Sunan Kalijaga : Biografi, Metode Dakwah Karya, Karomah, Makam dan Kisahnya Lengkap

Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga merupakan salah satu anggota Walisongo yang memiliki peran besar dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa.

Pada saat Sunan Bonang dan Sunan Giri mulai surut, Sunan Kalijaga mulai mengisi kebijakan negara. Meskipun, wali yang berasal dari Jawa ini tidak pernah menjadi ketua Walisongo.

Kiprah dari Sunan Kalijaga mulai muncul saat Raden Trenggono diangkat menjadi Sultan Demak untuk menggantikan Raja Pati Unus. Kiprahnya terus naik bahkan saat Sultan Trenggono telah wafat 1547.

Hal tersebut terjadi karena Sunan kalijaga mengajarkan Agama Islam dengan cara yang kompromistis. Dimana beliau mengajarkan Agama Islam yang tidak kaku sehingga mudah diterima oleh masyarakat pada waktu itu yang mayoritas masih menganut agama Buddha dan Hindu.

Dengan ajaran yang kompromistis tersebut, masyarakat juga bisa lebih mudah untuk menangkap ajaran agama Islam, karena sebenarnya masih banyak umat Islam saat itu yang belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah dalam ketentuan atau syariat agama.

Selain itu karena Sunan Kalijaga merupakan keturunan bangsawan Jawa dan berpenampilan njawani (menggunakan pakaian khas jawa), sehingga membuat beliau lebih cepat dikenal oleh masyarakat.

Untuk lebih lengkapnya lagi, silahkan simak ulasan dari SudutNusantara di bawah ini hingga selesai.

Biografi Sunan Kalijaga

biografi sunan kalijaga
Nama AsliRaden Mas Syahid
Nama LainLokajaya, Pangeran Tuban, Syekh Malaya, Ki Dalang Seda Brangti
Nama AyahTumenggung Wilatikta
Nama IbuDewi Nawang Arum
Tahun Lahir1450 Masehi
Tempat LahirTuban
PasanganDewi Saroh
AnakSunan Muria, Dewi Rakayuh, Dewi Sofiah
Tahun Meninggal1513 Masehi
MakamDemak

Sunan Kalijaga merupakan putra dari Tumenggung Wilatikta yang merupakan seorang Bupati Tuban dengan pasangannya yaitu Dewi Nawang Arum. Sunan Kalijaga memiliki nama kecil atau nama asli yaitu Raden Mas Syahid.

Menurut cerita, keluarga dari Sunan Kalijaga sudah memeluk agama Islam. Salah satunya yaitu kakeknya Sunan Kalijaga, Ranggalawe atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Sahur.

Namun ada juga beberapa kisah asal-usul Sunan Kalijaga dari berbagai macam versi, seperti dari Jawa, dari Arab, bahkan dari China.

1. Sunan Kalijaga Keturunan Arab

Seperti yang sudah disinggung di atas bahwa Sunan Kalijaga merupakan seorang anak dari Bupati Tuban yaitu Tumenggung Wilatikta dan ibunya bernama Dewi Nawang Arum, namun ada juga versi lain yang mengatakan bahwa ibunya adalah Dewi Retno Dumilah.

Nama kecil dari Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Menurut Babad Tuban, Sunan Kalijaga memiliki seorang kakek bernama Aria Teja, yang mana nama aslinya yaitu Syekh Abdurrahman keturunan Arab.

Singkat cerita Syekh Abdurrahman berhasil mengislamkan Adipati Tuban yang bernama Aria Dikara. Setelah itu beliau menggantikan kedudukan mertuanya sebagai Bupati Tuban dan menggunakan nama Aria Teja.

Kemudian beliau menikah dengan putri dari Aria Dikara dan memiliki putra bernama Aria Wilatikta. Sebelumnya Aria Teja telah menikah terlebih dahulu dengan putri Raja Surabaya yang bernama Aria Lembu Sura.

Dari pernikahan tersebut, Aria Teja dikaruniai seorang putri yang diberi nama Nyai Ageng Manila yang kemudian menikah dengan Sunan Ampel.

Sejalan dengan Babad Tuban, yang dikatakan oleh C.L.N. Van Den Berg dalam Le Hadhramaut et les Colonies Arabes dans I’Archipel Indien mengatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan orang Arab.

Selanjutnya H.J. De Graaf juga membenarkan Babad Tuban dan juga pandangan dari C.L.N. Van Den Berg bahwa Aria Teja memiliki garis kerturunan hingga ke Abbas bin Abdul Muthalib, yaitu paman dari Nabi Muhammad.

2. Sunan Kalijaga Keturunan China

Terdapat juga sebuah versi yang menyatakan bahwa Sunan Kalijaga merupakan keturanan dari China.

Di dalam buku kumpulan cerita lama milik Wali Demak yang ditulis oleh S. Wardi, mengatakan bahwa Sunan Kalijaga semasa kecilnya bernama Said. Beliau merupakan keturunan atau putra dari orang China yang bernama Oei Tik Too.

Singkat cerita Oei Tik Too kemudian memiliki anak dan berhasil menjadi bupati di daerah Tuban dan mengganti namanya menjadi Wirotikto. Ia memiliki anak yang bernama Oei San Ik yang pada akhirnya dipanggil dengan nama Said.

Catatan-catatan tersebut ditemukan oleh Raden Poortman sekitar tahun 1028 dari sebuah Klenteng yaitu Klenteng Sam Poo Kong yang ada di Semarang, catatan-catatan tersebut bahkan mengatakan bahwa banyak sekali tokoh-tokoh seperti raja Jawa dan para Wali pada era Kesultanan Demak yang merupakan keturunan dari China.

Di dalam catatan tersebut disebutkan bahwa sesorang yang bernama Gang Si Cang (Sunan Kalijaga) juga turut serta membuat atau mendirikan Masjid Demak.

Dengan adanya catatan tersebut memperkuat bahwa Sunan Kalijaga merupakan seorang keturunan dari China.

Slamet Muljana juga menyatakan bahwa dalam Babad Tanah Jawi, mengatakan bahwa Sunan Kalijaga saat masih muda bernama Raden Said, beliau adalah seorang putra dari Wilatikta, yaitu saudara dari Ni Gede Manila, dan jadi ipar dari Sunan Ampel.

