Sunan Kudus : Biografi, Sejarah, Makam, Peninggalan, dan Kisahnya Lengkap

Sunan Kudus

Sunan Kudus merupakan wali keenam dari Walisongo. Ia menjadi tokoh yang sangat disegani oleh masyarakat dan membuat namanya seolah tidak bisa dihilangkan hingga sekarang.

Beliau merupakan sala seorang yang sangat berjasa dalam menyampaikan ilmu ajaran agama Islam di nusantara.

Setelah berhasil menyebarkan agama Islam di wilayah nusantara, Sunan Kudus juga meninggalkan berbagai peninggalan yang membuatnya tetap dikenang. Berikut ini info lengkap mengenai sunan kudus.

Biografi Sunan Kudus

biografi sunan kudus
Nama AsliSayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan
Tempat lahirAl-Quds, Palestina
Tanggal lahir9 September 1400 M
Tempat, tahun wafatKudus, 1550 M
Nama AyahRaden Usman Hajji (Sunan Ngudung)
Nama IstriSyarifah Dewi Rahin binti Sunan Bonang
Tempat tinggalKudus, Jawa Tengah
Dikenal atasAnggota Walisongo paling alim
GelarWaliyyul Ilmi
PekerjaanPenasehat Sultan (Sultan Demak), Panglima perang, Qadhi, Mufti, Imam besar Masjid Demak, Imam besar Masjid Kudus, Ketua Pasar Islam Walisongo, Ketua Baitulmal Wlisongo, Penanggung Jawab Pencetak Uang Walisongo.

Baca juga : Teks Biografi

Silsilah Sunan Kudus

silsilah walisongo

Sunan Kudus memiliki ayah bernama Raden Usman Hajji (Sunan Ngudung) yang merupakan anak dari Sultan Sayyid Fadhal Ali Murtazha.

Ayah dan ibu dari Sunan Kudus adalah orang Palestina yang memiliki hubungan keluarga dengan Sunan Ampel.

Sunan Kudus memiliki sepuluh anak yang juga merupakan tokoh penting di pulau Jawa, yaitu:

  1. Amir Hasan
  2. Nyai Ageng Pambayun
  3. Panembahan Kudus
  4. Amir Hamzah
  5. Ratu Pajaka
  6. Ratu Probodinalar
  7. Panembahan Makaos Honggokusumo
  8. Panembahan Jaka
  9. Panembahan Kadhi
  10. Panembahan Karimun

Selain anak-anaknya, Sunan Kudus juga memiliki cucu dan cicit yang juga menjadi tokoh atau ulama tersohor di Indonesia. Tiga diantaranya yaitu Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini, Syekh Kholil Bangkalan Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini, dan Syekh Bahruddin Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini.

Sejarah Dakwah Sunan Kudus

sejarah dakwah sunan kudus

Perjalanan Sunan Kudus dalam berdakwah dan menyampaikan ajaran agama Islam hampir sama dengan apa yang juga dilakukan oleh para wali lainnya dari Walisongo.

Dimana Sunan Kudus dalam berdakwah lebih mengutamakan kebijaksanaan dalam menentukan taktik dan siasat. Cara tersebut dilakukan karena dinilai paling sesuai untuk mengajak masyarakat mengikuti ajaran agama Islam.

Dalam berdakwah, Sunan Kudus menerapkan strategi serupa seperti Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Dimana beliau membiarkan terlebih dahulu kepercayaan yang telah ada dan tidak mengubah adat istiadat yang sudah dilakukan oleh masyarakat. Karena beliau tidak suka menggunakan jalan yang radikal atau penuh kekerasan dan memaksa masyarakat untuk memeluk ajaran Islam.

Sunan Kudus lebih memilih untuk mengikuti dari belakang setiap adat dan kelakuan masyarakat, namun juga berusaha untuk mempengaruhi dan mengubahnya sedikit demi sedikit. Cara ini disebutnya dengan Tut Wuri Handayani.

Sedangkan ia juga melakukan cara lain yaitu Tut Wuri Hangiseni, dimana ia mengiktui dari belakang namun juga sambil mengisi ajaran Islam di dalamnya. Hal ini beliau lakukan untuk menghindari terjadinya konfrontasi atau penolakan terhadap ajaran yang ia bawa.

