Sunan Giri : Biografi, Sejarah, Metode Dakwah, Makam, Peninggalan, dan Kisahnya Lengkap

Sunan Giri merupakan salah satu orang yang pernah berjasa di tanah Jawa dalam syiar agama Islam. Beliau memiliki nama lain seperti Sultan Abdul Faqih, Raden Ainul Yaqin, Prabu Satmata, Raden Paku, dan Joko Samudra.

Beliau merupakan salah satu Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di daerah Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Untuk lebih jelasnya lagi, silahkan simak ulasan lengkap dari Sudut Nusantara berikut ini.

Biografi Sunan Giri

biografi sunan giri
Nama AsliRaden Paku
Nama LainPrabu Satmata, Raden Ainul Yaqin, Sultan Abdul Faqih, Joko Samudro
Nama AyahSyekh Maulana Ishaq
Nama IbuDewi Sekardadu
Tahun Lahir1443 M
Tahun Wafat1506 M
Tempat SyiarDesa Giridento, Gresik, Jawa Timur
Tempat MakamGiri, Kebomas, Gresik, Jawa Timur

Sunan Giri merupakan putra dari pasangan Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu.

Menurut masyarakat Sunan Giri juga masih keturunan Rasulullah SAW. Pendapat tersebut diambil berdasarkan dari riwayat pesantren-pesantren yang ada di Jawa Timur dan catatan nasab Sa’adah Balawi Handramaut.

Karena garis keturunannya tersebut, beliau sangat dikenal dalam berdakwah ajaran agama Islam di pulau Jawa.

Sunan Giri lahir pada tahun 1443 M dan wafat di tahun 1506 M. Selama hidupnya beliau melakukan syiar agama islam di wilayah Giri, Gresik, Jawa Timur. Setelah meninggal, beliau juga dimakamkan di daerah tersebut.

Baca juga artikel mengenai penjelasan lengkap tentang Teks Biografi

Asal Usul Sunan Giri

asal usul sunan giri

Sunan Giri terlahir dari seorang ibu yang bernama Dewi Sekardadu dan ayah yang bernama Maulana Ishaq. Maulana Ishaq merupakan salah satu tokoh mubaligh Islam yang berasal dari wilayah Asia Tengah.

Pada awalnya ayah dari Sunan Giri yaitu Syekh Maulana Ishaq memiliki sebuah ketertarikan untuk berdakwah di daerah Jawa Timur. Kemudian disana ia bertemu Sunan Ampel yang masih memiliki hubungan darah dengannya.

Sunan Ampel kemudian memberikan saran kepada Syekh Maulana Ishaq untuk berdakwah di daerah Blambangan, Banyuwangi.

Setelah Syekh Maulana Ishaq sampai di daerah Blambangan, ternyata masyarakat di daerah tersebut sedang terkena wabah penyakit yang tidak kunjung sembuh.

Penyakit dan wabah tersebut ternyata juga dirasakan oleh putri raja. Kemudian sang raja yang berkuasa di daerah tersebut membuat sebuah sayembara, dimana jika seorang pria bisa menyembuhkan putrinya maka akan dinikahkan dengannya. Namun jika perempuan, maka akan diangkat sebagai anak dan keluarga kerajaan.

Akhirnya sang raja memerintahkan prajuritnya untuk mencari orang yang bisa menyembuhkan penyakit tersebut. Para prajurit tersebut kemudian bertemu dengan Resi Kandayana seorang pertapa sakti, kemudian ia memberitahu kepada prajurit raja mengenai informasi keahlian yang dimiliki oleh Maulana Ishaq.

Sang raja kemudian bertemu dengan Syekh Maulana Ishaq, beliau mau menyembuhkan wabah penyakit sang putri yang bernama Dewi Sekardadu namun dengan syarat semua anggota keluarga harus mau memeluk ajaran agama Islam.

Setelah Maulana Ishaq berhasil mengobati penyakit sang putri, akhirnya beliau dinikahkan dengan putri Dewi Sekardadu dan semua anggota keluarga harus berpindah kepercayaan ke agama Islam.

Namun sang raja menolak untuk memeluk agama Islam dan merasa iri hati dengan keberhasilan Syekh Maulana Ishaq.

Meski Syekh Maulana Ishaq tetap dinikahkan dengan Dewi Sekardadu, namun raja masih membencinya dan memerintahkan pasukannya untuk membunuh Maulana Ishaq.