Saat masih muda Raden Said sering berbuat kejahatan. Namun pada suatu ketika ia bertemu dengan Sunan Bonang, Raden Said kemudian bertobat dan menjadi murid dari Sunan Bonang. Beliau berhasil menjadi orang yang sangat sholeh, dan bahkan juga berhasil menjadi salah satu anggota Walisongo.

Dari uraian tersebut, Slamet Muljana menyimpulkan bahwa Sunan Ampel atau Bong Swi Hoo menikah dengan ni Gede Manila yang merupakan anak perempuan dari Gan Eng Cu, kapten China yang berada di Tuban.

Sunan Ampel merupakan ipar dari Sunan Kalijaga. Mari kita lihat apakah Kapten China Gang Eng Cu atau Arya Teja memiliki putra yang bisa diidentifikasikan dengan Sunan Kalijaga atau Raden Said.

Gan Eng Cu memang memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Gan Si Cang. Singkat cerita pada waktu itu jin Bun berhasil merobohkan Kerajaan Majapahit di tahun 1478. Kin San atau Raden Kusen yang pada waktu itu menjadi orang yang paling berkuasa di Semarang, mengangkat Gan Si Cang menjadi Kapten China.

Dalam kerja sama tersebut, Kin San akhirnya berhasil membangun kembali tempat penggergajian kayu dan juga galangan kapal di Semarang yang sudah sekian lama terbengkalai.

Lalu pada tahun 1481, atas desakan dari tukang kayu yang ada di galangan kapal tersebut, Gan Si Cang selaku Kapten China menyampaikan permohonan kepada Kin San untuk turut serta membantu pembangunan Masjid Demak.

Permohonan dan desakan tersebut kemudian diteruskan kepada Jin Bu selaku penguasa tertinggi di Demak pada saat itu. Akhirnya, Jin Bu menyetujui permohonan tersebut. Dengan demikian pembangunan Masjid Demak tersebut diselesaikan oleh para tukang kayu dari galangan kapal Semarang di bawah pimpinan dari Gan Si Cang selaku kapten China.

Saka Masjid Demak dibuat seperti konstruksi tiang kapal, dimana disusun dari kepingan-kepingan kayu yang rapi dan tepat.

Tiang yang disebut dengan tiang tatal tersebut menjadi lebih kuat menahan angin laut dibanding tiang kayu utuh biasanya. Dimana tiang tersebut dibuat atas instruksi dari Gan Si Cang sebagai kapten China di Semarang.

Dengan adanya cerita tersebut, Raden Said atau Sunan Kalijaga sewaktu mudanya bisa diidentifikasikan sebagai Gan Si Cang si kapten China Semarang, putra dari Gan Eng Cu atau Arya Teja di Tuban.

3. Sunan Kalijaga Keturunan Jawa

Sementara versi paling banyak dikenal dan dipercaya adalah versi Sunan Kalijaga keturunan asli tanah Jawa.

Sunan Kalijaga merupakan keturunan dari Arya Adikara atau Ranggalawe yang merupakan Adipati pertama pada masa pemerintahan Raden Wijaya.

Raden Wijaya sendiri memiliki tiga orang putra yang semuanya bernama Arya Teja, yaitu Arya Teja I, Arya Teja II, dan Arya Teja III.

Arya Teja III memiliki seorang putra bernama Tumenggung Wilatika yang kemudian memiliki keturunan bernama Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga.

Diceritakan bahwa Tumenggung Wilatika sudah memeluk agama Islam dan mengubah namanya menjadi Raden Sahur. Selain itu, ayah dari Tumenggung Wilatika atau Raden Sahur yaitu Arya Teja III juga sudah beragama Islam. Hal tersebut dibuktikan dari tanda yang ada di makamnya.

Sedangkan, Arya Teja I dan juga Arya Teja II masih memeluk agama Hindu, dimana pada makamnya masih terdapat tanda Siwa.

Nama Lain Sunan Kalijaga

nama lain sunan kalijaga

Selain asal-usulnya yang beragam, Sunan Kalijaga juga memiliki berbagai nama lain yang juga cukup beragam.

Dimana Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said juga dikenal dengan nama lain seperti Lokayaja, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, Raden Abdurrahman, dan juga Ki Dalang Sida Rangti.

Nama-nama di atas tentu memiliki kaitan erat dengan perjalanan hidupnya sebagai salah satu tokoh Walisongo. Simak penjelasannya di bawah ini.

1. Lokajaya

Serat Walisana dalam langgam Asmarandana Pupuh XIX mengatakan bahwa masa muda Sunan Kalijaga menggunakan nama Raden Mas Said atau Raden Said.

Saat beliau masih muda, Raden Said dikenal sebagai pemuda yang nakal. Dimana ia sangat hobi melakukan hal-hal maksiat seperti berjudi, meminum khamr, mencuri, dan beberapa maksiat lainnya. Raden Said bahkan pernah diusir oleh orangtuanya dari rumah karena mereka merasa malu dengan kelakukannya.

Namun meski sudah diusir dari rumah, kenakalannya malah semakin menjadi-jadi. Raden Said kemudian dikenal sebagai perampok yang sering melakukan aksinya di daerah Hutan Jatisari. Karena kenakalannya tersebut banyak orang yang takut menghadapinya

Kenakalannya sewaktu muda bisa dikatakan tidak lazim, bahkan ia tega membunuh orang yang melawannya. Dengan kenakalannya tersebut Raden Said kemudian dikenal dengan nama Lokajaya.

Lokajaya sendiri memiliki makna “penguasa wilayah”, karena kata loka memiliki arti tempat, daerah, atau wilayah, sedangkan kata jaya berarti menguasai atau penguasa.

Selain itu nama Lokajaya juga bisa diartikan dengan simbol-simbol yang ada pada tantrisme (sebuah ajaran pada agama Buddha dan Hindu yang mengandung nilai mistik atau magis).

Karena Lokajaya sendiri memiliki makna yang sama dengan Cakrabumi (pemimpin linkaran cakra), Wisesa Dharani (penguasa bumi), dan juga Cakrabuwana yang sering digunakan oleh para pengamal ajaran Bhairawa-Tantra atau Tantrisme.

2. Syekh Malaya

Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said juga dikenal dengan nama Syekh Malaya. Nama Syekh Malaya sendiri berkaitan dengan pendapat bahwa beliau merupakan putra dari Tumenggung Melayakusuma.

Tumenggung Melayakusuma sendiri adalah orang asing yang datang dari Negeri Atas Angin ke Tanah Jawa yang kemudian diangkat menjadi Bupati Tuban oleh Sri Prabu Brawijaya, yang kemudian mengganti namanya menjadi Tumenggung Wilatikta.