Pada akhirnya Sunan Kudus berhasil mengubah kepercayaan dan juga adat istiadat masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Masyarakat yang sudah mengikuti ajaran agama Islam juga harus bisa berusaha untuk menarik simpati masyarakat lain agar tertarik dan mau mendekat dengan agama Islam.

Baca juga : Teks Cerita Sejarah

Metode Dakwah Sunan Kudus

metode dakwah sunan kudus

Kala itu, mayoritas rakyat Kudus memeluk ajaran agama Hindu dan Buddha. Upaya Sunan Kudus untuk mengajak masyarakat memeluk agama Islam bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi hampir semua masyarakat saat itu masih berpegang teguh dengan kepercayaan dan adat istiadat saat itu. Namun hal tersebut menjadi penyemangat bagi Sunan Kudus untuk tetap bersabar dan menjaga keteguhannya dalam berdakwah.

Suatu ketika, Sunan Kudus membeli seekor sapi dari Hindia. Sapi yang dibelinya tersebut kemudian dibawa oleh para pedagang asing dengan mengugnakan kapal besar dan akhirnya diantarkan dan ditempatkan di halaman rumah beliau.

Banyak masyarakat sekitar yang mayoritas beragama Hindu penasaran kenapa Sunan Kudus membawa sapi tersebut ke rumahnya. Karena dalam pandangan agama Hindu, sapi dianggap sebagai hewan yang suci dan dipergunakan sebagai kendaraan para dewa.

Di dalam agama Hindu sendiri menyembelih sapi merupakan suatu perbuatan dosa dan dikutuk oleh dewa. Dalam waktu sekejap saja setelah sapi tersebut sampai di halaman rumah Sunan Kudus, masyarakat sekitar baik yang beragama Hindu atau Buddha ramai mendatangi halaman rumah Sunan Kudus.

Akhirnya beliau memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan berbicara dengan masyarakat yang ramai berkumpul di halaman rumahnya itu. Beliau mengatakan bahwa rakyatnya itu tidak boleh menyakiti apalagi menyembelih sapi.

Beliau kemudian juga bercerita bahwa saat masih kecil, beliau pernah ditolong oleh seekor sapi dan diberi susu yang segar. Masyarakat yang beragama Hindu merasa sangat kagum dengan cerita Sunan Kudus tersebut. Mereka menganggap bahwa Sunan Kudus merupakan titisan Dewa Wisnu. Akhirnya dari kejadian tersebut masyarakat di sana bersedia untuk mendengarkan ceramah Sunan Kudus dengan senang hati.

Beliau kemudian menyampaikan bahwa di dalam Al-Quran juga terdapat sebuah surat khusus tentang sapi, yaitu dalam bahasa Arab surat tersebut bernama Al-Baqarah. Mendengar hal tersebut, masyarakat yang beragama Hindu semakin tertarik lagi untuk mendengarkan cerita dari beliau.

Setelah kejadian tersebut, banyak masyarakat yang merasa simpati dengan Sunan Kudus dan dengan ajaran yang dibawanya. Masyarakat Hindu kemudian banyak yang memeluk agama Islam dengan suka rela dan tanpa paksaan.

Selanjutnya beliau juga mendirikan sebuah masjid yang arsitektur bangunannya dibuat tidak jauh berbeda dengan bangunan candi.

Hal tersebut bisa dilihat pada bentuk menara Masjid Kudus. Bentuk tersebut dipilih agar masyarakat Hindu merasa akrab dan nyaman, sehingga tidak segan untuk masuk ke dalam masjid dan mendengarkan ceramah Sunan Kudus.

Perjuangan Sunan Kudus dalam Agama Islam

masjid menara kudus

Seiring berjalannya waktu, akhirnya beliau berhasil mengajak banyak Umat Hindu untuk masuk dan memeluk agama Islam dengan sikap toleransi yang tinggi. Dimana mereka tetap menghormati sapi yang dianggapnya berharga dalam agama Hindu dan juga membuat masjid yang menyerupai bangunan Candi.

Namun perjuangan Sunan Kudus tidak berhenti sampai disitu saja, beliau juga menginginkan agar Umat Buddha juga mengenal agama Islam. Ia kemudian terus berfikir dan meminta petunjuk kepada Allah.

