Sunan Gunung Jati : Biografi, Karomah, Perjalanan Dakwah, dan Kisahnya Lengkap

10 min read

Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati merupakan salah satu wali dari Walisongo yang dikenal sangat gigih.

Salah satu anggota Walisongo ini dikenal terkenal dengan sejarah perjuangannya saat melawan penjajah dan kisah dakwah penyebaran agama Islam yang beliau akukan di tanah Jawa, khususnya Jawa Barat.

Sunan Gunung Jati sendiri sebenarnya juga melakukan perjalan dakwah di berbagai wilayah di Indonesia. Namun lebih dikenal saat Sunan Gunung Jati melakukan dakwah Islam di Kesultanan Cirebon.

Selain dikenal sebagai pendakwah atau Walisongo, beliau juga dikenal sebagai seorang pahlawan kemerdekaan.

Bahkan hingga saat ini namanya diabadikan pada sebuah universitas ternama di Indonesia yaitu UIN Syarif Hidayatullah.

Biografi Sunan Gunung Jati

biografi sunan gunung jati
Nama AsliSyarif Hidayatullah
Nama LainRaden Syarif
Nama AyahSyarif Abdullah Umdatuddin
Nama IbuNyai Rara Santang
Tahun Lahir1448 Masehi
Tempat LahirKairo, Mesir
Nama IstriNyai Mertasinga
AnakMaulana Hasanuddin, Ratu Wulung Ayu
Tempat DakwahCirebon, Jawa Barat
Tahun Wafat1568 Masehi
MakamCirebon, Jawa Barat

Nama asli dari Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidayatullah, beliau lahir di Kairo, Mesir, pada tahun 1448 Masehi dari pasangan Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alim dengan Nyai Rara Santang.

Ayah dari Syarif Hidayatullah yaitu Syarif Abdullah Umdatuddin merupakan seorang penguasa yang sangat berpengaruh di Keslutanan Cirebon.

Saat mulai menginjak usia dewasa, Sunan Gunung Jati diberikan mandat untuk memimpin kerajaan, namun beliau justru menolaknya. Alasan utama dari Sunan Gunung Jati adalah karena beliau ingin mendakwahkan dan menyebarkan ajaran Agama Islam di seluruh daerah Nusantara.

Popularitas Sunan Gunung Jati mulai naik dikarenakan kepemimpinannya yang dianggap sangat adil dan bijaksana. Beliau juga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam penyebaran agama Islam di Jawa.

Syarif Hidayatullah juga memiliki kemampuan yang jarang dimiliki oleh para ulama pada umumnya, dimana beliau ahli bahasa, ahli ilmu kedokteran, ahli strategi perang dan politik, dan ahli agama.

Pada saat itu beliau juga sangat dikenal karena kepintarannya untuk mendeteksi berbagai macam gejala penyakit sekaligus menyembuhkan penyakit tersebut. Masyarakat pada saat itu juga percaya bahwa Sunan Gunung Jati memiliki kesaktian untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit atas izin dari Tuhan.

Kisah cinta Sunan Gunung Jati cukup populer, yaitu saat beliau bertemu dengan seorang putri kaisar China yang bernama Nyi Ong Tin Nio.

Pernikahan tersebut terjadi ketika Sunan Gunung Jati berhasil menyelesaikan sebuah tantangan yang berkaitan dengan kesaktian. Dimana kaisar China mengajukan beragam pertanyaan yang semua bisa dijawab dengan benar oleh Sunan Gunung Jati.

Keberhasilannya tersebut akhirnya menghantarkan beliau untuk menikah dengan Putri Nyi Ong Tin Nio dan mengajaknya untuk memeluk agama Islam. Setelah itu ia lebih dikenal dengan nama Nyai Mertasinga.

Selain itu beliau juga berhasil mengislamkan ribuan prajurit perang dari kaisar China tersebut.