Penyebutan Negeri “Atas Angin” sendiri ternyata merupakan salah ucap dari “Atta Anggin” yang memiliki arti kehilangan semua anggota tubuhnya (Rahu) yang berhubungan dengan Bhairawa-Tantra atau ajaran tantrisme.

Keterkaitan simbol-simbol tantrisme nampaknya berkaitan dengan guru spiritualnya yaitu Sunan Bonang. Dimana sewaktu Sunan Bonang berdakwah di daerah Kediri berhadapan langsung dengan para tokoh Bhairawa-Tantra yang mencoba untuk menghalangi dakwahnya.

3. Ki Dalang Seda Brangti

Sunan Kalijaga dikenal dengan seorang wali yang menyebarkan ajaran agama Islam dengan menggunakan pertunjukkan tari topeng, wayang, dan juga barongan dengan cara berkeliling dari suatu daerah ke daerah lainnya.

Dengan metode dakwahnya tersebut, Sunan Kalijaga kemudian juga dikenal dengan nama Ki Dalang Seda Brangti. Dimana hal tersebut digambarkan dalam Babad Tanah Tjirebon di langgam Kinanthi.

Selama berdakwah dengan cara tersebut, Sunan Kalijaga atau Ki Dalang Brangti berkeliling dari daerah Pajajaran hingga ke Majapahit.

Terdapat sebuah keunikan dari pertunjukkan Ki Dalang Brangti, dimana masyarakat yang menonton tidak membayar menggunakan uang, melainkan cukup dengan membaca dua kalimat syahadat.

Sehingga dengan cara tersebut banyak orang yang masuk dan memeluk agama Islam, dengan begitu agama Islam berkembang sangat pesat pada waktu itu.

Kehidupan Raden Syahid Sebelum Menjadi Sunan

masa muda sunan kalijaga

Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said terlahir dari keluarga bangsawan atau ningrat pada saat itu, selain itu kedua orang tuanya juga sudah memeluk agama Islam. Dari keluarga tersebut beliau tidak pernah merasa kekurangan suatu apapun.

Namun hingga suatu ketika Raden Mas Syahid merasa sangat sedih melihat kehidupan rakyat di Tuban saat itu, dimana sebagian besar rakyat Tuban masih tergolong masyarakat menengah ke bawah.

Akhirnya beliau memiliki inisiatif untuk mengambil atau mencuri harta dari orang tuanya yang kemudian beliau bagikan kepada masyarakat miskin di wilayah tersebut.

Lama-lama perbuatan Raden Mas Said diketahui oleh kedua orang tuanya. Karena keluarganya merasa malu akan perbuatan Raden Said, beliau kemudian diusir dari rumah tersebut.

Pada akhirnya beliau meninggalkan rumah orang tuanya itu dan menjadi perampok yang sangat ditakuti di wilayah tersebut. Bahkan beliau sampai mendapatkan gelar Lokajaya (penguasa daerah).

Namun tujuan beliau masih sama, dimana beliau merampok harta orang yang kaya untuk dibagikan kepada para orang miskin.

Setelah meninggalkan daerah Tuban, beliau kemudian tinggal di sebuah hutan yang angker, hutan tersebut berada di daerah Jatiwangi.

Di hutan tersebut Raden Mas Said kemudian menggunakan nama Lokajaya dan melakukan aksinya untuk merampok orang kaya yang lewat di daerah tersebut, ia bahkan tidak segan-segan untuk membunuh dan melukai korbannya.

Suatu ketika di hutan tersebut lewatlah seorang yang menggunakan pakaian serba putih dan membawa sebuah tongkat dengan gagang yang berkilau seperti emas.

Melihat hal tersebut Lokajaya berniat untuk melakukan aksinya dengan merampas tongkat emas tersebut, namun saat ia mengambil tongkat tersebut orang tua itu kemudian terjatuh.

Tanpa mengeluarkan suara apapun orang itu kemudian menangis dan terbangun dengan susah payah. Sedangkan, Lokajaya malah sibuk mengamati tongkat yang ia rampas tersebut, dan ternyata tongkat tersebut bukan terbuat dari emas.

Lokajaya kemudian mengembalikan tongkat tersebut, orang berbaju putih yang terjatuh tersebut kemudian berkata “Bukan tongkat tersebut yang membuatku menangis”, ia kemudian menunjukkan beberapa helai rumput yang ada di telapak tangannya “Lihatlah ini, aku sudah melakukan dosa, rumput-rumput ini tercabut saat aku terjatuh tadi”.

Haa dosa katamu? itu hanya beberapa helai rumput saja” sahut Lokajaya keheranan.

Orang itu kemudian menjawab “Iya!, memang berdosa! karena saya mencabutnya tanpa suatu tujuan. Jika itu untuk makan ternak maka tidak apa-apa, namun kalau hanya sebuah hal yang sia-sia itu sungguh berdosa!

Kejadian tersebutlah yang menjadi awal mula terjadinya percakapan antara Lokajaya dan sesorang yang menggunakan baju putih dan membawa tongkat tersebut. Setelah mendengar apa yang diceritakan oleh Lokajaya yang merampok dengan tujuan untuk membantu rakyat kecil, orang tua berbaju putih yang ternyata adalah Sunan Bonang kemudian memberikan sebuah perumpamaan.

Perumpamaan tersebut yaitu “Ibarat mencuci pakaian kotor dengan menggunakan air kencing, maka hanya akan menambah kotor dan bau pakaian itu saja.”

Dari perumpamaan tersebut bisa disimpulkan bahwa perbuatan Lokajaya tersebut merupakan perbuatan yang sia-sia dan hanya akan menambah dosa saja.

Lokajaya kemudian merasa tersentak dan tersentuh oleh apa yang dikatakan oleh Sunan Bonang.

Setelah selesai berbincang Sunan Bonang kemudian menunjuk sebuah pohon aren dengan tongkatnya tersebut, seketika biji buah aren tersebut menjadi emas. Kemudian Sunan Bonang berkata bahwa biji emas tersebut halal untuk diambil, dan Lokajaya boleh mengambil seberapa banyak yang ia inginkan.

Lokajaya semakin dibuat terpana dengan keajaiban tersebut. Ia kemudian bertobat dan ingin menjadi pengikut atau murid dari Sunan Bonang.

