Sunan Gresik : Biografi, Sejarah, Cara Dakwah, Makam, Peninggalan dan Kisahnya Lengkap

9 min read

Sunan Gresik

Menurut berbagai catatan sejarah, Sunan Gresik merupakan tokoh pertama yang menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa secara terkonsep.

Hal tersebut yang kemudian membuatnya dijadikan orang pertama yang mendapatkan gelar Walisongo. Walisongo sendiri memiliki arti sembilan orang yang tergolong mulia.

Salah satunya yaitu Sunan Gresik atau Syekh Maulana Malik Ibrahim yang pada tahun 1404 beliau mendirikan sebuah majelis dakwah. Majelis dakwah tersebut dibuatnya untuk melakukan perubahan dari masa itu ke arah yang lebih baik.

Untuk lebih jelasnya lagi, silahkan simak ulasan lengkap dari Sudut Nusantara di bawah ini.

Biografi Sunan Gresik

biografi sunan gresik
Nama asliMaulana Malik Ibrahim
Nama panggilan lainnyaKakek bantal, Makhdum Ibrahim As-Samarqandani, Syekh Magrhibi, dan Syekh Ibrahim Asmarakandi
Nama ayahMaulana Ahmad Jumadil Kubro
Nama saudaraMaulana Ishak
Nama anakSunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sayid Ali Murtadha
Tanggal wafatSenin, 12 Rabi’ul Awal 882 H / 7 April 1419 M
Tempat dakwahGresik, Jawa Timur
MakamGresik, Jawa Timur

Sunan Gresik adalah orang pertama yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Sunan Gresik yang memiliki nama asli Maulana Malik Ibrahim mendapatkan gelar Walisongo pertama, atau bisa dikatakan wali senior diantara Walisongo lainnya.

Maulana Malik Ibrahim juga memiliki panggilan lain seperti Syekh Maghribi, Kakek Bantal, Makhdum Ibrahim As-Samarqandani, dan Syekh Ibrahim Asmarakandi.

Sunan Gresik merupakan keturunan atau anak dari seorang ulama Persia. Ulama tersebut yaitu Maulana Jumadil Kubro yang menetap di daerah Samarkand. Sebagian besar masyarakat dan ulama yakin bahwa Maulana Jumadil Kubro merupakan turunan kesepuluh dari Syaidina Husein, cucu Nabi Muhammad SAW.

Maulana Malik Ibrahim merupakan saudara dari Maulana Ishak, yang mana Maulana Ishak juga merupakan seorang ulama terkenal di daerah Samudera Pasai. Beliau juga merupakan ayah dari Sunan Giri atau Raden Paku.

Namun hingga saat ini masih belum ditemukan siapa ibu dari Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik.

Yuk, baca juga apa itu Teks Biografi untuk memperluasan pengetahuan dan wawasan kalian!

Asal Usul Sunan Gresik

asal usul maulan malik ibrahim

Terdapat beberapa persepsi yang berbeda mengenai asal-usul Sunan Gresik, berikut beberapa versi diantaranya.

1. Menurut Nama Asli Sunan

Pertama yaitu menurut nama asli Sunan Gresik sendiri, masyarakat beranggapan bahwa Maulana Malik Ibrahim bukan keturunan asli Jawa. Persepsi tersebut diperkuat dengan sebutan atau nama lain dari Sunan Gresik yaitu Syeikh Maghribi.

Mereka beranggapan bahwa Sunan berasal dari daerah Arab Maghrib atau yang saat ini yaitu daerah Afrika Barat, terdapat sebagian lain yang memiliki anggapan bahwa beliau berasal dari Maroko.

2. Menurut Keturunan Rasullah SAW

Sedangkan ada juga yang beranggapan bahwa Maulana Malik Ibrahim merupakan keturunanan dari Nabi Muhammad SAW.

Nasabnya yaitu dari cucu Nabi Husain bin Ali, Muhammad Al Baqir, Ali Al Uraidhi, Muhammad Al Naqib, lalu sampai ke ayah Sunan Gresik yaitu Maulana Ahmad Jumadil Kubro.