Dengan begitu beliau merasa tidak nyaman di Blambangan lalu memilih untuk kembali ke Pasai, Aceh.

Setelah kembali ke Aceh, ternyata sang istri Dewi Sekardadu sedang mengandung bayi.

Setelah bayi tersebut lahir, raja Blambangan memerintahkan untuk membunuh bayi itu dan menghanyutkannya ke selat Bali.

Bayi terebut kemudian terkatung-katung di samudra yang luas, akhirnya bayi tersebut ditemukan oleh kapal saudagar kaya dari Gresik yakni Nyai Ageng Pinatih.

Nyai Ageng Pinatih kemudian memungut dan mengangkat bayi tersebut menjadi anaknya dan diberi nama Joko Samudro.

Sejarah Lengkap Sunan Giri

sejarah raden paku

Sunan Giri memiliki nama julukan atau nama lain yang cukup banyak. Nama tersebut bukan sembarang nama, karena julukan atau nama-nama lain dari Sunan Giri sesuai dengan kejadian yang terjadi di dalam kehidupannya.

Beberapa nama tersebut yaitu Raden Paku, Jaka Samudra, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, dan Muhammad Ainul Yaqin.

Dari jalur keturunan ayahnya, beliau masuh keturunan Rasulullah Muhammad SAW ke-23.

Beliau merupakan seorang putra dari ibunya yang berama Dewi Sekardadu yang merupakan putri dari Prabu Menak Sembuyu (Raja Blambangan), dan seorang ayah bernama Maulana Ishaq bin Maulana Akbar yang merupakan seorang mubaligh ternama dari Asia Tengah.

Saat beliau berumur belasan tahun, beliau diasuh oleh seorang kaya raya dari Gresik yang kemudian menjadi ibu angkatnya yaitu Nyai Ageng Pinatih.

Beliau kemudian disekolahkan di sebuah pesantren yang didirikan oleh Sunan Ampel (Raden Ahmad). Beliau belajar di pesantren tersebut selama 7 tahun dan lulus dengan gelar Ainul Yaqin.

Sunan Giri kemudian mendirikan sebuah pesantren di daerah perbukitan Sidomukti, Gresik pada tahun 1481 M. Pesantren tersebut berhasil berkembang dengan pesat hingga menjadi sebuah kerajaan bernama Kerajaan Giri Kedaton.

Karena kewibawaan dan kecerdasan yang dimilikinya, beliau kemudian diangkat menjadi Ahlul Halli Wal Aqdi yang merupakan seorang penentu kebijakan pemerintah untuk menyebarkan Agama Islam di Pulau Jawa oleh Sultan Demak Bintaro pada tahun 1485 M.

Setelah peristiwa tersebut, kemudian Raden Paku atau Sunan Giri diangkat oleh Raden Fatah yeng merupakan Sultan Demak 1 menjadi Raja Giri Kedaton pada tahun 9 Maret 1487. Tanggal tersebut kemudian dijadikan sebagai hari jadi atau hari lahirnya Kota Gresik.

Dalam ilmu agama, Muhammad Ainul Yaqin atau Sunan Giri sangat terkenal dengan ilmu pengetahuannya yang sangat luas, terutama dalam bidang ilmu fiqih, oleh karena itu beliau juga diberi julukan Sultan Abdul Faqih.

Selain itu, beliau juga berperan dalam menghasilkan berbagai karya seni, seperti tembang ilir-ilir, cublak-cublak suweng, asmarandhana, dan pucung.

Meski tembang tersebut bernuansa dan berbahasa Jawa, namun isi atau lirik didalamnya mengandung pesan dan ajaran Islam.

Sebagai Waliyullah yang juga termasuk ke dalam jajaran Walisongon, beliau tidak hanya menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa saja, namun juga ke beberapa daerah di luar Jawa.

Terdapat sebuah riwayat dimana beliau juga berdakwah sekaligus berdagang di wilayah Kalimantan Barat, tepatnya yaitu di kota Banjarmasin pada tahun 1462 M. Bahkan disana beliau tidak hanya menjual barang dagangan saja, namun bahkan membagikan dagangan tersebut secara gratis pada kaum dhuafa, orang-orang yang membutuhkan, dan fakir miskin.