Sunan Bonang kemudian menitipkan tongkat tersebut yang ditancapkan di pinggir kali (sungai) kepada Raden Mas Said, dan tidak boleh meninggalkannya sebelum Sunan Bonang kembali.

Hingga kurang lebih selama 3 tahun Raden Mas Said menjaga tongkat tersebut hingga kemudian Sunan Bonang datang menemuinya. Pada saat itu Raden Mas Said sudah berubah menjadi seorang pertapa yang ditumbuhi lumut dan rumput di tubuhnya, bahkan terdapat sarang burung di tubuhnya itu.

Sunan Bonang kemudian membangunkan Raden Mas Said dari pertapanya dan mengajaknya untuk pergi ke Tuban dan belajar agama Islam lebih dalam lagi.

Kejadian tersebut juga yang membuat Raden Mas Syaid mendapatkan gelar Sunan Kalijaga. Dimana Kalijaga berasal dari kata Kali dan Jaga, kali berarti sungai dan jaga berarti menjaga.

Keturunan Sunan Kalijaga

keturunan sunan kalijaga

Sunan Kalijaga menikah dengan seorang wanita bernama Dewi Saroh binti Maulana Ishak. Dari pernikahan tersebut, Sunan Kalijaga dikaruniai 3 orang anak yaitu Raden Umar said, Rawi Rakayuh, dan Dewi Sofiah.

Dari ketiga anaknya tersebut, terdapat salah satu anak laki-laki yang juga menjadi salah satu tokoh Walisongo, yaitu Raden Umar Said atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Muria.

Selain itu, ayah dari istri Raden Mas Said yaitu Maulana Ishak juga memiliki seorang putra yang juga merupakan anggota Walisongo, yaitu Sunan Giri. Dimana Sunan Giri dan Dewi Saroh adalah kak beradik, keluarga mereka juga sangat berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di Jawa.

Metode Dakwah Sunan Kalijaga

metode dakwah sunan kalijaga

Metode dakwah atau ajaran Sunan Kalijaga memiliki sifat yang kompromistis terhadap nilai-nilai pada agama dan budaya terdahulu.

Dimana ajaran tersebut mirip dengan metode yang digunakan oleh Sunan Kudus dan Sunan Bonang. Dengan ajaran tersebut beliau berhasil mengislamkan banyak masyarakat di Pulau Jawa.

Sunan Kalijaga biasanya menyebarkan agama Islam dengan menggunakan metode kesenian seperti nyanyian, tarian, dan wayang.

Namun dari metode atau ajaran tersebut, telah melahirkan berbagai aliran Islam yang jika ditinjau dari kemurnian ajarannya terdapat Islam Murni dan juga Islam Kejawen. Bahkan ada juga yang bahkan menerapkan atau melakukan hal-hal yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Berikut ini beberapa ajaran metode dakwah dari Sunan Kalijaga.

1. Menggunakan Wayang Kulit

Salah satu metode dakwah yang paling dikenal dan paling banyak diketahui adalah dengan menggunakan wayang kulit.

Dimana cerita yang disajikan oleh Sunan Kalijaga berupa cerita wayang yang memang sebelumnya sudah ada, cerita tersebut diambil dari kisah Mahabharata dan Ramayana yang menjadi kisah pewayangan terkenal dari India atau Umat Hindu.

Namun, Sunan Kalijaga merubah bentuk wayang tersebut agar tidak menyerupai wujud manusia. Karena di dalam Islam tidak diperkenankan membuat patung atau menggambar sesuatu yang menyerupai manusia.

Dalam cerita pewayangan yang dibawakan oleh Ki Dalang Seda Brangti atau Sunan Kalijaga, beliau menambahkan berbagai unsur atau nilai-nilai yang ada di dalam ajaran Agama Islam pada setiap cerita yang beliau bewakan.

Contohnya:

  • Jimat Kalimasada yang dimaksud oleh beliau adalah kalimat Syahadat dalam ajaran Agama Islam.
  • Adanya tokoh Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) yang memiliki keampuhan melebihi para dewa namun tetap rendah hati dan juga bersahaja.

Dengan ajaran menggunakan wayang kulit ini, perkembangan Islam pada saat itu semakin pesat dan mudah diterima oleh masyarakat.

2. Menggunakan Nyanyian atau Kidung

Selain menggunakan metode penampilan wayang kulit, Sunan Kalijaga juga menggunakan metode dakwah kesenian lainnya yaitu melalui nyanyian atau dalam bahasa Jawa disebut dengan kidung.

Dimana disetiap kidung atau lagu yang Sunan Kalijaga ciptakan, terdapat pesan atau ajaran Islam yang disiratkan di dalam nyanyian tersebut.

Salah satu contoh Kidung Sunan Kalijaga adalah:

Yen kali ilang kedung
Yen pasir ilang kumandange
Yen wong wadon ilang wirange
Mongko enggal-enggalo topo lelono njajah deso milangkori
Ojo bali sakdurunge patang sasi
Mengko entuk pawisik seko gusti

Arti kidung di atas adalah:

Jika sungai sudah kering
Jika pasar hilang gaungnya
Jika wanita hilang rasa malunya
Maka capat-cepatlah berkelana dari desa ke desa
Jangan pulang sebelum empat bulan
Maka akan mendapatkan petunjuk dari Allah SWT

Makna dari Kidung tersebut:

Yen kali ilang kedung / jika sungai sudah kering memiliki makna jika ulama atau ahli agama sudah wafat satu persatu, hal tersebut merupakan sebuah tanda ilmu sudah dicabut dari bumi. Dimana akan terjadi adanya pemimpin yang memimpin tanpa ilmu yang nantinya setiap nasehat atau keputusannya tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Yen pasar ilang kumandange / jika pasar hilang gaungnya bermakna jika perdagangan sudah tidak tawar menawar lagi antara penjual dan pembeli, maka hubungan sosial yang ada di muka bumi ini sudah hilang.

Yen wong wadon ilang wirange / Jika wanita hilang rasa malunya bermakna jika wanita sudah tidak memiliki rasa malu, maka rusaklah tatanan masyarakat yang ada. Karena wanita memiliki peran yang penting dalam mendidik anak-anak sebagai generasi masa depan.

Mongko enggal-enggalo topo lelono njajah deso milangkori / maka cepat-cepatlah berkelana dari desa ke desa lain memiliki makna maka belajarlah dengan cara yang sungguh-sungguh dengan memahami, mempelajari, dan mempraktekkan ajaran Islam dengan baik dan benar.