Setelah masjid tersebut berdidi kokoh, Sunan Kudus kemudian membuat tempat wudhu dengan bentuk pancuran yang berjumlah delapan pancuran. Dimana setiap ancuran tersebut diberi arca kebo gumarang di atasnya, hal ini ia lakukan untuk menarik Umat Buddha. Karena hal tersebut sesuai dengan ajaran Buddha yakni Sanghika Marga atau jalan berlipat delapan.

Usahanya tersebut ternyata membuahkan hasil yang baik, banyak Umat Buddha yang merasa penasaran dengan pancuran delapan dengan arca kebo gumarang di atasnya. Pada akhirnya umat Buddha juga memiliki ketertarikan dengan ajaran yang dibawa oleh Sunan Kudus, dan tidak sedikit dari mereka yang pada akhirnya mau memeluk agama Islam.

Kemulusan berdakwah di atas tidak serta merta langsung terjadi begitu saja dengan mudahnya, karena dalam beberapa kisah diceritakan bahwa Sunan Kudus juga pernah mengalami kegagalan saat berdakwah menyebarkan agama Islam.

Dimana suatu ketika beliau mengundah seluruh warga untuk datang ke masjid, baik warga beragama Islam, Buddha, ataupun Hindu. Namun sebelum memasuki masjid, rakyat diharuskan untuk mencuci tangan dan juga kakinya terlebih dahulu di dalam kolam yang sudah disediakan di masjid tersebut.

Namun karena hal tersebut, banyak rakyat yang merasa malas dan kemudian enggan untuk masuk ke dalam masjid, terutama bagi rakyat beragama Hindu dan Buddha.

Beliau sangat menyesali kesalahannya tersebut, seharusnya beliau jangan terlalu mementingkan dan mengedepankan syariat wudhu terlebih dahulu.

Kemudian di lain kesempatan, beliau mencoba untuk mengundang kembali masyarakat untuk datang ke masjid tersebut. Namun kali ini beliau tidak mengharuskan mereka untuk mencuci tangan dan kakinya terlebih dahulu. Hal tersebut ternyata berhasil, banyak masyarakat yang mau datang dan masuk ke dalam masjid.

Kesempatan emas tersebut digunakan beliau untuk menyisipkan ajaran islam mengenai keimanan dan menyampaikannya dengan cara yang halus agar rakyat merasa senang.

Selain itu, Sunan Kudus juga melakukan cara yang pintar, dimana beliau akan mengakhiri ceramahnya saat orang-orang sedang serius memperhatikan dan mendengarkannya. Hal ini akan membuat orang-orang tidak bosan dengan ceramah beliau dan malah membuat mereka penasaran dengan cerita kelanjutan ceramah Sunan Kudus tersebut. Pada akhirnya mereka mau kembali mendatangi masjid tersebut dan mendengarkan ceramah Sunan Kudus, bahkan mereka berwudhu terlebih dahulu sebelum memasukinya.

Cerita Sunan Kudus yang Menentang Sesajen

Cerita Sunan Kudus yang Menentang Sesajen

Pada saat itu, masih banyak masyarakat di tanah Jawa yang melakukan kegiatan adat istiadat yang aneh dan bertentangan dengan ajaran Islam. Beberapa diantaranya yaitu seperti selamatan mitoni, mengirimkan sesaji di kuburan, dan berbagai adat lainnya.

Sebagai pendakwah, beliau sangat memperhatikan upacara ritual tersebut dan mencoba untuk mengarahkan dan merubah kebiasaan orang saat itu menjadi sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini juga pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Muria.

Misalnya saja, saat seorang istri sedang mengandung tujuh bulan, maka akan dilakukan sebuah ritual selamatan bernama mitoni. Mitoni dilakukan oleh pasangan dan beberapa orang yang hadir dengan memberikan sesaji kepada dewa dan memohon kepada dewa agar anak yang sedang dikandungnya menjadi anak yang cantik seperti Dewi Ratih atau tampan seperti Arjuna.

Beliau sangat menentang acara adat seperti itu, kemudian beliau mencoba merubah acara selamatan dengan niat untuk bersedekah pada penduduk sekitar, bukan untuk mengirim sesaji kepada dewa.

