkan hingga saat ini, Pakis Haji masih banyak digunakan oleh masyarakat terutama masyarakat Gunung Muria.

4. Pohon Jati Keramat Masin

Pohon Jati Keramat Masin ini masih bertahan hidup selama ratusan tahun sejak Sunan Muria meninggal.

Bahkan hingga saat ini tidak ada satu orangpun yang berani untuk menebang pohon jati ini, karena pohon tersebut dipercaya memiliki kekuatan yang akan berdampak pada orang yang menebangnya.

Masyarakat sekitar percaya jika pohon jati tersebut memiliki penunggu yang memiliki kekuatan sangat besar. Sehingga kekuatan tersebut mampu mencelakai orang yang berusaha untuk menebang pohon tersebut.

5. Situs Air Gentong Keramat

Situs air gentong keramat tersebut terletak di sekitar makam Sunan Muria. Dimana biasanya peziarah yang datang akan meminum dan membawa air dari gentong ini sebagai salah satu obat untu berbagai macam penyakit. Ini adalah salah satu peninggalan terakhir dari Sunan Muria.

Demikian artikel lengkap mengenai Sunan Muria, semoga artikel ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan kita terhadap penyebaran ajaran Agama Islam di Indonesia khususnya di Pulau Jawa.

Beri Konten ini 5 Bintang Dong!
[Total: 0 Average: 0]

Previous articleCara Download Status Whatsapp Dengan/Tanpa Aplikasi
Next articleSunan Kalijaga : Biografi, Metode Dakwah Karya, Karomah, Makam dan Kisahnya Lengkap

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here