Ojo bali sakdurunge patang sasi / jangan pulang sebelum empat bulan memiliki makna jangan pulang sebelum kamu benar-benar mendalami ajaran Islam tersebut.

Mengko entuk pawisik seko gusti / maka akan mendapatkan petunjuk dari Allah memiliki makna agar mendapatkan hidayah, petunjuk, atau ilham dari Allah SWT kamu harus melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Banyak sekali pesan-pesan dan ajaran Islam yang terkandung di setiap kidung atau lagu yang Sunan Kalijaga ciptakan. Hingga sekarang salah satu kidung yang masih sering diperdengarkan adalah “Kidung Rumekso Ing Wengi”

3. Shalat Da’im

Sunan Kalijaga juga memberikan sebuah ajaran dalam metode dakwahnya yang dinamakan dengan Shalat Da’im.

Shalat Da’im berasal dari bahasa Arab, dimana Da’iim berarti terus-menerus atau selamanya (daa-iman).

Jadi Shalat Da’im adalah shalat yang dilakukan secara terus-menerus tanpa putus. Dimana Sunan Kalijaga mengambilnya dari Al-Quran surah Al Ma’arij ayat ke 23.

yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya secara terus-menerus (daa-imun)” (QS Al-Ma’arij ayat 23).

Namun arti sebenarnya dari ajaran Shalat Daim Sunan Kalijaga adalah dengan berdzikir kepada Allah SWT secara terus-menerus hingga akhir hayat.

Sholat Daim yang dilakukan dan diajarkan oleh Sunan Kalijaga yaitu dengan cara duduk, diam, berdzikir kepada Allah SWT, dan berusaha untuk mengalahkan hawa nafsunya sendiri.

Namun sayangnya, pengembangan dari aliran atau ajaran Islam saat ini Shalat Daim sering disalah artikan.

Dimana sebagian masyarakat Jawa yang menganut aliran Islam Kejawen beranggapan bahwa yang paling penting adalah selalu mengingat Allah dan percaya bahwa Allah itu ada dan sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Bukan mengenai syariat dan kewajiban apapun yang ada di dalamnya termasuk Sholat.

Kelompok tersebut beranggapan bahwa yang diajarkan Sunan Kalijaga mengena Shalat Daim tersebut adalah syarat yang praktis.

Dimana kelompok tersebut berpendapat bahwa ajaran Shalat Daim yaitu hanya dengan mengucapkan syahadat saja “laa ilaaha ilaallah muhammadur rosululloh“, dan tanpa melakukan ibadah apapun lagi seperti Shalat, Puasa, Zakat, dan lain sebagainya.

4. Membuat Mantra Betuah

Pada saat itu Agama Islam cukup sulit dipelajari oleh masyarakat, karena segala sesuatu yang diucapkan menggunakan Bahasa Arab. Oleh karena itu kemudian Sunan Kalijaga membuat sebuah mantra dengan menggunakan Bahasa Jawa agar mudah dipahami dan dimengerti oleh masyarakat.

Penggunaan istilah mantra sendiri ternyata masih terpengaruh dengan ajaran agama lama. Namun dengan begitu mantra lebih menarik perhatian masyarakat selain maknanya yang mudah untuk dimengerti. Selain itu banyak juga anggapan dari masyarakat saat itu bahwa Bahasa Jawa tidak kalah baik dari Bahasa Arab.

Salah satu mantra ciptaan Sunan Kalijaga yang paling banyak dikenal adalah Mantra Bertuah. Dimana mantra ini diawali dengan basmallah dan diakhiri dengan illa.

Mantra tersebut sebenarnya adalah sebuah doa, namun dikemas atau ditulis dengan menggunakan Bahasa Jawa untuk menghindari kesalahan dalam penulisan Bahasa Arab.

Teks Mantra Bertuah yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga memang terkesan bukan seperti doa pada ajaran Islam, namun memiliki arti yang sama. Selain itu pada waktu itu masyarakat juga lebih mudah untuk menerima dan mengerti mantra semacam itu daripada harus membaca doa berbahasa Arab.

Bahkan hingga saat ini, masih banyak guru spiritual di daerah jawa yang menggunakan metode yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga tersebut. Dimana mereka menggunakan bahasa Jawa dalam berdoa.

Tidak sedikit juga Masjid-masjid di pulau Jawa yang saat khutbah jumat juga menggunakan bahasa Jawa.

Namun kita tentu harus berhati-hati dengan mantra-mantra dalam bahasa Jawa tersebut, karena tidak semua mantra dalam bahasa Jawa mengajarkan ajaran Islam. Bahkan banyak juga dukun atau aliran sesat lain yang mencoba menggunakan mantra-mantra tersebut agar banyak orang yang percaya dengannya.

Pertemuan Sunan Kalijaga dengan Sunan Gunung Jati

pertemuan sunan kalijaga dan sunan gunung jati

Pernah suatu ketika Sunan Kalijaga pergi ke Palembang dan berguru dengan Syekh Sutabaris. Namun, keberadaan Sunan Kalijaga di daerah tersebut tidak meninggalkan catatan tertulis.

Menurut cerita, Sunan Kalijaga bisa berada di daerah tersebut karena ingin menyusul gurunya yaitu Sunan Bonang yang akan pergi ke Makkah.

Namun oleh Syekh Maulana Al-Maghribi, Sunan Kalijaga diutus untuk kembali ke pulau Jawa lagi.

Babad Cirebon menuliskan bahwa Sunan Kalijaga sempat menetap di kota Cirebon selama beberapa tahun, tepatnya yaitu di sebuah Desa bernama Desa Kaliaga.

Disitu diceritakan bahwa saat pertama kali Sunan Kalijaga datang di Cirebon, beliau tidak menjelaskan bahwa beliau adalah seorang wali. Namun beliau lebih memilih untuk bekerja atau bertugas membersihkan Masjid.

Di daerah tersebut kemudian beliau bertemu dengan Sunan Gunung Jati.

Karya Sunan Kalijaga

karya sunan kalijaga

Selain mendapatkan gelar sebagai seorang wali, beliau juga mendapatkan berbagai julukan lain yaitu seniman atau budayawan.

Hal tersebut terjadi karena beliaulah yang pertama kali menciptakan seni ukur, seni suara, seni pakaian, wayang kulit, seni musik, dan lain sebagainya.