Bahkan saat beliau pulang menuju kembali ke Kota Gresik dengan menggunakan kapal, beliau mengisi kapal tersebut dengan bebatuan dan kerikil dengan tujuan agar kapal tersebut tidak oleng atau terombang-ambing saat berlayar.

Namun dengan kuasa Allah, bebatuan dan kerikil tersebut kemudian berubah menjadi barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat Gresik.

Dalam sebuah riwayat, beliau pernah melangsungkan pernikahan 2 kali. Dimana pada saat pagi hari beliau menikahi seorang gadis bernama Dewi Murthosiyah yang merupakan seorang putri dari Sunan Ampel. Lalu pada sore harinya, Sunan Giri menikah lagi dengan seorang wanita bernama Dewi Wardah yang merupakan putri dari Ki Ageng Bungkul (Sunan Bungkul).

Baca juga tentang apa itu Teks Cerita Sejarah

Kisah Pertemuan Sunan Giri dengan Ayahnya

kisah sunan giri

Nama asli Sunan Giri adalah Raden Paku. Selain Raden Paku, beliau juga dikenal dengan beberapa lain, salah satunya yaitu Joko Samudra, nama tersebut diberikan oleh seorang saudagar bernama Nyai Ageng Pinatih yang menemukannya dan mengangkatnya menjadi seorang anak.

Beliau kemudian tumbuh besar di sebuah Pesantren milik Sunan Ampel, beliau sangatlah cerdas dan terlihat paling mencolok dari santri lain. Oleh karena itu Sunan Ampel kemudian membernya nama Maulana Ainul Yaqin. Pada saat itu, Sunan Ampel juga telah mengetahui bahwa Sunan Giri merupakan putra kandung dari Maulana Ishaq.

Setelah kurang lebih 7 tahun beliau berlajar di pesantren Sunan Ampel, Sunan Ampel mengutusnya beserta putranya sendiri yang bernama Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) untuk menuntut ilmu ke Mekkah. Namun sebelum mereka pergi ke Mekkah mereka harus terlebih dahulu singgah di Pesai, Aceh untuk bertemu dengan Syekh Maulana Ishaq.

Cara tersebut Sunan Ampel lakukan untuk mempertemukan Sunan Giri dengan ayahnya. Pada akhirnya mereka bertemu dan memutuskan untuk menimba ilmu bersama ayahnya Syekh Maulana Ishaq selama 7 tahun.

Setelah 7 tahun menuntut ilmu di Pesai, kemudian mereka berdua kembali ke pulau Jawa. Namun sebelum mereka pergi, Syekh Maulana Ishaq mebekali Sunan Giri dengan segenggam tanah.

Syekh Maulana Ishaq kemudian memberikan amanat kepada Maulana Ainul Yaqin untuk mendirikan sebuah pesantren di tempat yang warna dan bau tanahnya sama dengan tanah yang diberikannya tersebut.

Setelah Sunan Giri bertagakur kepada Allah selama 40 hari dan memohon untuk diberikan petunjuk, akhirnya Raden Paku atau Sunan Giri mendirikan sebuah pesantren di wilayah Sidomukti, Gresik.

Meski pesantren tersebut berada di wilayah perbukitan namun banyak santri dari berbagai daerah yang menuntut ilmu di pesantren tersebut.

Kisah Perjuangan Dakwah Sunan Giri

perjuangan dakwah raden paku

Puncak perjuangan dakwah Sunan Giri yaitu saat beliau berhasil mendirikan sebuah pesantren yang diamanahkan oleh ayahnya.

Pesantren tersebut dibangun di perbukitan Desa Sidomukti, Gresik, Jawa Timur. Seiring berjalannya waktu, pesantren tersebut semakin dikenal di Pulau Jawa bahkan di seluruh nusantara. Baru 3 bulan saja pesantren ini sudah memiliki banyak santri yang ingin menimba ilmu bersama Sunan Giri.

Saking banyaknya santri yang menuntut ilmu agama Islam di pesantren tersebut, membuat pesantren itu semakin terkenal. Hal tersebut yang membuat perjuangan dakwah beliau di Pulau Jawa semakin mudah.

Beliau juga memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap kerajaan-kerajaan Islam yang ada di Pulau Jawa bahkan di luar Pulau Jawa.

Sunan Giri selanjutnya juga mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Giri Kedaton, dimana kerajaan ini mampu bertahan selama 200 tahun.