Alhasil bisa disimpulkan bawha Sunan Gresik berasal dari orang Hadrami.

3. Menurut Prasasti Gapura Wetan

Masyarakat juga memiliki persepsi bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari daerah Kashan atau yang saat ini bernama Iran.

Persepsi ini diperkuat dengan Prasasti Gapura Wetan yang berhasil dibaca oleh J.P Moquette, ia membaca tulisan yang terdapat di baris kelima pada prasasti tersebut.

Dari hasil pembacaan tersebut kemudian muncul persepsi masyarakat yang menganggap bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari Kashan.

Sejarah Sunan Gresik

sejarah sunan gresik

Sunan Gresik dahulu pernah tinggal di daerah Campa, atau yang kini lebih dikenal dengan Kamboja dari tahun 1379. Di sana, belia menikah dengan seorang putri raja dan dikaruniai dua orang Putra, yaitu Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha.

Di Campa, beliau menjalankan dakwah hingga tahun 1392, setelah itu beliau hijrah ke Pulau Jawa untuk melanjutkan misi dakwahnya. Pada beberapa versi cerita menyebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim datang dengan beberapa orang. Daerah yang pertama kali didatangi beliau adalah desa Sembalo yang berada di kerajaan Majapahit.

Saat ini, desa Sembalo lebih dikenal dengan daerah Leran, Kecamatan Manyar, sekitar 9 km di utara Kota Gresik.

Setibanya di daerah tersebut, hal pertama yang dilakukan beliau adalah berdagang. Maulana Malik Ibrahim membuka sebuah warung dagangan yang menjual berbagai macam kebutuhan pokok dengan harga yang cukup murah.

Selain itu beliau juga secara khusus menawarkan diri untuk mengobati masyarakat daerah tersebut secara gratis. Menurut cerita saat beliau masih berada di Campa, beliau bahkan pernah diundang secara khusus oleh pihak kerajaan untuk mengobati istri raja.

Selain berdagang dan mengobati masyarakat, beliau juga dikenal masyarakat karena banyak mengajarkan cara-cara untuk bercocok tanam. Beliau juga sangat merangkul masyarakat kalangan atau kasta rendah yang disisihkan di dalam kerjaan Hindu.

Dengan begitu, beliau bisa dengan mudah mengambil hati rakyat yang pada saat itu sedang mengalami perang saudara dan krisis ekonomi.

Baca juga apa itu Teks Cerita Sejarah

Kisah Sunan Gresik

kisah maulana malik ibrahim

Setelah melakukan kegiatan dakwah dan berdagang selama dua tahun, akhirnya nama Sunan Gresik didengan hingga ke kelangan bangsawan Kerajaan Majapahit. Dengan begitu, beliau kemudian menyampaikan niatnya untuk bertemu dengan Raja Majapahit yakni Prabu Brawijaya.

Setelah Prabu Brawijaya menyetujui kedatangan Syekh Maulana Malik Ibrahim, beliau kemudian bersiap untuk pergi ke pusat Kerajaan Majapahit.

Disana beliau kemudian menyampaikan ajaran agama Islam, sang raja sangat terkesan dengan sopan santun dan budi pekerti yang dimiliki Sunan Gresik. Namun pada saat itu, Raja Majapahit belum bisa menerima dan memeluk agama Islam.

Namun beliau tidak putus asa, ia kemudian meminta izin kepada raja untuk melakukan dakwah di kerajaan Majapahit.

Perjuangan Dakwah Sunan Gresik

perjuangan dakwah sunan gresik

Perjuangan dakwah Sunan Gresik sangatlah hebat, selain menghadapi masyarakat yang mayoritas beragama Hindu, beliau juga harus berhadapan dan berdakwah dengan orang yang tidak memiliki agama atau bahkan mengikuti ajaran sesat. Beliau selalu berusaha dan bersabar untuk meluruskan pemahaman dan pemikiran orang-orang Islam yang masih melakukan kegiatan musyrik.