Beliau menciptakan beberapa tembang seperti Dandang Gula dan berbagai tembang lainnya. Dimana tembang-tembang tersebut memiliki nilai atau ajaran Islam di dalam liriknya.

Sunan Kalijaga juga menjadi orang pertama yang mengajarkan seni ukir pada kala itu, dimana beliau menciptakan ukuran dengan motif dedaunan atau tumbuhan.

Sebelum era Sunan Kalijaga, seni ukir lebih dominan menggambarkan manusia atau hewan.

Selain itu Sunan Kalijaga ternyata juga menjadi orang pertama yang mempelopori dibuatnya Bedug di sebuah Masjid.

Dimana saat itu Sunan Kalijaga mengutus santrinya yaitu Sunan Bajat untuk membuat sebuah bedug di sebuah Masjid yang ada di Semarang. Bedug tersebut berguna sebagai alat panggilan agar masyarakat sekitar datang ke masjid untuk melaksanakan Sholat berjamaah. Dimana bedug biasanya akan dipukul terlebih dahulu sebelum adzan dikumandangkan.

Selain itu Sunan Kalijaga juga memprakarsai sebuah acara ritual besar yang dinamakan dengan grebeg maulud atau grebeg maulid.

Awal mula dari kegiatan ini adalah sebuah tabligh akbar atau pengajian yang diselenggarakan oleh para wali di sebuah masjid yang ada di Demak dalam rangka untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bahkan hingga saat ini tradisi tersebut masih banyak dilakukan oleh berbagai kelompok muslim yang ada di Indonesia.

Karomah Sunan Kalijaga

karomah sunan kalijaga

Sebagai wali, Sunan Kalijaga juga diberikan Karomah dari Allah SWT. Sunan Kalijaga sendiri dikenal sebagai wali yang memiliki kesaktian luar biasa. Berikut ini beberapa karomah Sunan Kalijaga.

1. Sunan Kalijaga Bisa Merubah Biji Besi Menjadi Sebesar Gunung

Salah satu karomah dari Sunan Kalijaga adalah mengubah biji besi menjadi sebesar gunung.

Hal ini terjadi ketika Sunan Kalijaga diminta untuk membawakan besi sebagai bahan yang akan dijadikan keris oleh Empu Supo.

Namun Empu Supo memarahi Sunan Kalijaga karena biji besi yang dibawanya hanya sebesar klungsu (biji asam), kemudian Sunan Kalijaga mengubah biji besi tersebut menjadi sebesar gunung sehingga membuat Empu Supo merasa kerepotan.

Dari kejadian tersebut Empu Supo kemudian membuat sebuah keris yang ampuh dari biji besi yang dibawa Sunan Kalijaga itu.

2. Sunan Kalijaga Mempunyai Baju Takwa Peninggalan Rasulullah

Sunan Kalijaga ternyata memiliki sebuah pakaian atau Baju Takwa yang bernama Kiai Antakusuma sebagai hadiah peninggalan dari Muhammad SAW.

Baju tersebut bisa berubah-ubah warna sesuai dengan kesukaan yang memandangnya. Ini merupakan karomah dari Sunan Kalijaga.

3. Sunan Kalijaga Bisa Bertemu Nabi Khidir

Atas kehendak dari Allah SWT, Karomah Sunan Kalijaga bisa bertemu dan berguru dengan Nabi Khidir.

Dimana beliau bertemu di Lilmat Agaib yang menjelma menjadi anak kecil dan memberikan wejangan atau nasehat mengenai nafsu lawwamah, sufiah, amarah, dan muthmainnah.

4. Sunan Kalijaga Bisa Menghidupkan Ikan yang Tinggal Tulang dan Duri

Atas kehendak dari Sang Ilahi, Karomah Sunan Kalijaga bisa menghidupkan kembali ikan gurameh yang hanya tersisa tulang dan durinya saja. Dimana daging dari ikan tersebut sudah dimakan.

5. Sunan Kalijaga Bisa Menghidupkan Ayam Tukung

Selain menghidupkan ikan yang hanya tersisa tulangnya saja, atas kehendak Allah, Karomah Sunan Kalijaga juga bisa menghidupkan kembali ayam tukung.

Ayam tukung adalah ayam panggang yang sudah tidak ada brutunya.

6. Sunan Kalijaga Mampu Merubah Tanah Menjadi Emas

Pada suatu cerita saat Ki Pandanaran I sedang merasa sedih karena putri kesayangannya yang berparas cantik menderita sakit lumpuh.

Segala ikhtiar sudah dilakukan Ki Pandanaran I, namun putrinya tersebut masih belum bisa berjalan kembali. Oleh sebab itu, Ki Pandanaran kemudian bernazar, jika sesorang mampu menyembuhkan putrinya, jika ia laki-laki maka akan dijadikan sebagai istri dari putrinya tersebut, namun jika ia perempuan maka akan diangkat sebagai anak.

Setelah itu Sunan Kalijaga memberitahukan kepada Ki Pandanaran I bahwa di Gunung Gede ada sesorang bernama Ranawijaya yang pandai mengobati.

Setelah itu Ki Pandanaran I meminta Ranawijaya untuk datang ke Kadipaten dan menyembuhkan sang putri. Ternyata, Ranawijaya berhasil menyembuhkan putri kesayangan Ki Pandanaran I dan diambil sebagai menantunya.

Singkat cerita setelah Ki Pandanaran I meninggal, Ranawijaya kemudian menggantikannya dengan gelar Ki Pandanaran II. Daerah tersebut berhasil menjadi daerah yang makmur dan perkembangannya sangat pesat, termasuk juga perkembangan agama Islam yang sangat cepat.

Namun sayangnya, Ki Pandanaran II atau Ranawijaya kemudian menjadi orang yang sombong dan serakah.

Mengetahui hal tersebut, Sunan Kalijaga kemudian datang dan menyamar sebagai penjual rumput. Saat sedang melakukan tawar menawar, Sunan Kalijaga selalu memberi peringatan kepada Ki Pandanaran II yang sudah mulai menyimpang dari ajaran Islam.

Setelah berkali-kali memberi peringatan, Ki Pandanaran II tidak menggubrisnya. Pada akhirnya, Sunan Kalijaga menunjukkan kesaktiannya, dimana beliau mencangkul sepetak tanah dan setiap tanah yang dicangkulnya tersebut kemudian berubah menjadi bongkahan emas dan diberikan kepada Ki Pandanaran II.