Setelah beliau meninggal, kedudukannya kemudian digantikan oleh beberapa keturunannya. Diantaranya yaitu Sunan Dalem, Sunan Giri Prapen, Sunan Sedo Margi, Sunan Kawis Guwa, Panembahan Ageng Giri, dan Panembahan Mas Witana Sideng Rana.

Kemudian dilanjutkan kembali oleh Pangeran Sidonegoro (bukan keturunan Sunan Giri), dan dilanjutkan lagi oleh Pangeran Singosari.

Pada masa kepemimpinan Pangeran Singosari, terjadi sebuah serangan dari Sunan Amangkurat II yang ingin merebut kerajaan tersebut. Pangeran Singosari dari pasukannya berjuang keras demi mempertahankan Kerajaan yang dibuat oleh Sunan Giri.

Pada saat itu, beliau kemudian dibantu oleh Kapten Jonker dan juga VOC. Pada akhirnya Pangeran Singosari berhasil mempertahankan Kerajaan Sunan Giri tersebut.

Namun setelah Pangeran Singosari meninggal pada tahun 1679 M, kemudian kerajaan Giri Kedaton tersebut ikut hancur.

Meski begitu, nama Raden Paku atau Sunan Giri masih tetap dikenang hingga saat ini, karena beliau merupakan seseorang yang sangat mulia.

Metode Dakwah Sunan Giri

metode dakwah sunan giri

Pusat kegiatan dakwah Sunan Giri berada di Kerajaan Giri Kedaton yang beliau dirikan, sehingga di wilayah kerajaan tersebut mayoritas penduduknya memeluk ajaran agama Islam.

Salah satu metode efektif untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia adalah dengan mendirikan pondok pesantren. Metode tersebut juga dipergunakan oleh Sunan Giri, beliau mendirikan sebuah pesantren untuk memberikan pendidikan agama Islam.

Dalam melakukan dakwahnya, beliau menciptakan beberapa lagu atau tembang untuk anak-anak. Lagu tersebut dibuatnya dengan tujuan agar anak-anak atau santri yang ada di pesantren tersebut lebih mudah untuk menyerap ilmu ajaran agama Islam.

Beberapa lagu yang beliau ciptakan yaitu Lir-ilir dan Dolanan Bocah, lirik lagu tersebut berisi tentang berbagai nilai-nilai atau pesan yang diambil dari ajaran Islam. Bahkan lagu tersebut juga masih banyak dinyanyikan hingga saat ini.

Selain melalui lagu, beliau juga menciptakan berbagai permainan seperti Jelungan atau Jitungan yang hingga saat ini masih banyak dimainkan oleh masyarakat Jawa Timur.

Permainan tersebut diciptakan dengan tujuan untuk mengajarkan seseorang untuk bisa selamat dalam hidup di dunia dan di akhirat. Caranya yaitu dengan berpegang teguh terhadap ajaran agama Islam.

Peran Sunan Giri dalam Dakwah

peran sunan giri

Dalam perjuangan dakwahnya, Sunan Giri memiliki berbagai peran penting dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara. Berikut ini beberapa peran besar beliau dalam berdakwah di Pulau Jawa.

1. Peran di Blambangan, Jawa Timur

Setelah Raden Paku atau Sunan Giri melaksanakan ibadah haji di Mekah, beliau kemudian diberi amanat oleh Sunan Ampel untuk melakukan dakwah di daerah Blambangan, Jawa Timur.

Blambangan, Jawa Timur merupakan tempat kelahiran ibu kandungnya dan daerah yang dipimpin oleh kakeknya yaitu Prabu Minak Sembuyu yang dulu pernah membuang Sunan Giri ke samudera.

Meski begitu, saat Sunan Giri datang ke daerah tersebut, Prabu Minak Sembuyu sangat senang. Bahkan ia juga mengizinkan Sunan Giri untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di daerah tersebut.

Hingga agama Islam di daerah tersebut berkembang dengan pesat, dan pada akhirnya agama Hindu dan Buddha mulai tersisih dari daerah tersebut dan bergeser ke Pulau Bali yang sampai saat ini masih berkembang.

2. Peran di Kota Gresik, Jawa Timur

Pada suatu ketika Sunan Ampel juga pernah menugaskan Sunan Giri untuk mendatangi ibu angkatnya yaitu Nyai Ageng Pinatih di Kota Gresik. Namun maksud dari Sunan Ampel bukanlah itu saja, dimana Sunan Giri juga ditugaskan untuk membantu kegiatan berdagang ibunya tersebut sembari berdakwah.