Selain itu, permintaan tersebut juga tidak ditujukan kepada dewa, namun ditujukan langsung kepada Allah. Doa didalamnya juga diganti agar mengharapkan jika anaknya laki-laki maka akan terlahir tampan seperti Nabi Yusuf, dan jika perempuan maka akan terlahir cantik seperti Maryam. Oleh karena itu, orang tua harus bisa membaca Al-Quran, terutama surat Yusuf dan surat Maryam.

Kisah Sunan Kudus

kisah sunan kudus

Setelah datang dan menetap di Indonesia, ayah dari Sunan Kudus memimpin pasukan Majapahit. Selanjutnya, ayah dari Sunan Kudus menjadi seorang Senopati Demak dan dijuluki dengan sebutan Sunan Ngudung. Namun saat terjadi peperangan, Sunan Ngudung tidak bisa bertahan dan gugur. Kedudukannya sebagai Senopati kemudian diserahkan kepada anaknya yaitu Sunan Kudus.

Menjadi seorang Senopati Demak, Sunan Kudus tetap melanjutkan dakwah Islamnya di daerah Kudus dan sekitarnya. Perjuangan dakwah dari Sunan Kudus mengedepankan cara yang halus dan juga sikap yang tenang. Cara tersebut dilakukan agar masyarakat bisa menerima ajaran Islam dengan sukarela dan tanpa paksaan.

Sunan Kudus juga dikenal sebagai orang yang suka mengembara. Bahkan terdapat sebuah cerita bahwa beliau pernah mengembara hingga ke tanah suci Mekah untuk melakukan ibadah haji.

Saat berada di tahan suci Mekah, terdapat seorang penguasa yang mencari orang utnuk bisa menghilangkan wabah penyakit dengan imbalan hadiah. Banyak ulama yang datang dan mencoba menghilangkan wabah tersebut, namun gagal.

Pada saat itu, Ja’far Shodiq datang menemui penguasa tersebut, namun kedatangannya itu tidak disambut baik oleh sang penguasa.

Beliau kemudian ditanya oleh penguasa tersebut, bagaimana cara untuk menghilangkan wabah penyakit yang ada, kemudian beliau menjawab dengan tegas bahwa doa bisa menghilangkannya. Seketika wabah tersebut menghilang dan warga kembali sembuh dengan cepat.

Ternyata, sebab gagalnya banyak ulama yaitu karena imbalan yang ditawarkan oleh sang penguasa. Dimana doa yang dibacakan tersebut menjadi tidak ikhlas dan hanya mengharapkan imbalan saja.

Setelah berhasil menghilangkan wabah tersebut. Sunan Kudus dijanjikan sebuah hadiah, namun beliau menolaknya, beliau hanya meminta sebuah batu yang berasal dari Baitul Maqdis. Kemudian batu tersebut diletakkan di Masjid Kudus, tepatnya di area imam.

Ajaran Sunan Kudus

ajaran sunan kudus

Ajaran dari Sunan Kudus hampir sama dengan berbagai ajaran dari sunan lainnya. Seperti Sunan Kalijaga yang dalam dakwahnya masih menggunakan pendekatan menggunakan tembang dan wayang.

Ajaran Sunan Kudus juga menggunakan pendekatan-pendekatan dengan ajaran yang ada saat itu.

Dalam berdakwah, Sunan Kudus sangat berhati-hati, karena pada saat itu mayoritas masyarakat masih sangat kuat menganut agama Hindu dan Buddha.

Berikut ini beberpa ajaran yang diterapkan oleh Sunan Kudus:

1. Toleransi

Ajaran pertama yang diterapkan oleh Sunan Kudus yaitu mengenai toleransi. Dimana beliau meminta agar masyarakat tidak menyembelih sapi saat hari raya Idul Adha. Hal tersebut dilakukannya karena binatang sapi dianggap suci oleh masyarakat Hindu dan Buddha pada saat itu.

Sebagai gantinya, mereka bileh menyembelih kerbau atau kambing sebagai hewan kurban.

Sikap toleransi ini menjadi kunci agar masyarakat muslim bisa hidup rukun dan berdampingan antar sesama manusia mesti berbeda keyakinan.

Selain itu hal ini juga dilakukan sebagai salah satu strategi dakwah beliau, dimana dengan begitu Umat Hindu akan menganggap baik Sunan Kudus dan mau mempelajari agama Islam.

2. Gusjigang

Sunan Kudus juga menerapkan ajaran “Gusjigang” yang mengajarkan cara hidup yang benar di dunia dan di akhirat.

