Sunan Drajat : Sejarah, Metode Dakwah, Karya, Makam, Peninggalan dan Kisahnya

Sunan Drajat

Perkembangan agama Islam di Indonesia mulai terlihat sejak awal tahun 1400 Masehi. Ajaran tersebut pertama kali dibawa oleh para pedagang dari tanah Arab, India, Turki, dan Gujarat.

Oleh karena itu, ajaran Islam di Indonesia kebanyakan mulai terjadi di daerah pesisir pantai. Untuk di pulau Jawa, dakwah Islam mulai disyiarkan di beberapa kota dekat pesisir seperti Demak, Gresik, Lamongan, Surabaya, dan Tuban.

Dakwah Islam di Nusantara mulai dilakukan oleh para ulama atau wali yang tergabung di dalam Walisongo.

Salah satu Walisongo yang berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di Jawa yaitu Sunan Drajat.

Beliau berhasil mengajarkan agama Islam di pulau Jawa khususnya di daerah Lamongan dan sekitarnya.

Untuk lebih lengkapnya lagi, silahkan simak ulasan dari Sudut Nusantara di bawah ini.

Biografi Sunan Drajat

biografi sunan drajat
Nama AsliRaden Qosim
Nama LainRaden Syarifuddin, Sunan Mayang Madu, Sunan Mahmud, Sunan Muryapada, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Raden Imam
Nama AyahRaden Rahmat (Sunan Ampel)
Nama IbuNyai Ageng Manila
Saudara KandungSunan Bonang, Siti Syari’ah, Asyikah, Dewi Murtasiyah, Siti Hafsah, Siti Muthmainnah
AnakSandi, Dewi Wuryan, Rekyana
Tahun Lahir1470 Masehi
Tahun Wafat1522 Masehi
Tempat DakwahDesa Drajat, Lamongan
MakamLamongan

Nama asli dari Sunan Drajat adalah Raden Qosim atau Raden Syarifuddin. Beliau merupakan putra dari seorang wali yaitu Sunan Ampel.

Selain Sunan Drajat, Sunan Ampel juga memiliki putra lain yang juga menjadi wali di walisongo yaitu Sunan Bonang.

Sejak masih kecil Raden Qosim memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata, sehingga beliau bisa mengusai berbagai materi atau ajaran agama Islam.

Julukan Sunan Drajat tersebut beliau dapatkan setelah berhasil menyebarkan ajaran agama Islam di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Selain mendapatkan gelar Sunan Drajat, beliau juga mendapatkan gelar lain yang diberikan oleh Raden Patah yaitu Sunan Mayang Madu.

Jika dilihat dari nasab keluarganya, Sunan Drajat merupakan anak kedua dari lima bersaudara.

Selain itu, beliau juga merupakan cucu dari Syekh Maulana Malik Ibrahim yang menjadi pelopor penyebaran agama Islam di wilayah Jawa.

Jika silsilahnya ditarik lebih jauh lagi, maka Sunan Drajat juga masih termasuk keturunan Nabi Muhammad yang berasal dari Syekh Jamaludin Akbar yang tersambung dengan Sayyidina Husein.

Sunan Drajat dikenal memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi, hal tersebut terbukti saat beliau berusaha untuk mengentaskan kemiskinan agar rakyat bisa hidup makmur.

Sejarah Kehidupan Sunan Drajat

sejarah sunan drajat

Beliau terlahir sebagai anak kedua dari lima bersaudara. Saudara dari Sunan Drajat diantaranya yaitu Sunan Bonang, Nyai Ageng Maloka, Siti Muntisiyah, dan juga istri dari Sunan Kalijaga.

Sejak masih kecil, Sunan Drajat dikenal sebagai anak yang memiliki kecerdasan yang luar biasa. Dengan kecerdasannya tersebut, Sunan Ampel menyarankan putranya tersebut untuk melakukan dakwah di kemudian hari.

Pada awalnya, Raden Syarifudin tidak tertarik dengan dunia dakwah. Namun sang Ayah tetap memberikan perintah kepada beliau untuk bisa berdakwah seperti kakaknya.

Perintah dari ayahnya tersebut tidak smerta-merta langsung diterima oleh Raden Qasim. Beliau kemudian memutuskan untuk membantu sang kakak saja dan belum memiliki keinginan untuk berdakwah sendiri.