Sunan Giri tentu selalu melakukan dakwah ajaran Islam pada saat sedang membantu ibunya berdagang. Pernah pada suatu ketika keajaiban terjadi, dimana karung yang tadinya berisi pasir dan batu berubah menjadi berisi emas, damar, rotan, dan berbagai benda yang dibutuhkan saat itu.

Selain itu, Sunan Giri juga berhasil mengubah ibu angkatnya yang semula tidak pernah bersedekah menjadi orang yang sangat suka berzakat dan bersedekah.

Hal tersebut kemudian menjadikan Kota Gresik mengalami perkembangan yang sangat pesat terkait agama Islam.

3. Membuat Sebuah Pesantren

Setelah menikah, beliau tetap melaksanakan kegiatan dakwah dan tetap membantu ibunya untuk berdagang yang membuat beliau semakin dikenal secara luas.

Dengan begitu banyak orang-orang berdatangan untuk belajar ilmu agama Islam dengan beliau.

Agar bisa fokus untuk berdakwah dan mengajarkan agama Islam dengan sempurna, beliau kemudian meminta izin kepada ibunya untuk berhenti dari dunia perdagangan.

Kemudian setelah mendapatkan izin dari ibu angkatnya, Sunan Giri kemudian pergi ke sebuah goa yang ada di Desa Kembangan, Kota Gresik untuk melakukan tafakur selama 40 hari 40 malam. Selepas itu beliau kemudian teringan dengan segenggam tanah yang pernah diberikan ayahnya untuk mendirikan sebuah pesantren di tanah Jawa.

Hal tersebut yang kemudian mendasari pendirian pesantren yang dibantu oleh masyarakat sekitar dan ibu angkatnya.

4. Peresmian Masjid Demak

Saat peresmian Masjid Demak yang diresmikan oleh Sunan Kalijaga mempersembahkan sebuah pertunjukan wayang, ternyata Sunan Giri ikut berperan dalam peristiwa besar tersebut.

Pada awalnya pertunjukan wayang yang ingin dipersembahkan merupakan wayang rupa seperti wajah manusia atau yang disebut juga dengan wayang beber.

Namun hal tersebut ditentang oleh Sunan Giri karena kurang sesuai dengan ajaran Islam. Pada akhirnya Sunan Kalijaga berpikir dan mengganti hal tersebut dengan menggunakan bentuk wayang karikatur, yang saat ini dikenal dengan wayang kulit.

Peresmian Masjid Demak dibuka untuk umum secara gratis. Namun sebagai gantinya, persyaratan untuk bisa melihat pertunjukan tersebut adalah dengan mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk agama Islam.

Hal tersebut membuat banyak orang yang masuk ke agama Islam.

Jasa-Jasa Sunan Giri

jasa raden paku

Jasa terbesar dari Sunan Giri yaitu dalam menyebarkan ajaran agama Islam di Nusantara khususnya di tanah Jawa.

Selain itu beliau juga pernah menjadi hakim dalam perkara Syekh Siti Jenar yang merupakan seorang wali yang dianggap murtad karena meremehkan syariat Islam yang telah disebarkan oleh para wali dan juga menyebarkan faham pahteisme.

Dengan adanya kejadian tersebut, Sunan Giri kemudian mengambil tindakan untuk menghambat tersebarnya aliran yang bertentangan dengan faham Ahlusunnah Wal Jama’ah.

Keteguhan dan pendirian Sunan Giri dalam menyiarkan syariat Islam membawa dampak positif bagi generasi Islam selanjutnya. Beliau terus berpegang dengan syariat Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad tanpa mencampurinya dengan adat istiadat.

Selain di bidang dakwah agama secara langsung, Sunan Giri juga sangat berjasa dalam bidang kesenian dengan membuat lagu Pucung dan Asmarandhana.

Dimana setiap tembang yang beliau ciptakan mengandung unsur-unsur dan ajaran agama Islam didalamnya. Sehingga anak-anak bisa dengan mudah mempelajari ajaran Islam.

Selain itu, beliau juga menciptakan berbagai permainan anak yang juga mengandung nilai-nilai Islam di setiap liriknya, yaitu Jithungan, Jamuran, Delikan, dan Cublak-Cublak Suweng.