Cara beliau untuk menghadapi orang-orang tersebut tidaklah dengan secara langsung menegur atau menentang kepercayaan dan juga kegiatan yang mereka lakukan selama ini. Maulana Malik Ibrahim lebih memilih untuk melakukan pendekatan dengan cara yang halus agar bisa diterima oleh masyarakat. Beliau lebih memilih untuk mencontohkan keindahan akhlak Islami yang diajarkan oleh Nabi.

Selain berdakwah dengan cara menyampaikan ajaran dan nilai-nilai Islam, beliau juga menunjukkan akhlak yang mulia seperti suka menolong fakir miskin atau kasta rendah dari kerajaan.

Beliau juga membagi ilmunya di bidang pertanian. Hal tersebut dibuktikan sejak beliau tinggal di daerah Gresik, hasil pertanian masyarakat meningkat pesat. Selain itu beliau juga dengan senang hati mengobati orang yang sakit secara gratis.

Cara Dakwah Sunan Gresik

cara dakwah maulana malik ibrahim

Saat berdakwah dan menyampaikan ajaran agama Islam, Sunan Gresik memiliki strategi atau cara dakwah sendiri. Diantaranya yaitu sebagai berikut:

1. Halus

Sejak pertama kali berdakwah, Sunan Gresik tidak pernah menentang kepercayaan orang-orang pada saat itu, ia juga tidak pernah memaksa orang untuk masuk dan memeluk agama Islam. Beliau lebih memilih berdakwah dengan cara yang halus.

Beliau selalu menunjukkan perilaku dan tutur kata yang lembut dan bersikap baik ke semua orang.

Maulana Malik Ibrahim menerapkan sikap yang halus dan lembut sesuai dengan ajaran Al-Quran dan mencontoh Nabi Muhammad.

Selain karena memang kepribadiannya yang halus, cara tersebut juga beliau lakukan untuk menunjukkan bahwa ajaran agama Islam merupakan agama yang indah, halus, damai, toleransi, dan mencintai sesama.

Dengan begitu beliau mudah berbaur dan diterima oleh masyarakat.

2. Berbaur dengan Segala Kalangan

Sunan Gresik juga sangat mudah berbaur dengan semua golongan, mulai dari pedangan, petani, fakir miskin, masyarakat kasta rendah, hingga bangsawan kerajaan. Ia tidak pernah memilih dan memilah teman berdasarkan kasta.

Dengan begitu Sunan Gresik lebih mudah untuk berdakwah dan mengajarkan agama Islam kepada siapapun.

3. Berdagang

Cara lain yang dilakukan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim untuk menyebarkan ajaran Islam adalah dengan berdagang. Beliau membuka sebuah warung sederhana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, hingga melakukan perjalanan ke berbagai pelabuhan.

Selama kegiatan perjalanan dagangnya tersebut, beliau bertemu dengan lebih banyak orang dari berabgai kalangan dan golongan.

Dengan sifatnya yang baik, membuat banyak orang dari berbagai kalangan bersedia berteman dengan beliau bahkan tidak sedikit juga yang tertarik untuk memeluk agama Islam.

4. Menyembuhkan Orang Sakit

Selain dengan berdagang, beliau juga berdakwah dengan cara mengobati orang-orang yang terkena penyakit.

Saat sedang mengobati beliau juga selalu berdakwah dengan menyampaikan ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam.

Dengan begitu banyak orang yang datang berobat ke beliau yang kemudian tertarik untuk mempelajari ajaran Islam dan memeluk agama Islam.

5. Bercocok Tanam

Sunan Gresik juga mengajarkan masyarakat khususnya petani untuk bercocok tanam yang benar. Beliau kemudian membuat irigasi agar lahan-lahan pertanian mendapatkan air yang cukup, tanah yang menjadi lebih subur, dan tentu saja menghasilkan hasil panen yang baik dan banyak.