Namun, Sunan Ampel tidak menyerah begitu saja dalam membujuk anaknya agar menjadi seorang pendakwah. Ayahnya kemudian memerintahkan Sunan Drajat untuk pergi ke wilayah Jawa Timur dan berdakwah disana.

Saran dari ayahnya tersebut ternyata juga masih ditolak dengan alasan bahwa ajaran Hindu masih sangat kental di wilayah tersebut, sehingga Raden Qasim merasa keberatan.

Namun, sang ayah tetap gigih untuk terus membimbing anaknya untuk mau berdakwah sendiri. Pada akhirnya, Sunan Ampel lebih memilih untuk memberi kebebasan pada Raden Qasim untuk memilih tempat berdakwahnya sendiri.

Lagi-lagi Raden Qasim tidak langsung menyetujui hal tersebut, beliau meminta waktu untuk berpikir panjang dan matang.

Setelah beranjak dewasa, Sunan Drajat mulai tertarik untuk menjadi pendakwah seperti kakaknya yaitu Sunan Bonang. Namun ayahnya yaitu Sunan Ampel berpesan agar Raden Qasim tidak berdakwah ditempat yang sama dengan kakaknya.

Keinginan berdakwahnya semakin tinggi, Raden Qasim terus berusaha untuk mewujudkan keinginannya tersebut, beliau terus belajar dan mendalami ilmu agama Islam secara sungguh-sungguh.

Setelah menguasai ilmu agama Islam, Raden Qasim kemudian memutuskan untuk segera berdakwah. Beliau memilih tempat dakwah yang cukup ramai. yaitu di Desa Drajat, Lamongan, Jawa Timur.

Beliau kemudian berhasil berdakwah di tempat tersebut dan mendapat julukan sebagai Sunan Drajat. Saat berdakwah, beliau berhasil berkuasa secara otonomi di Kerajaan Demak selama kurang lebih 36 tahun.

Saat menebarkan ajaran agama Islam, beliau memiliki cara sendiri yaitu dengan berbaur dengan masyarakat.

Namun dakwahnya tidak semudah itu, tapi beliau tetap sabar dan terus berusaha untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut.

Salah satu cara yang beliau gunakan untuk menyebarkan ajaran Islam yaitu dengan mensejahterakan masyarakat.

Dengan caranya tersebut, beliau berhasil menarik perhatian dan hati masyarakat untuk mengenal Raden Qasim sebagai wali yang memiliki jiwa sosial tinggi dan selalu memperhatikan rakyat kecil.

Sedikit demi sedikit, banyak rakyat yang mau belajar ajaran Islam dan memeluk agama Islam. Perkembangan dakwah beliau juga berkembang cukup pesat.

Setelah berhasil melakukan dakwah di Desa Drajat, Raden Qasim kemudian memutuskan untuk melanjutkan dakwahnya di daerah pesisir utara.

Sesampainya beliau di kawasan pesisir utara, Raden Qasim kemudian berusaha untuk berbaur dengan masyarakat sekitar. Sunan Drajat selalu melakukan komunikasi dengan masyarakat yang pada umumnya merupakan seorang nelayan.

Pada saat bertemu seorang nelayan, beliau kemudian bercerita bahwa terdapat ikan yang boleh dimakan dan yang tidak.

Sunan Drajat menhelaskan hal tersebut secara rinci sehingga membuat nelayan merasa terbantu untuk membedakan mana ikan yang baik dan yang tidak.

Dengan begitu, banyak nelayan yang merasa senang dan terbantu oleh Sunan Drajat. Sejak saat itu, nelayan mulai percaya dengan Sunan Drajat.

Setelah banyak menjalin komunikasi dengan masyarakat dan sudah mulai banyak dikenal, Sunan Drajat memutuskan untuk melanjutkan kegiatan dakwahnya di desa Drajat.

Terdapat berbagai pertimbangan kenapa Sunan Drajat memilih daerah tersebut sebagai tempat untuknya berdakwah. Pertimbangan pertama adalah karena adanya kegiatan Islami yang terjadi secara tidak langsung pada masyarakat Hindu saat itu.

Hal tersebut membuat banyak umat Hindu di daerah tersebut menjadi penasaran akan kegiatan tersebut. Oleh karena itu masyarakat Hindu di daerah tersebut banyak berdatangan karena ingin belajar lebih dalam tentang Islam.

Sunan Drajat kemudian melanjutkan dakwahnya bersama beberapa para santri.