Ajaran ini selalu ia sampaikan kepada semua santrinya. Gusjigang sendiri berasal dari kata “Bagus, Ngaji, dan Dagang”. Gus berarti bagus akhlaknya, Ji berarti rajin mengaji, dan Gang berarti dagang.

Ajaran ini bermaksud selain mementingkan kehidupan saat ini (duniawi), juga harus mengimbanginya dengan kehidupan yang akan datang (akhirat).

Maka tidak heran jika kota Kudus hingga saat ini memiliki perkembangan ekonomi yang sangat pesat. Hingga sampai saat ini kota tersebut masih terkenal dengan kemauan ekonominya sebagai kota kretek.

Karomah Sunan Kudus

Sebagai wali, Sunan Kudus diberikan karomah dari Allah. Berikut ini beberapa karomah Sunan Kudus.

1. Bisa Menyembuhkan Penyakit Atas Izin dari Allah

Karomah ini terjadi saat Sunan Kudus sedang menunaikan ibadah haji di tanah Arab. Pada saat itu masyarakat Arab sedang terkena sebuah wabah penyakit. Pemerintah Arab kemudian mengadakan sebuah sayembara bagi siapa yang dapat menyembuhkan dan menghilangkan wabah tersebut maka akan diberi hadiah.

Pada akhirnya Sunan Kudus yang kebetulan sedang melaksanakan ibadah Haji menyanggupi untuk menyembuhkan wabah yang sedang terjadi disana.

Atas izin dari Allah, Sunan Kudus berhasil menyembuhkan dan menghilangkan penyakit atau wabah tersebut. Maka dari itu, atas keberhasilannya Sunan Kudus diberikan hadiah atau imbalan sesuai dengan janji pemerintah Arab. Namun Sunan Kudus menolak hadiah tersebut.

Beliau lebih memilih untuk meminta sebuah batu yang berasal dari Baitul Maqdis, setelah pulang ke tanah Jawa, beliau kemudian meletakkan batu tersebut di area imam Masjid Menara Kudus.

2. Beradu Kesaktian dengan Ki Ageng Kedu

Ki Ageng Kedu sangat ingin menantang kesaktian Sunan Kudus, ia kemudian memutuskan untuk pergi ke Kudus dengan menggunakan tampah terbang miliknya.

Setelah sampai di Kudus, ia berkoar-koar untuk menantang kesaktian Sunan Kudus dengan tetap berada di atas tampah terbangnya.

Sunun Kudus kemudian keluar dari rumahnya lalu meminta Ki Ageng Kedu untuk turun dari tampah terbang tersebut. Namun permintaan Sunan Kudus itu ditolak oleh Ki Ageng Kedu.

Sunan Kudus kemudian menunjuk tampah terbang tersebut, seketika saja tampah tersebut oleng dan Ki Ageng Kedu jatuh dari tampah tersebut ke dalam comberan.

Akibat kejadian tersebut Ki Ageng Merasa kalah dengan Sunan Kudus dan memilih untuk pulang dan tidak mengganggu Sunan Kudus lagi.

3. Dibantu Tawon dan Tikus Saat Perang

Saat Sunan Kudus menjadi Senopati Kerajaan Demak, wilayah kerajaan tersebut semakin meluas hingga ke wilayah Madura di bagian timur dan wilayah Cirebon di bagian barat.

Keahlian beliau dalam strategi perang membuat kerajaan tersebut disegani oleh kerajaan lain.

Saat perang melawan pasukan Majapahit, beliau menggunakan sebuah rompi di tubuhnya, saat peperangan berlangsung keluar banyak tikus dari rompi tersebut untuk membantu beliau dalam berperang.

Tikus-tikus yang keluar dari rompi beliau bukanlah tikus biasa, mereka sangat kuat dan sakti, bahkan saat dipukul bukannya mati namun mereka malah menjadi semakin besar dan ganas. Hal tersebut membuat pasukan Majapahit lari ketakutan.

Selain itu, Sunan Kudus juga memiliki sebuah peti yang jika dibuka akan mengeluarkan banyak sekali tawon. Saat perang, pasukan Majapahit juga banyak yang mati disebabkan oleh sengatan tawon tersebut.