Sejak saat itu, hasil panen masyarakat terus meningkat dan ekonomi masyarakat juga semakin membaik.

6. Tidak Memandang Kasta

Sunan Gresik merupakan seseorang yang sangat terkenal di semua kalangan masyarakat pada saat itu, termasuk juga kalangan masyarakat dengan kasta rendah.

Dalam agama Hindu yang mayoritas saat itu masyarakat memeluk agama tersebut, terdapat pembagian kalangan masyarakat. Yaitu kasta brahmana (pemuka agama atau guru), ksatria (raja, bangsawan, dan prajurit perang), waisya (pedagang, pengusaha), dan yang paling rendah yaitu sudra (buruh, petani, pembantu, dan kuli).

Beliau tidak pernah memandang orang berdasarkan kastanya, bahkan beliau juga sering mendekati orang-orang dari kasta terendah. Dimana beliau menjelaskan kepada mereka bahwa di dalam agama Islam semua orang memiliki drajat yang sama dan tidak ada pembagian kasta.

Dengan begitu banyak orang dari kasta sudra dan waisya yang tertarik dengan penjelasan beliau. Sunan Gresik kemudian menjelaskan bahwa orang dari kasta sudra juga bisa bergaul dengan kasta di atasnya.

Beliau juga selalu menjelaskan bahwa dihadapan Allah SWT, semua manusia itu sama. Yang membedakan mereka di mata Allah adalah ketakwaan dan keimanan, bukan berdasarkan kasta apalagi kekayaan.

Manusia bisa hidup dengan bahagia di dunia dan di akhirat dengan taqwa. Beliau selalu menjelaskan dengan cara yang halus bahwa orang sudra yang memiliki ketakwaan terhadap Allah bisa menjadi lebih mulia dibanding orang yang berasal dari kasta tinggi namun tidak memiliki ketakwaan.

Mendengarkan dakwah dari beliau, banyak orang dari kasta rendah yang merasa senang. Pada akhirnya, banyak dari mereka yang berbondong-bondong untuk masuk dan memeluk agama Islam tanpa adanya paksaan.

Menyebarkan Agama Islam Hingga ke Pelosok

masjid sunan gresik

Setelah beliau memiliki pengikut yang cukup banyak, kemudian beliau mendirikan sebuah Masjid. Masjid tersebut dipergunakan untuk melakukan kegiatan ibadah, seperti Sholat dan mengaji.

Tidak cukup sampai disitu, beliau memiliki cita-cita untuk bisa mempersiapkan generasi umat yang bisa melanjutkan perjuangan dakwah beliau dalam menyebarkan agama Islam bahkan sampai ke pelosok negri ini.

Beliau kemudian mendirikan sebuah pesantren yang digunakan sebagai tempat untuk belajar para santri dan menyiapkan mereka menjadi seorang mubaligh dan penerus dakwah.

Pendirian pesantren tersebut berawal dari pemikiran dan pengamatan beliau tentang kebiasaan masyarakat Hindu yang mendidik para Biksu di mandala.

Pada akhirnya hal tersebut menjadi salah satu strategi yang terbukti cukup bagus. Beliau mendirikan sebuah pesantren dengan bangunakan yang serupa seperti mandala Hindu. Pesantren tersebut dipergunakan untuk menjaring lebih banyak umat untuk mempelajari agama Islam dengan baik.

Pesantren tersebut ternyata berhasil menghasilkan banyak mubaligh yang selanjutnya menyebar ke berbagai penjuru Nusantara untuk mendakwahkan ajaran agama Islam.

Dengan begitu, Sunan Gresik berhasil untuk menggapai cita-citanya menyebarkan agama Islam hingga ke pelosok Nusantara.

Hingga saat ini, tradisi pesantren masih terus eksis dan banyak digunakan para ulama untuk mengajarkan ilmu agama Islam dan mendidik para calon mubaligh.