Metode Dakwah Sunan Drajat

metode dakwah raden qasim

Masyarakat tentu akan sangat progresif dengan perubahan yang ada dalam budayanya. Untuk mengatasi hal tersebut Sunan Drajat memiliki berbagai strategi atau metode dakwah agama Islam. Berikut ini metode dakwah Sunan Drajat:

1. Menjadi Bagian Penting dari Masyarakat

Strategi pertama Sunan Drajat untuk menyebarkan agama Islam adalah dengan menjadi bagian penting di dalam masyarakat. Strategi yang beliau terapkan agar menjadi bagian terpenting di masyarakat adalah dengan menikahi putri-putri dari para petinggi desa.

Dengan strategi tersebut, Sunan Drajat bisa lebih mudah untuk mengajak para pemimpin dan rakyat untuk belajar dan masuk agama Islam. Selain itu, setelah menjadi orang penting di dalam masyarakat, beliau juga bisa dengan mudah mengajak orang-orang kaya di daerah tersebut untuk berinfak.

Selain dengan cara menikahi putri petinggi desa, Sunan Drajat juga menerapkan cara lain agar bisa menjadi bagian penting di dalam masyarakat, yaitu dengan menyembuhkan orang-orang yang sakit melalui doa dan obat herbal.

Selain itu, beliau juga membuat sebuah sumur yang bernama Sengsanga di daerah Sumenggah. Dengan terciptanya sumur tersebut, masyarakat merasa semakin terbantu oleh Sunan Drajat.

2. Memperhatikan dan Mengayomi Masyarakat

Sunan Drajat merupakan seorang wali yang sangat peduli dengan masyarakat dimana beliau tinggal. Salah satu buktinya yaitu dengan melakukan ronda dan mengitari perkampungan saat malam hari agar masyarakat terlindung dari gangguan makhluk halus yang pada saat itu sering meneror warga setempat.

Selain itu, sehabis ashar beliau selalu berkeliling untuk mengingatkan masyarakat agar mengentikan pekerjaannya dan mengajaknya untuk melakukan sholat maghrib berjamaah.

3. Mengentaskan Kemiskinan

Selain kepedulian yang tinggi, Sunan Drajat juga memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi.

Sunan Drajat selalu berusaha untuk mengentaskan kemiskinan yang ada pada daerah tersebut dengan berbagai cara. Setelah beliau mulai berhasil dan hati rakyat mulai bisa diambil, beliau kemudian mengajarkan ajaran agama Islam kepada mereka.

4. Menggunakan Kearifan dan Kebijaksanaan

Saat melakukan dakwahnya, beliau juga selalu menggunakan cara yang bijak dan tidak pernah sama sekali untuk memaksa seseorang masuk ke agama Islam.

Beliau juga melakukan berbagai pendekatan dengan masyarakat seperti dengan mendirikan pesantren, menggelar pengajian di masjid, dan juga memberikan petuah atau solusi bagai setiap permasalahan yang sedang di hadapi oleh rakyat.

Sunan Drajat selalu berfatwa kepada rakyatnya untuk tidak saling menyakiti satu sama lain, baik dari segi perkataan ataupun perbuatan. Beliau juga selalu mengajarkan untuk selalu tolong menolong terhadap sesama di dunia ini.

5. Menggunakan Kesenian

Metode lain yang diterapkan oleh Raden Qasim untuk menyebarkan ajaran agama Islam yaitu dengan melalui kesenian tradisional.

Jenis kesenian yang beliau gunakan adalah tembang atau lagu, dimana beliau menciptakan tembang pangkur yang dinyanyikan dengan diiringi alat musik gamelan. Tembang tersebut memiliki isi atau makna megenai nilai-nilai ajaran agama Islam.

Fakta menarik lainnya yaitu Sunan Drajat ternyata sangat ahli dalm bermain alat musik. Hal tersebut terbukti dengan adanya seperangkat alat musik gamelan dengan nama Singo Mengkok yang hingga kini masih tersimpan dengan baik di Museum Sunan Drajat.

6. Melalui Pitutur Sosial

Metode terakhir yang digunakan oleh Sunan Drajat dalam berdakwah agama Islam yaitu dengan mengajarkan cara hidup sebagai makhluk sosial yang baik.

Dengan berbagai metode di atas, Sunan Drajat berhasil menarik hati dan perhatian masyarakat untuk mau belajar ajaran agama Islam. Bahkan tidak sedikit orang-orang yang mau memeluk agama Islam.