Sunan Gunung Jati merupakan salah satu sunan yang sangat dihormati dan disegani di Pulau Jawa. Hal tersebut terjadi karena beliau memiliki sifat kepemimpinan yang adil dan bijaksana.

Beliau merupakan cucu dari Prabu Siliwangi yang juga merupakan seorang ulama dengan pengaruh besar di daerah Cirebon. Dimana beliau mampu menyebarkan ajaran agama Islam dan mengajak semua prajurit dan masyarakatnya untuk masuk dalam ajaran agama Islam.

Kegigihan Sunan Gunung Jati dalam mendakwahkan ajaran Islam membuatnya semakin disegani oleh masyarakat. Setiap tutur kata yang keluar dari mulut beliau sangatlah lembut dan perangainya sangat baik, yang membuat beliau menjadi tokoh atau suri tauladan untuk semua orang yang berada disekitar beliau.

Asal-Usul Sunan Gunung Jati

asal usul syarif hidayatullah

Mengutip dari Kitab Purwaka Caruban Nagari yang dituliskan dengan menggunakan aksara Jawa dan bahasa Kawi Cirebon, Pangeran Cakrabuwana dan adiknya yang bernama Ratu Mas Rarasantang telah memeluk ajran Islam. Hal tersebut dikarenakan mereka mengalami mimpi yang sama, yaitu bertemu dengan Rasulullah SAW.

Karena mimpi tersebut, akhirnya mereka memutuskan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci. Selain itu, mereka juga menuntut ilmu kepada salah satu syekh terkenal yang ada di Makkah.

Saat sedang dalam proses belajar tersebut, akhirnya sang Sultan melamar Ratu Mas Rarasantang atau yang lebih dikenal dengan Nyai Rarasantang untuk dipersunting.

Setelah itu Rarasantang dan Sultan Abdullah akhirnya menikah. Dalam pernikahan tersebut Pangeran Cakrabuana menjadi wali nikah untuk mereka berdua. Pernikahan tersebut berlangsung menggunakan tata cara dari Madzhab Imam Syafi’i di Mesir. Dimana Pangeran Cakrabuana memang sempat tinggal di Mesir bersama Rarasantang selama enam bulan dan kemudian kembali ke pulau Jawa.

Rarasantang kemudian hidup bahagia bersama Sultan Abdullah di Mesir. Setelah itu Sultan Abdullah mengganti namanya menjadi Syarif Abdullah.

Dalam pernikahan tersebut mereka dikaruniai seorang putra yang bernama Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Syarif Hidayatullah kemudian tumbuh menjadi seorang anak laki-laki yang sangat cerdas dan kritis.

Namun saat ia masih berusia belia, berita duka datang karena sang ayah yaitu Syarif Abdullah meninggal dunia. Oleh karena itu Syarif Hidayatullah kemudian diasuh seorang diri oleh ibunya.

Meski hanya diasuh oleh ibunya, namun Nyai Rarasantang berhasil mendidik Syarif Hidayatullah dengan sangat baik. Ia dibesarkan dengan penuh cinta kasih dari seorang ibu dan juga selalu diajarkan agama Islam dengan baik.

Raden Syarif Hidayatullah kemudian tumbuh menjadi anak yang memiliki minat sangat tinggi terhadap ajaran Agama Islam.

Saat mulai remaja, beliau kemudian banyak berguru dengan beberapa syekh terkenal yang ada di Timur Tengah.

Lalu pada tahun 1470 Masehi, beliau memutuskan untuk berangkat ke pulau asal ibunya yaitu Jawa untuk melakukan dakwah dan menyebarkan ajaran agama Islam disana.

Perjalanan Dakwah Sunan Gunung Jati

perjalanan dakwah sunan gunung jati

Sunan Gunung Jati melakukan berbagai cara sebagai metode dakwahnya, seperti melalui pernikahan, kesenian, akulturasi budaya, dan lain sebagainya.

Selain itu, beliau juga menyebarkan ajaran agama Islam melalui peperangan yang saat itu terjadi demi memperjuangkan Kasultanan Cirebon. Ketangguhan yang beliau miliki membuat banyak orang merasa kagum dan ingin mengenal beliau lebih dalam lagi.