Karomah Sunan Giri

karomah sunan giri

Sebagai seorang wali, Sunan Giri memiliki berbagai karomah ayng sangat luar biasa. Berikut ini beberapa karomah Sunan Giri.

1. Mengubah Batu dan Kerikil Menjadi Barang Berharga

Pernah suatu saat, Sunan Giri membantu ibunya untuk berdagang hingga ke Kalimantan beserta beberapa orang rombonganya.

Sesampainya di Kalimantan, Sunan Giri menjual barang dagangan tersebut tidak secara kontan, melainkan boleh dicicil oleh pembelinya tanpa bunga sedikitpun. Bahkan sebagian dari barang dagangan tersebut juga dibagikan kepada orang yang membutuhkan, fakir miskin, dan dhuafa.

Melihat hal yang dilakukan oleh Sunan Giri, Abu Hurairah yang merupakan orang kepercayaan dari ibu angkat Sunan Giri yaitu Nyai Ageng Pinatih memprotesnya. Menurutnya jika hal tersebut terus dilakukan maka saat pulang tidak akan membawa keuntungan bahkan dengan tangan hanmpa.

Hal tersebut benar adanya, setelah 10 hari di Kalimantan akhirnya rombongan tersebut pulang ke Jawa. Dimana orang-orang yang mencicil barang dagangan tersebut belum sempat membayarnya hingga penuh.

Dengan demikian maka kapal yang dipimpin oleh Abu Hurairah itu pulang ke tanah Jawa tanpa membawa keuntungan sedikitpun. Mereka juga tidak bisa membawa barang lain dari Kalimantan karena tidak ada modal untuk membelinya.

Abu Hurairah juga menuturkan jika kapal berlayar tanpa muatan barang maka bisa membahayakan proses pelayaran. Karena tanpa adanya muatan akan membuat kapal tersebut terombang-ambing oleh angin dan ombak di laut lepas.

Dengan alasan tersebut kemudian Sunan Giri memerintahkan anggota kapal untuk mengisi karung-karung dengan bebatuan dan pasir agar kapal memiliki muatan.

Sesampainya di tanah Jawa tepatnya di Kota Gresik, Abu Hurairah langsung menyampaikan kejadian yang terjadi di Kalimantan kepada Nyai Ageng Pinatih. Dengan begitu otomatis SUnan Giri mendapatkan marah besar dari ibu angkatnya itu.

Namun Sunan Giri tetap tenang dan meminta ibu angkatnya dan Abu Hurairah untuk memeriksa kapal yang digunakan untuk berlayar ke Kalimantan itu.

Betapa terkejutnya Abu Hurairah dan Nyai Ageng Pinatih setelah mengecek dan melihat apa yang terdapat pada kapal tersebut.

Bawaan kapal yang sebelumnya berupa batu dan pasir kemudian berubah menjadi barang dagangan dari Kalimantan, seperti rotan dan damar.

Dengan kejadian tersebut, Nyai Ageng Pinatih semakin sadar bahwa anak angkatnya tersebut bukan orang sembarangan dan memiliki karomah yang luar biasa dari Allah. Ia kemudian semakin tertarik untuk belajar ilmu agama Islam.

2. Adu Kesaktian dengan Begawan Minto Semeru

Kisah para wali yang ditantang adu kesaktian hampir terjadi di semua Walisongo. Salah satunya yaitu Sunan kudus yang ditantang oleh Ki Ageng Kedu dan Sunan Bonang yang ditantang oleh Brahmana dari India.

Sunan Giri juga mengalami hal yang sama, dimana beliau ditantang adu kesaktian oleh tokoh Hindu yang cukup terkenal pada masa itu yakni Begawan Mintu Semeru.

Begawan Mintu Semeru memiliki sebuah padepokan di lereng gunung Lawu, Jogorogo, Ngawi, Jawa Timur. Ia memiliki kesaktian yang cukup tinggi, dengan adanya Sunan Giru yang berdakwah ajaran agama Islam membuat Begawan Mintu Semeru naik pitam dan menantang Sunan Giri untuk beradu kesaktian.

Ia kemudian datang ke Gresik untuk mencari dan menantang Sunan Giri. Pada akhirnya Sunan Giri menerima tantangan dari Begawan Mintu Semeru.