Karomah Sunan Gresik

karomah sunan gresik

Sebagai wali, Sunan Gresik diberkahi dengan beberapa Karomah dari Allah SWT. Diantaranya yaitu sebagai berikut:

1. Menurunkan Hujan dengan Sholat Istisqa

Suatu ketika, Sunan Gresik pernah menghadapi sebuah daerah yang akan mengorbankan seorang gadis untuk dijadikan sebagai tumbal kepada dewa agar diturunkan hujan pada daerah tersebut.

Melihat hal itu, Sunan Gresik kemudian bernegosiasi dengan kepala adat setempat agar mengurungkan niat mereka itu. Kepala adat tersebut kemudian menyetujuinya asalkan Sunan Gresik bisa menurunkan hujan, jika tidak maka mereka tetap akan menjadikan gadis tersebut sebagai tumbal.

Sunan Gresik kemudian berdoa kepada Allah untuk menurunkan hujan di desa tersebut. Beliau bersama murid-muridnya kemudian mengerjakan sholat istisqa untuk meminta hujan kepada Allah. Akhirnya saat itu juga hujan turun di wilayah tersebut.

Melihat kejadian tersebut maka masyarakat sangat bersimpati kepada Sunan Gresik dan ajaran agama Islam, banyak dari mereka yang kemudian tertarik untuk belajar agama Islam.

Mengerjakan sholat istisqa untuk meminta turun hujan juga pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Ia juga menhadapi masyarakat yang akan melakukan penumbalan untuk meminta hujan kepada dewa.

2. Mengubah Beras Menjadi Pasir

Maulana Malik Ibrahim juga pernah mengubah beras menjadi pasir. Hal tersebut terjadi saat ada seorang pengemis yang meminta-minta beras kepada orang kaya yang kikir.

Namun orang kaya tersebut tidak mau memberinya beras, bahkan ia mengatakan bahwa dia tidak memiliki beras, dimana yang ada di dalam karung-karung miliknya itu adalah pasir. Pengemis tersebut kemudian pergi meninggalkan orang kaya yang kikir itu.

Melihat hal tersebut, Sunan Gresik kemudian berdoa kepada Allah agar karung yang berisi beras tersebut benar-benar berubah menjadi pasir.

Tidak lama setelah itu, terdengar jeritan dari pembantu orang kaya yang kikir itu karena ia kaget saat melihat bahwa karung-karung yang berisi beras tersebut berubah menjadi berisi pasir semua.

Orang kaya tersebut kemudian terkejut luar biasa karena beras dalam karung-karung tersebut berubah menjadi pasir. Kemudian orang kaya tersebut bersimpuh di hadapan Sunan Gresik sembari meminta maaf dan meminta untuk mengubah pasir tersebut menjadi beras lagi.

Akhirnya Sunan Gresik memaafkan perbuatan rang kaya yang kikir tersebut dan kembali berdoa kepada Allah untuk mengubah pasir menjadi beras kembali.

Setelah itu, orang kaya tersebut kemudian berterima kasih kepada Sunan Gresik dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Selain itu, melihat kejadian tersebut juga membuat orang kaya itu menjadi tertarik untuk belajar agama Islam.

3. Mengobati Orang Sakit dan Mengajar Bidang Pertanian

Sunan Gresik juga diberi kelebihan menjadi seorang yang ahli dalam bidang pengobatan dan pertanian.

Semenjak beliau berdakwah di Gresik, hasil pertanian warga Gresik terus meningkat dan ekonomi warga juga semakin membaik.

Sunan Gresik membuat saluran irigasi agar lahan pertanian di wilayah Gresik mendapatkan air yang cukup agar tanaman yang ada subur dan menghasilkan hasil panen yang melimpah.

Selain mengajarkan bidang pertanian dan membuat irigasi, Sunan Gresik juga membuka praktik pengobatan untuk warga sekitar secara gratis. Ia membuka sebuah tempat praktik pengobatan di sebalah warung miliknya.