Sunan Gunung Jati juga melakukan penyebaran agama Islam dengan menggunakan kesenian seperti yang dilakukan oleh wali-wali lainnya. Dimana metode ini memang terbukti lebih mudah diterima oleh masyarakat saat itu dibanding dengan menggunakan metode lainnya.

Media seni yang beliau gunakan untuk berdakwah ajaran agama Islam adalah dengan menggunakan alat musik tradisional yaitu gamelan. Dimana setiap orang yang ingin melihat pertunjukan gamelan dari Sunan Gunung Jati diharuskan untuk membaca dua kalimat syahadat terlebih dahulu.

Salah satu perjuangan beliau yang paling dikenal adalah saat jatuhnya Sunda Kelapa dan berdirinya Kesultanan Banten pada waktu itu.

Namun Sunan Gunung Jati juga mengalami masa sulit dimana pada saat itu juga sedang terjadi ekspansi oleh Portugis ke wilayah Nusantara.

Sunan Gunung Jati juga memiliki peranan yang cukup besar dalam membimbing Raden Pati Unus yang akhirnya berhasil menang saat mengusir Portugis dari daerah Cirebon.

Kecerdasan dan juga kemampuan beliau dalam menyusun startegi perang membuat Portugis memilih untuk mundur dari peperangan.

Cara dakwah Syarif Hidayatullah kemudian berubah menjadi semakin lembut dan halus setelah beliau bersama putranya yaitu Maulana Hasanuddin pulang dari Makah.

Mereka berdua kemudian berdakwah di Banten dan siap membantu setiap orang yang mau memeluk ajaran agama Islam dengan sukarela. Perjuangan dari Sunan Gunung Jati terus berlanjut hingga Portugis benar-benar mundur dari wilayah tersebut.

Selain itu Sunan Gunung Jati juga sangat berjasa atas peristiwa penyatuan Banten, sehingga pada saat itu banyak orang yang menganggap bahwa Sunan Gunung Jati merupakan penguasa Banten.

Namun beliau menolaknya, Sunan Gunung Jati justru memberitahukan bahwa yang paling berjasa adalah anaknya, dan ia yang layak menjadi sultan. Kemudian Maulana Hasanuddin diangkat sebagai sultan Banten pada tahun 1552 oleh Syarif Hidayatullah.

Ajaran Kehidupan Sunan Gunung Jati

ajaran kehidupan syarif hidayatullah

Sunan Gunung Jati berada pada masa yang cukup sulit pada waktu itu, khususnya di pulau Jawa, dimana pada saat itu juga ajaran Kristen juga mulai masuk ke wilayah Jawa yang disebarkan oleh para penjajah.

Ajaran tersebut dibawa oleh para penjajah dari Portugis yang pada saat itu berhasil memasuki dan menguasai wilayah Maluku untuk pertama kalinya.

Namun Portugis gagal untuk menguasai wilayah Jawa karena perjuangan dari seorang Sunan Gunung Jati beserta para muridnya.

Beliau juga harus menghadapi masyarakat dengan latar belakang yang cukup berbeda dari para wali sebelumnya. Dimana pada saat itu banyak masyarakat yang memeluk ajaran Tiong Hoa yang berasa dari China.

Dalam dakwahnya, beliau juga menerapkan akulturasi budaya dengan nilai-nilai kepercayaan pada saat itu. Selain itu beliau juga tetap menggunakan metode yang erat kaitannya dengan ajaran agama Hindu dan Buddha yang juga masih cukup banyak saat itu.

Hal tersebut terbukti saat beliau berhasil mengislamkan orang-orang melalui pertunjukan gamelan yang beliau mainkan. Raden Syarif juga mengajarkan nilai yang sangat penting, yaitu bersikap toleransi antar sesama umat beragama.