Dalam adu kesaktian tersebut terjadi 4 pertarungan, diantaranya yaitu:

  • Adu kesaktian jubah dan ikat kepala
  • Menumpuk ribuan butir telur
  • Tempayang melayang di udara
  • Merubah angsa menjadi singa

Dari semua itu, Sunan Giri berhasil memenangkannya dan Begawan Minto Semeru mengakui kekalahannya itu.

Pada akhirnya Begawan Minto Semeru menjadi santri di pesantren Sunan Giri. Setelah beberapa bulan belajar di pesantren tersebut, Begawan Minto Semeru memutuskan untuk kembali ke padepokannya itu dan mengajak murid-muridnya untuk memeluk agama Islam.

Makam Sunan Giri

makam sunan giri

Sunan Giri meninggal pada usia 63 tahun, beliau meninggal di malam Jumat tanggal 24 Rabiul Awal 913 Hijriah (1506 Masehi / 1428 Saka). Sehingga pada hari Jumat terakhir di bulan Rabiul Awal di setiap tahunnya diperingati oleh umat muslim di Kota Gresik dan sekitarnya dengan melakukan Haul Sunan Giri.

Sunan Giri dimakamkan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Untuk menuju ke makam Sunan Giri tidaklah sulit, karena letaknya berada di perbatasan Kota Gresik dan Surabaya.

Untuk menuju ke makam tersebut hanya berjarak sekitar 2 km ke arah selatan dari pusat Kota Gresik. Komplek makam tersebut tepatnya berada di Puncak Bukit Giri.

Letak makam Sunan Giri juga hanya berjarak sekitar 10 menit perjalanan dari makam Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim).

Sebelum memasuki makam Sunan Giri, akan diawali dengan sebuah pintu gapura dengan bentuknya yang menyerupai candi Bentar. Dimana terdapat 2 patung kepala naga sebagai simbol tanggal wafat beliau.

Pada pelataran makam Sunan Giri juga terdapat cukup banyak makam. Makam-makam tersebut diantaranya merupakan makam Bupati, tokoh, atau pemimpin wilayah Gresik zaman dahulu.

Peninggalan Sunan Giri

giri kedaton

Sepeninggal beliau, Sunan Giri meninggalkan beberapa peninggalan yang masih terjaga hingga kini. Berikut ini beberapa peninggalan dari Sunan Giri.

1. Masjid

Peninggalan Sunan Giri yang pertama yaitu sebuah masjid. Masjid tersebut lokasinya berada di sebelah makam beliau. Masjid asli peninggalan beliau yaitu bangunan yang berada di bagian tengah.

Masjid tersebut memiliki gaya arsitektur yang cukup unik, karena mengkombinasikan antara gaya arsitektur Islam, Jawa, dan Hindu.

2. Giri Kedaton

Salah satu peninggalan Sunan Giri yang paling terkenal yaitu Giri Kedaton. Giri sendiri memiliki arti bukit, dan kedaton berarti keraton.

Giri Kedaton tersebut dahulu digunakan sebagai pusat pemerintahan kerajaan Giri yang dipimpin oleh Sunan Giri, Giri Kedaton tersebut juga merupakan sebuah pondok pesantren.

Menurut sejarah, kerajaan Giri tersebut mampu bertahan sekitar 200 tahun dan telah melewati beberapa generasi.

Lokasi Giri Kedaton sangatlah strategis, dimana Giri Kedaton terletak di tempat paling tinggi di Gresik yaitu di Desa Sidomukti.

3. Museum

Semua peninggalan beliau juga tersimpan rapi di sebuah Museum Sunan Giri. Museum tersebut terletak di area terminal bus Maulana Malik Ibrahim yang juga tidak jauh dari alun-alun Kota.

Di dalam museum tersebut bisa ditemukan berbagai benda peninggalan dari Sunan Giri.

4. Telogo Pegat

Peninggalan Sunan Giri yang terakhir yaitu Telogo Pegat. Telaga ini memiliki bentuk yang sangat besar seperti danau.

Telogo Pegat ini terdapat di kawasan Giri, Kebomas, Gresik. Menurut warga setempat, telaga ini tidak pernah surut meskipun sedang terjadi kemarau panjang.

Demikian artikel lengkap mengenai Sunan Giri, semoga bisa menambah wawasan dan keimanan kalian dalam beragama.

Beri Konten ini 5 Bintang Dong!
[Total: 1 Average: 5]

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
2,887FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles

Beri Konten ini 5 Bintang Dong!
[Total: 1 Average: 5]