Ki Pandanaran II merasa heran terhadap kesaktian yang dimiliki oleh penjual rumput itu. Namun ternyata si penjual rumput tersebut adalah Sunan Kalijaga, melihatnya Ki Pandanaran II langsung bersujud dan bertobat dihadapan beliau.

Selain itu Ki Pandanaran II juga bersedia untuk mengundurkan diri dari Adipati dan lebih memilih untuk belajar kepada Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga kemudian menyanggupi keinginan dari Ki Pandanaran II, dengan syarat melakukan perjalanan dari Semarang ke Gunung Jabalkat tanpa membawa harta benda.

7. Sunan Kalijaga Mampu Bertapa Selama Bertahun-tahun

Hal tersebut terjadi saat Sunan Kalijaga diutus oleh Sunan Bonang untuk menjaga tongkatnya yang ditancapkan di pinggir kali (sungai), dimana Sunan Kalijaga tidak boleh pergi sebelum Sunan Bonang kembali.

Namun Sunan Bonang melupakan bahwa beliau menitipkan tongkatnya tersebut kepada Sunan Kalijaga, beliau baru teringat setelah kurang lebih 3 tahun.

Sunan Bonang kemudian mengunjungi Sunan Kalijaga dan tongkatnya itu, sesampainya disana Sunan Kalijaga sedang bertapa dengan tubuh yang sudah dipenuhi oleh lumut dan rerumputan, bahkan ada sarang burung di tubuhnya itu.

8. Sunan Kalijaga Memiliki Ilmu Malih Rupa

Dikisahkan si sebuah pinggiran hutan yang cukup lebat, Sunan Kalijaga sedang melakukan perjalanan dakwah Islam, beliau kemudian dihadang oleh sekelompok perampok yang sudah sangat terkenal kekejamannya.

Dengan polosnya Syekh Malaya mengatakan bahwa ia tidak memiliki harta benda yang dibawa. Meski begitu, pemimpin dari perampok tersebut tidak mempercayainya. Dengan garangnya ia kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menggeledah Sunan Kalijaga.

Mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan, Sunan Kalijaga hanya tersenyum. Beliau hanya berniat untuk memberikan sebuah pelajaran bagi perampok tersebut agar kembali ke jalan yang benar.

Ketika para perampok tersebut mulai mendekat, dengan tenang Raden Mas Said mengibaskan kain panjang yang tersampir di pundaknya (sorban). Kibasan tersebut ternyata mampu membuat perampok tersebut berjatuhan.

Melihat kejadian tersebut, sang pemimpin perampok yaitu Ki Jagahana langsung memasang kuda-kuda dan bersiap untuk menyerang Sunan Kalijaga dengan menggunakan pedangnya.

Dengan gerakannya yang cepat, ia kemudian mendekati Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga kemudian merapalkan ilmu malih rupa. Setelah merapalkan ilmu tersebut tubuh Sunan Kalijaga telah berada tidak jauh dari Ki Jagahana.

Ki Jagahana yang sudah sangat marah kemudian berteriak dengan keras dan langsung menyabetkan pedang tersebut ke tubuh Sunan Kalijaga.

Anehnya Kanjeng Sunan Kalijaga tidak menghindar, secara otomatis pedang tersebut menghantam tubuh Sunan Kalijaga.

Melihat hal tersebut pengikut Sunan Kalijaga merasa tidak terima dan dengan ganas langsung melompat dan menghampiri Ki Jagahana. Namun saat sedang melompat salah satu tangan milik Sunan Kalijaga yang halus menahan gerak muridnya tersebut.

Belum sempat berkata, dengan penuh wibawa Sunan Kalijaga berkata “Tidak usah panik, yang diserang hanyalah sebuah pohon asam, bukan tubuhku!”

Setelah itu Ki Jagahana terus menebaskan pedangnya ke tubuh Sunan Kalijaga dengan membabi buta.

Karena tubuh yang ditebasnya tersebut tidak kunjung roboh, akhirnya pemimpin perampok tersebut kehabisan tenaganya.

Setelah itu Sunan Kalijaga muali mencabut ilmunya tersebut, dimana pohon asam itu mulai terlihat, Ki Jagahana hanya bisa melihatnya dengan terkejut dan malu.

Akhirnya pemimpin perampok tersebut menyerah dan memilih untuk tobat dan memeluk ajaran agama Islam.

Kisah Sunan Kalijaga dan Kera Merah Putih

sunan kalijaga dan kera merah putih

Diceritakan pada suatu dini hari menjelang waktu subuh, Sunan Kalijaga sedang melintas dari wilayah Demak menuju ke arah selatan hingga sampai ke hutan Gunung Pati.

Sesampainya di tepi hutan Gunung Pati, Sunan Kalijaga kemudian berjalan ke arah timur untuk masuk ke dalam hutan tersebut.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh, Sunan Kalijaga sampai ke sebuah gua yang menjadi isyarat untuk melakukan meditasi. Mulut gua tersebut berbentuk landai dan di kelilingi dengan air jernih serta irama bunyi dari kera-kera yang bergelantungan di pepohonan sekitar gua tersebut.

Gua dan suasana yang dilihat Sunan Kalijaga kala itu sangat persis dengan gambaran yang diungkap oleh pertapa Cemara Tunggal.

Melihat kejadian tersebut Sunan Kalijaga sempat terpana, beliau kemudian berjongkok di atas sebuah bebatuan yang cukup terjal sambil membasuh mukanya dengan menggunakan air jernih.

Wajah Sunan Kalijaga kala itu dipenuhi dengan keringat dan juga peluh yang disebabkan oleh perjalanan tersebut. Setelah mencuci muka menggunakan air dari gua yang sangat jernih tersebut, perlahan wajah Sunan Kalijaga terlihat segar kembali.

Sunan Kalijaga kemudian berdzikir dengan posisi kedua telapak tangan yang menengadah ke atas. Sunan Kalijaga berdoa kepada Allah SWT agar kera-kera yang menghuni gua tersebut tidak mengganggunya dan tunduk kepada beliau.

Setelah selesai berdoa, tiba-tiba badan beliau terhempas cukup keras ke belakang. Suara dari para kera raksasa kemudian memecah keheningan pada gua tersebut. Pasukan kera-kera besar itu ternyata merasa terganggu dengan kehadiran Sunan Kalijaga.

Kera-kera tersebut kemudian turun dari pepohonan dan langsung menuju ke arah Sunan Kalijaga. Para kera tersebut tiba-tiba bersimpuh di hadapan Sunan Kalijaga layaknya seorang manusia.