Beliau juga mengajarkan sebuah filosofi kehidupan yang cukup terkenal, yaitu “Ingsun titip tajug lan fakir mikin”.

Yang artinya “Masarakat harus selalu menjaga dan memelihara masjid, dan tidak boleh melupakannya. Selain itu, masyarakat juga harus selalu membantu dan memelihara fakir miskin”.

Selain itu terdapat juga ajaran lain yaitu Ma Lima atau Moh Lima yang juga populer diajarkan oleh Sunan Ampel.

Kata Moh Lima berasal dari bahasa Jawa. Dimana kata Moh memiliki arti Tidak, dan kata Limo berarti Lima. Jadi Moh Limo juga berarti “Tidak melakukan lima hal yang dilarang oleh agama atau Allah“.

Isi dari Moh Limo yaitu:

  1. Moh Mabuk (Tidak mabuk)
  2. Moh Main (Tidak berjudi)
  3. Moh Madon (Tidak bermain perempuan)
  4. Moh Maling (Tidak mencuri)
  5. Moh Madat (Tidak pecandu)

Nilai-Nilai Kehidupan yang Diajarkan Sunan Gunung Jati

nilai nilai kehidupan sunan gunung jati

Saat menyebarkan ajaran agama Islam, Sunan Gunung Jati tentu juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan seperti kesopanan, kedisiplinan, ketakwaan, dan lain sebagainya. Berikut ini nilai-nilai kehidupan yang diajarkan oleh Sunan Gunung Jati.

1. Nilai-nilai Ketakwaan dan Keyakinan

Salah satu nilai yang diajarkan oleh Sunan Gunung Jati adalah tentang ketakwaan dan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Berikut isi dari nilai-nilainya:

  • Menjaga dan melaksanakan sholat secara khusuk dan tawadhu
  • Berpuasa dengan tekun dan bersungguh-sungguh
  • Menjaga dan memelihara kaum fakir dan yatim
  • Beribadah secara istiqomah kepada Allah SWT
  • Memperbanyak taubat dan meminta ampun terhadap dosa yang diperbuat, dan lain sebagainya

Dengan menjalankan nilai-nilai tersebut, InsyaAllah keimanan kita semakin sempurna.

2. Nilai Kebijaksanaan dan Kearifan

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa Sunan Gunung Jati terkenal memiliki sifat yang mulia dan bijaksana. Berikut ini beberapa sifat arif dan bijaksana yang bisa dicontoh dari beliau:

  • Tidak menyukai keributan dan pertikaian
  • Tidak suka berkata buruk apalagi mencela orang lain
  • Tidak pernah bersikap berlebihan atau serakah
  • Jangan berbohong atau berdusta
  • Bersikap rendah hati
  • Suka berbagi
  • Bisa mengambil keputusan dengan bijak dan adil
  • Dan lain sebagainya

3. Nilai Kedisiplinan

Sunan Gunung Jati juga mengajarkan nilai kedisiplinan, dimana tidak diperbolehkan untuk mengingkari janji yang sudah dibuat. Selain itu, disiplin juga memiliki arti untuk tidak menolong orag yang tidak seharusnya diberi pertolongan, tidak menyalahgunakan ilmu, belajar menghasilkan manfaat, dan lain sebagainya.

Nilai disiplin sendiri lebih berkaitan dengan kontrol diri. Dimana Sunan Gunung Jati mengajarkan untuk mengendalikan hawa nafsu dengan benar.

4. Nilai Kesopanan dan Tata Krama

Sunan Gunung Jati juga mengajarkan para santrinya tentang pentingnya untuk bertata krama dan menjunjung tinggi kesopanan.

Perilaku tersebut diperlukan untuk menghormati orang yang lebih tua, leluhur, menghargai sesama, memuliakan tamu, dan lain sebagainya.