Hal tersebut terjadi ketika beliau perang melawan pasukan Majapahit yang dipimpin Adipati Terung. Pada akhirnya Adipati Terung menyerah dan mengaku kalah kepada Sunan Kudus.

Makam Sunan Kudus

makam sunan kudus

Sunan Kudus meninggal pada tahun 1550 M, beliau wafat dalam keadaan yang didambakan setiap umat muslim. Sunan Kudus meninggal dunia dalam keadaan sedang bersujud kepada Allah saat menjadi imam sholat subuh berjamaah di Masjid Menara Kudus.

Sunan Kudus kemudian dimakamkan di are Masjid Menara Kudus, tepatnya di sebuah pendopo di bagian belakang bangunan utama Masjid. UNtuk masuk ke area makam tersebut terdapat jalan yang khusus yang bisa dilalui, namun bisa juga dengan melewati gapura sebelah kiri Masjid Menara Kudus.

Hingga sekarang, makam Sunan Kudus banyak dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah.

Peninggalan Sunan Kudus

peninggalan sunan kudus

Setelah meninggal, Sunan Kudus meninggalkan beberapa peninggalan berharga yang sampai saat ini masih terawat dengan baik. Berikut ini beberapa peninggalan dari Sunan Kudus.

1. Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus memiliki nama resmi Al Aqsa Manarat Qudus atau yang biasa dikenal masyarakat sekitar dengan nama Al Manar. Letak masjid tersebut berada di Jl. Menara, Pejaten, Kauman, Kudus, Jawa Tengah.

Masjid ini dibuat dengan menggunakan gaya arsitektur Islam, Jawa, Hindu, dan Buddha. Sehingga dari desainnya tersebut tergambar jelas akulurasi yang terjadi pada masa Walisongo.

Meski sudah didirikan sejak tahun 1549 M, masjid ini masih kokoh berdiri karena selalu dirawat dengan baik dan dilakukan renovasi secara berkala.

Hingga saat ini masjid ini masih aktif digunakan untuk beribadah oleh masyarakat Kudus dan orang luar daerah yang niat datang untuk berziarah ke makam Sunan Kudus dan beribadah di Masjid Menara Kudus.

2. Keris Cintoko

Selain masjid, Sunan Kudus juga memiliki peninggalan berupa benda pusaka, yaitu Keris Cintoko yang sudah berusia 600 tahun dan beberapa benda pusaka lainnya.

Setiap satu tahun sekali tepatnya saat hari raya Idul Adha, diadakan ritual yang bernama menjamas atau jamasan.

Dimana ritual ini dilakukan oleh ahli pusaka dari pihak Yayasan Masjid untuk memandikan keris cintoko dan beberapa benda pusaka lainnya.

Ritual ini biasanya akan dilakukan sejak pagi hari dengan diawali pembacaan doa iftitah, tahlil, dan pembacaan ayat Al-Quran bersama. Kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sunan Kudus, lalu dilanjutkan dengan prosesi pengambilan keris cintoko dari dalam peti yang ada di area makam.

Setelah itu keris dimandikan dengan menggunakan air rendaman merang ketan hitam, lalu dibersihkan dengan menggunakan air jeruk nipi, dan kemudian dijemur di atas sekam ketan hitam.

3. Dua Tombak Sunan Kudus

Selain keris, benda pusaka lain peninggalan Sunan Kudus yaitu dua tombak. Sama halnya dengan keris cintoko, setiap tahunnya tombak ini juga diikutsertakan dalam ritual jamasan yang bertujuan untuk mengingat nilai yang terkandung di dalamnya yaitu Dapur Panimbal (Kekuasaan dan Kebijaksanaan).

4. Tembang Asmarandana

Selain peninggalan berupa bangunan masjid dan benda pusaka, peninggalan lain dari Sunan Kudus yaitu berupa seni tembang atau lagu berjudul Asmarandana.

Tembang Asmarandana berisi lirik yang berupa nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama Islam. Hingga saat ini tembang Asmarandana masih banyak diajarkan di sekolah yang ada di Jawa Tengah pada materi Bahasa Jawa.

Itulah ulasan lengkap mengenai Sunan Kudus yang merupakan salah satu wali dari Walisongo yang bertugas menyebarkan agama Islam di wilayah Kudus, Jawa Tengah. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan kalian.

Beri Konten ini 5 Bintang Dong!
[Total: 0 Average: 0]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here