Keajaiban muncul, dimana para kera yang biasanya akan marah dengan kehadiran manusia di tempat tinggal mereka, tiba-tiba saja tunduk kepada Sunan Kalijaga dan siap untuk menunggu perintah dari Sunan.

Sunan Kalijaga tentu saja tercengang melihat hal tersebut bisa terjadi di hadapannya. Mana mungkin kera-kera tersebut bisa tunduk dan berbicara dengannya.

Baru kali itu Sunan Kalijaga melihat kera bisa berbicara dan bertingkah seperti manusia.

Ilmu yang Dimiliki Sunan Kalijaga

ilmu sunan kalijaga

Sunan Kalijaga memiliki berbagai ilmu yang beliau dapatkan dari Sunan Bonang. Berikut ini beberapa ilmu yang dimiliki oleh Sunan Kalijaga.

  1. Aji Kungkum
    Aji Kungkum merupakan sebuah ilmu yang dimiliki oleh Sunan Kalijaga. Ilmu ini berupa ajian silat secara gaib yang digunakan sebagai perlindungan atau keselamatan diri.
  2. Aji Tapa Pendem
    Aji Tapa Pendem merupakan ilmu yang berfungsi sebagai keselamatan dan juga berisi kekuatan supranatural yang tinggi.
  3. Asmak Kidung
    Asmak Kidung merupakan ilmu yang berguna untuk menangkal serangan ilmu gaib.
  4. Sapu Angin
    Sapu Angin merupakan salah satu ilmu Sunan Kalijaga yang berguna untuk mentransfer kekuatan untuk segala keperluan.
  5. Sapu Jagad
  6. Asmak Sunge Rejeh
  7. Singkir Sengkolo

5 Ajaran Kehidupan Sunan Kalijaga

ajaran sunan kalijaga

Sunan Kalijaga mengajarkan 5 konsep kehidupan kepada para satrinya, yaitu:

1. Marsudi Ajining Sarira

Konsep ajaran pertama dari Sunan Kalijaga adalah Marsudi Ajining Sarira. Dimana di dalam ajaran tersebut, kita diajak untuk menghargai dan menyayangi diri sendiri.

Setelah kita bisa menyayangi dan menghargai diri sendiri, barulah kita bisa untuk menghargai dan menyayangi orang lain.

2. Manembah

Manembah sendiri memiliki arti menyembah. Dalam konsep ini, Ajaran Sunan Kalijaga mengajak kita untuk selalu menyembah Allah SWT.

Menyembah disini berarti mematuhi atau menjalankan segala perintah dari Allah dan juga menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah SWT sebagaimana yang sudah tercantum dalam Al-Quran dan hadis.

3. Mengabdi

Mengabdi yaitu Sunan Kalijaga memerintahkan kita untuk selalu berbakti kepada kedua orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkan kita.

4. Maguru

Maguru sendiri berdasarkan literal bahasa memiliki arti berguru. Dimana ajaran beliau mengajak kita untuk selalu belajar mencari ilmu yang bermanfaat dan bisa menolong kita di dunia maupun di akhirat kelak.

5. Martapa

Martapa secara bahasa berarti bertapa. Dimana beliau mengajarkan kita untuk selalu bersikap prihatin dalam menjalani hidup ini dan selalu sederhana.

5 ajaran tersebut jika diterapkan di dalam kehidupan kita maka InsyaAllah kita akan mendapatkan hidup yang baik dan tenang.

Dimana kita semua diajarkan untuk selalu menyembah Allah SWT dengan cara beribadah sesuai tuntunan yang ada. Selain itu kita juga harus hidup dengan penuh rasa syukur dan sabar.

Makam Sunan Kalijaga

makam sunan kalijaga

Sunan Kalijaga meninggal pada tahun 1513 Masehi yang kemudian dimakamkan di Desa Kadilangu, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Makam tersebut terletak di komplek Masjid Kadilangu yang dulunya merupakan tempat untuk berdakwah oleh Sunan Kalijaga.

Untuk menuju ke makam tersebut atau ke Kota Demak bisa ditempuh sekitar satu setengah jam dari Semarang.

Hingga sekarang, makam Sunan Kalijaga tidak pernah sepi dari para wisatawan religi atau peziarah. Hal tersebut tentu dikarenakan jasa beliau yang sangat tinggi dalam penyebaran Agama Islam khususnya di Pulau Jawa.

Benda Pusaka Peninggalan Sunan Kalijaga

peninggalan sunan kalijaga

Meski sudah tiada namun nama Sunan Kalijaga masih sangat melegenda di masyarakat hingga saat ini, khususnya di tanah Jawa.

Sunan Kalijaga dalam pendekatannya kepada Allah SWT yaitu dengan cara berdzikir. Berbagai macam dzikir juga diajarkan oleh beliau kepada para santrinya, seperti dzikir hati, lisan, nafas, ruh, dan lainnya.

Saat melakukan dakwahnya di tanah Jawa, beliau memiliki sejumlah benda pusaka yang menurut cerita selalu menemani beliau saat berdakwah. Sunan Kalijaga juga diceritakan memiliki ilmu kesaktian dan kanuragan yang tidak dimiliki oleh wali lain. Ilmu tersebut biasa dikenal sebagai ilmu Aji Jagat.

Meski beliau memiliki karomah dari Allah SWT yang luar biasa, namun hal tersebut tidak pernah membuat beliau menjadi lupa diri. Akan tetapi Sunan Kalijaga lebih memilih untuk menggunakannya dalam berdakwah atau menyebarkan ajaran agama Islam hingga ke pelosok pulau Jawa.

Menurut cerita, Sunan Kalijaga memiliki sejumlah benda pusaka, diantaranya adalah keris nyai cerubuk, api alam, batu bobot, tongkat kalimasada, rompo ontokusumo (sebuah benda pusaka yang terbuat dari kulit kambing), baju takwa, sendang, dan beberapa benda pusaka lainnya.

Demikian artikel mengenai Sunan Kalijaga, semoga setelah membaca artikel ini wawasan kamu akan penyebaran Agama Islam di Indonesia khususnya di Pulau Jawa bisa semakin bertambah, selain itu semoga keimanan kita juga selalu meningkat.

Beri Konten ini 5 Bintang Dong!
[Total: 0 Average: 0]

Previous articleCara Mengatasi laptop Lemot Windows 7/8/10
Next article14 Tempat Wisata di Cilacap Paling Top

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here