5. Nilai Kehidupan Sosial

Raden Syarif Hidayatullah juga mengajarkan nilai kehidupan sosial kepada para santrinya. Beliau mengajarkan bahwa:

  • Jangan memaksakan diri menjadi seorang imam jika ilmu agama yang dimiliki belum cukup.
  • Tidak perlu melakukan ibadah Haji jika memang belum mampu.
  • Tidak perlu begadang untuk hal yang tidak perlu.

Dengan adanya nilai kehidupan sosial, maka kehidupan bermasyarakat akan menjadi selaras dan damai tanpa adanya paksaan diri.

Keberhasilan Dakwah Sunan Gunung Jati

dakwah sunan gunung jati

Berbagai kisah dan penjelasan tertulis mengenai informasi tentang keberhasilan dakwah dan pencapaian yang sudah Sunan Gunung Jati dapatkan.

Keberhasilan beliau yang paling utama yaitu dalam menyebarkan agama Islam dan mempertahankan agama Islam saat munculnya ajaran baru yang dibawa oleh Portugis.

Masa yang dialami oleh Sunan Gunung Jati sangat berbeda dengan apa yang dialami oleh wali-wali lainnya dalam Walisongo.

Dimana Beliau berada pada masa Nusantara sedang menghadapi penjajahan dari negara Barat. Sehingga upaya penting yang harus dilakukan tidak hanya untuk mengajarkan dan menyebarkan ajaran agama Islam saja, namun juga untuk mempertahankan ajaran agama Islam dari ajaran lain yang dibawa oleh para penjajah sekaligus mempertahankan wilayah Nusantara dari penjajah.

Selain berhasil mengusir penjajah, menyebarkan dan mengislamkan ribuan orang, menyatukan wilayah Nusantara, dan lainnya. Sunan Gunung Jati juga berhasil menyelesaikan sebuah permasalahan yang sangat penting sebelum beliau wafat.

Dimana beliau berhasil memberikan solusi mengenai sistem pembagian kekuasaan dan pemberian gelar di dalam keraton atau kerajaan.

Karomah Sunan Gunung Jati

karomah sunan gunung jati

Sama halnya seperti wali lainnya, Sunan Gunung Jati juga memiliki beberapa karomah dari Allah SWT. Berikut ini beberapa karomah dari Sunan Gunung Jati.

1. Mengubah Bokor di Perut Menjadi Hamil Sungguhan

Karomah Sunan Gunung Jati yang pertama yaitu bisa merubah bokor yang ditaruh di perut seorang putri agar terlihat hamil menjadi benar-benar hamil

Kejadian tersebut bermula dari kemasyhuran nama Sunan Gunung Jati yang kemudian membuatnya diundang oleh seorang Raja di China untuk menguji kesaktian yang beliau miliki.

Disana Sunan Gunung Jati diminta untuk menebak beberapa gadis yang sedang hamil sungguhan dan beberapa gadis yang didandani agar terlihat seperti orang hamil. Salah satunya yaitu putri raja sendiri yang bernama Ong Tin Nio.

Putri Ong Tin Nio diberi sebuah bokor diperutnya agar ia terlihat seperti sedang hamil yang kemudian ditutupi dengan bajunya.

Akhirnya waktu pengujian Sunan Gunung Jati tiba, dimana beliau disuruh untuk menunjuk siapa yang benar-benar hamil diantara semua perempuan yang ada. Beliau kemudian menunjuk putri Ong Tin Nio yang sedang hamil.

Melihat kejadian tersebut sang raja dan orang-orang yang hadir tertawa keras dan mengejek sang Sunan karena ternyata beliau tidak benar-benar sakti, karena beliau salah dalam menebak.

Sunan Gunung Jati kemudian meyakinkan sang raja dan para hadirin bahwa putri Ong Tin Nio benar-benar sedang hamil. Karena semuanya tetap tidak percaya dengan beliau, beliau akhirnya memutuskan untuk meminta izin pulang ke Jawa.

Setelah Sunan Gunung Jati pulang, kemudian putri Ong Tin Nio masuk ke dalam kamarnya bersama para dayangnya. Saat hendak membuka bokor yang ada diperutnya tersebut, sang putri dan para dayang terkejut bukan main melihat bokor di perut sang putri menghilang dan perut putri benar-benar seperti dalam keadaan wanita yang sedang hamil.