Ia juga menjadikan tempat pengobatan tersebut sebagai media dan tempatnya untuk berdakwah dan mengajarkan Islam kepada setiap orang sakit yang mengunjunginya.

Selama praktik pengobatan tersebut, banyak warga sakit yang berhasil sembuh setelah berobat ke Sunan Gresik. Hal tersebut membuat banyak warga yang menjadi tertarik dengan ajaran agama Islam.

Makam Sunan Gresik

makam maulana malik ibrahim

Sunan Gresik meninggal pada tahun 1419. Beliau kemudian dimakamkan di lokasi tempat pesantrennya didirikan.

Yaitu di Desa Gapurosukololp, Kota Gresik, Jawa Timur. Dari alun-alun Kota Gresik, komplek makam tersebut berjarak sekitar 800 meter, atau 3 menit berkendara.

Area makamnya tersebut tidak teralalu luas, dan hanya berupa sebuah pendopo sederhana dengan pagar.

Komplek makam tersebut dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu makam Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) yang berbentuk pendopo, dan beberapa makam para ulama lainnya.

Pada makam Sunan Gresik, terdapat tulisan Arab pada bagian batu nisannya, yaitu:

  • Mafkharul Umara (Guru kebanggaan bagi para pangeran)
  • Umdatus Salathin Wal Wuzara (Penasihat Raja dan Menteri)
  • Wa Ghaisul Masakain Wal Fuqura (Santun dan dermawan kepada kaum miskin dan dhuafa)
  • As As Id Asy Syahid Thirazu Habaid Dawlah Waddin (Berbagahagia karena syahid)

Dengan adanya tulisan pada batu nisan Sunan Gresik menjadi bukti bahwa Maulana Malik Ibrahim adalah salah satu tokoh yang sangat santun, dermawan, dan menjadi kebanggaan dari setiap manusia pada saat itu.

Peninggalan Sunan Gresik

peninggalan sunan gresik

Setelah Sunan Gresik wafat, beliau meninggalkan beberapa peninggalan yang hingga saat ini masih ada dan terawat dengan baik. Bahkan peninggalan tersebut juga masih banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Berikut peninggalan bersejarah dari Maulana Malik Ibrahim.

1. Masjid Pasucian

Peninggalan pertama dari Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah Masjid Pasucian. Masjid ini merupakan masjid tertua yang ada di Desa Leran, Kota Gresik.

Masjid ini didirikan oleh Sunan Gresik pada saat kekuasaan Kerajaan Majapahit. Nama masjid tersebut diambil untuk membuat masyarakat yang pada awalnya beragama Hindu dan Buddha menjadi memeluk agama Islam.

Di sekitar masjid tersebut juga banyak peninggalan-peninggalan berupa batu arsenik.

2. Air Sumur

Peninggalan selanjutnya adalah air sumur. Dimana banyak orang menganggap dan meyakini bahwa air sumur tersebut bukanlah air biasa, karena menurut cerita dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Ukuran dari sumur tersebut juga cukup besar dan memiliki rasa yang tawar, berbeda dengan sumur lain di daerah tersebut yang memiliki rasa asin dan berukuran kecil.

Terdapat sebuah cerita mengenai air sumur yang ada di Masjid Pasucian ini, dimana suatu ketika pernah ada sesorang yang menderita sakit keras.

Kemudian ia pergi mengunjungi seorang pakar spiritual untuk meminta obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya itu. Kemudian pakar spiritual tersebut menyarankan untuk mengambil air dari sumur tersebut.

Setelah mendapatkan air sumur tersebut, penyakit yang dialami menjadi sembuh total. Dengan adanya cerita tersebut, banyak orang yang percaya bahwa air sumur Masjid Pasucian bukanlah air biasa.

Demikian ulasan lengkap mengenai Sunan Gresik atau Syekh Maulana Malik Ibrahim, semoga bisa menambah wawasan dan menambah keimanan kalian terhadap Allah SWT.

Beri Konten ini 5 Bintang Dong!
[Total: 0 Average: 0]