Melihat hal tersebut sang putri kemudian menangis sedih dan meminta izin untuk menyusul dan menjumpai Sunan Gunung Jati di tanah Jawa. Sang raja kemudian mengizinkan putri untuk pergi dengan diiringi oleh para pasukan kerajaan.

Pada akhirnya putri Ong Tin Nio berhasil menemui Sunan Gunung Jati dan meminta maaf atas perbuatannya dan perbuatan ayahnya karena telah menguji beliau dan mempermalukan beliau di depan banyak orang.

Setelah itu Sunan Gunung Jati kemudian menikah dengan putri Ong Tin Nio yang kemudian lebih dikenal dengan nama Nyi Ong Tin Nio atau Nyi Ratu Rara Semanding atau Nyai Mertasinga.

2. Dibantu Oleh Para Bala Tentara Tikus

Sunan Gunung Jati juga memiliki karomah dimana beliau bisa mengeluarkan bala tentara tikus.

Kejadian tersebut terjadi ketika beliau sedang membantu peperangan antara Kesultanan Demak yang melawan Kerajaan Majapahit.

Dalam peperangan tersebut, Sunan Gunung Jati mengibaskan sorban miliknya, kemudian muncul bala tentara tikus dengan jumlah yang sangat banyak dan membantu para prajurit Demak untuk berperang melawan pasukan Majapahit.

Hal tersebut membuat pasukan dari Kerajaan Majapahit lari kocar-kacir karena tikus tersebut menyerang secara membabi buta dan jumlahnya terus bertambah.

3. Memindahkan Istana Hindu Pakuan ke Alam Ghaib

Sunan Gunung Jati juga memiliki karomah, dimana beliau mampu memindahkan istana Hindu Pakuan ke alam ghaib.

Hal tersebut beliau lakukan karena para pendeta hindu menolak untuk menerima dan memeluk ajaran agama Islam. Selain itu mereka juga tidak mau pindah dari istana Pakuan dan tetap bersikeras untuk tinggal di istana Pakuan.

Oleh karena itu, Sunan Gunung Jati kemudian memindahkan istana Hindu tersebut ke alam ghaib beserta para pendeta yang ada di dalamnya. Beliau hanya akan mengeluarkan mereka ke alam nyata jika mau menerima dan memeluk ajaran Islam, bagi yang mau memeluk agama Islam mereka akan tinggal di istana Pakuan yang berada di dunia nyata.

Sedangkan bagi mereka yang tidak ingin memeluk agama Islam namun mau keluar dari alam ghaib, mereka kemudian ditempatkan di luar ibukota Pakuan. Orang-orang tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal dari suku Baduy yang kini tinggal di daerah pegunungan yang ada di Banten.

4. Merubah Pohon Menjadi Emas

Sunan Gunung Jati juga mampu merubah sebuah pohon menjadi emas. Kejadian tersebut terjadi saat Syarif Hidayatullah sedang melakukan ibadah haji di Makah.

Beliau membawa uang sebesar 100 dirham yang dibekali oleh ibunya. Lalu ditengah perjalanan beliau berhadapan oleh kawanan perampok, disana beliau hanya tersenyum dan menyerahkan semua uang yang beliau bawa, yaitu sebesar 100 dirham.

Namun kawanan perampok tersebut tidak percaya jika beliau hanya memiliki uang sebesar 100 dirham, mereka kemudian memaksa Sunan Gunung Jati untuk menyerahkan uangnya lagi.

Melihat hal tersebut Sunan Gunung Jati tetap tersenyum sembari menunjuk sebuah pohon yang ada di dekatnya kemudian berkata “Silahkan ambil, itu ada pohon yang terbuat dari emas, ambil sepuasmu dan bagikan semua ke teman-temanmu”.

Melihat hal tersebut para perampok itu kemudian tersadar bahwa yang mereka hadapi bukanlah orang biasa, melainkan seorang sunan atau wali.

Pada akhirnya para perampok itu justru menjadi murid Sunan Gunung Jati dan memeluk agama Islam.

5. Bisa Berjalan di Atas Air

Karomah lain yang dimiliki oleh Sunan Gunung Jati adalah berjalan di atas Air.

Kisah tersebut terjadi saat beliau berangkat dari Mesir menuju ke pulau Jawa. Dimana beliau menyeberangi lautan tanpa menggunakan perahu, namun beliau menyeberangi lautan dengan berjalan kaki di atas air laut.

6. Mampu Menghilangkan Pasukan Pangeran Kuningan

Suatu ketika dikisahkan bahwa Sunan Gunung Jati bertanya kepada Pangeran Kuningan tentang bagaimana caranya untuk membuat para raja Pasundan masuk kedalam ajaran agama Islam.

Pangeran Kuningan kemudian menjawab bahwa ia mampu mendatangkan bala tentara dengan jumlah yang cukup banyak dengan jimat yang dimilikinya.

Cara mendatangkan pasukan tersebut sangat mudah, dimana ia hanya mengumpulkan batu kerikil dan juga jamur merang kemudian diteteskan dengan jimat cupu tirta bala. Dengan sekejap mata, bala tentara kemudian memenuhi seluruh alun-alun Cirebon.

Kemunculan bala tentara yang sangat banyak membuat rakyat Cirebon geger. Kemudian Sunan Gunung Jati membacakan sebuah doa, dan atas izin Allah seketika semua bala tentara tersebut hilang sekejap mata.

Makam Sunan Gunung Jati

makam sunan gunung jati

Menurut kisah Sunan Gunung Jati diperkirakan berumur hingga 120 tahun. Dimana beliau diperkirakan wafat pada pertengahan abad 15, yaitu sekitar tahun 1568 Masehi.

Sunan Gunung Jati kemudian dimakamkan di wilayah bukit yang ada di daerah Cirebon. Bukit tersebut bernama Bukit Sembung yang berada di pinggir kota Cirebon.

Makam Sunan Gunung Jati berada di sebuah komplek pemakaman dengan luas kurang lebih sekitar 5 hektar.

Di komplek pemakaman yang ada di Bukit Sembung atau Gunung Sembung tersebut setidaknya terdapat 500 makam. Di komplek makam tersebut juga terdapat makam dari istri Sunan Gunung Jati yaitu Ong Tien Nio.

Hingga saat ini makam Sunan Gunung Jati masih selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan religi atau peziarah yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia.

Bahkan di malam Jumat Kliwon, suasana makam akan selalu ramai dengan para peziarah. Selain itu pada bulan Maulid, semua pusaka keraton akan diarak dari Keraton menuju ke alun-alun, acara tersebut dinamakan dengan perayaan Pajang Jimat.

Sumur Peninggalan Sunan Gunung Jati

peninggalan sunan gunung jati

Terdapat tujuh sumur peninggalan Sunan Gunung Jati yang sudah ada sejak 500 tahun lalu.

Namun sampai saat ini sumur tersebut bahkan tidak mengalami kekeringan sekalipun, airnya juga saat ini masih ada dan sangat jernih.

Sumur tersebut berada di komplek makam Sunan Gunung Jati. Para peziarah juga percaya bahwa air tersebut memiliki kandungan yang bisa menjadi obat, rezeki, dan mampu mendatangkan jodoh.

Meski begitu namun sebaiknya jangan terlalu mempercayai hal tersebut, segala pertolongan hanya datang dari Allah SWT.

Demikian ulasan lengkap mengenai Sunan Gunung Jati, semoga bisa menambah wawasan dan juga keimanan kamu.

Beri Konten ini 5 Bintang Dong!
[Total: 0 Average: 0]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© Website Name. All rights reserved.

Mediumish Theme by WowThemesNet.