Ajaran dan Filosofi Sunan Drajat

ajaran sunan drajat

Ajaran Islam yang diterapkan oleh Sunan Drajat tidak dilakukan dengan cara memaksa, beliau lebih memilih untuk berdakwah menggunakan cara dakwah bil hikmah, yaitu berdakwah dengan cara yang baik.

Beliau melakukan berbagai pendekatan dengan masyarakat seperti melaksanakan pengajian di masjid, mendirikan pesantren, dan juga memberi solusi terhadap setiap masalah yang sedang terjadi.

Terdapat dua ajaran atau filosofi yang diajarkan oleh Sunan Drajat, yaitu:

1. Ajaran Catur Piwulang

Filosofi atau pitutur yang diajarkan oleh Sunan Drajat dikenal dengan Catur Piwulang, dimana sampai saat ini pitutur ini masih tercatat di kompleks pemakaman.

Catur Piwulang diambil dari bahasa Jawa, dimana Catur berarti Empat dan Piwulang berarti Ajaran. Dimana Catur Piwulang terdiri dari 4 ajaran.

Isi ajaran Catur Piwulang:

  1. Wenehono teken marang wong kang wuto
  2. Wenehono pangan marang wong kang keluwen
  3. Wenehono payung marang wong kang kaudanan
  4. Wenehono sandang marang wong kang kawudan

Arti Catur Piwulang dalam Bahasa Indonesia:

  1. Berilah tongkat bagi orang buta
  2. Berilah makanan bagi orang kelaparan
  3. Berilah payung atau tempat untuk berteduh bagi orang kehujanan
  4. Berilah pakaian bagi orang yang tidak berpakaian

Ajaran tersebut memiliki makna untuk saling membantu satu sama lain dalam kehidupan di dunia ini.

Seperti ajaran untuk bersedekah, melindungi, dan memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan.

2. Ajaran Tujuh Sap Tangga

Selain ajaran Catur Piwulang, Raden Qasim juga mengajarkan filosofi kehidupan lain yang dinamakan dengan tujuh sap tangga. Berikut makna dari filosofi tujuh sap tangga:

  1. Memangun Resep Tyasing Sasoma
    Memangun resep tyasing Sasoma memiliki makna sebuah keharusan bagi kita untu mebuat hati semua orang merasa senang.
  2. Jroning Suka Kudu Eling lan Waspada
    Jroning suka kudu eling lan waspada memiliki makna yag berarti saat kita sedang dalam kondisi bahagia jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada Allah dan selalu waspada.
  3. Laksmitaning Subrata Tan Nyipta Marang Pringgabayaning Lampah
    Laksmataning subrata tan nyipta marang pringgabayaning lampah memiliki makna untuk tetap selalu teguh, berusaha keras, dan jangan putus asa untuk mencapai cita-cita yang luhur.
  4. Meper Hardaning Pacadriya
    Meper hardaning pacadriya memiliki arti atau anjuran untuk menahan besarnya nafsu yang ada dalam diri.
  5. Heneng-Hening-Henung
    Heneng-Hening-Henung memiliki arti saat kita terdiam maka akan menghadapi suasana yang hening, dan saat itu merupakan saat yang tepat untuk berdoa kepada Allah.
  6. Mulya Guna Panca Waktu
    Mulya guna panca waktu memiliki makna yaitu kebahagiaan akan selalu bisa didapatkan ketika melaksakan sholat lima waktu.
  7. Catur Piwulang
    Ajaran yang ketujuh merupakan ajaran utama untuk hidup bersosialisasi dan saling membantu satu sama lain yang tertuang dalam Catur Piwulang.

Karomah Sunan Drajat

karomah sunan drajat

Sama halnya dengan wali lainnya, Sunan Drajat juga diberi kelebihan berupa karomah dari Allah SWT. Berikut ini beberapa karomah yang dimiliki oleh Sunan Drajat.

1. Ditolong Ikan Cakalang dan Ikan Cucut

Pernah suatu ketika, kapal yang beliau tumpangi tenggelam di tengah lautan. Sunan Drajat kemudian berpegangan pada sebuah kayu atau dayung perahunya.

Kemudian Sunan Drajat terombang-ambing oleh besarnya ombak di lautan yang luas. Pada saat itu datanglah ikan cucut dan ikan cakalang yang akhirnya menyelamatkan beliau.

Beliau kemudian ditolong oleh ikan cakalang dan ikan cucut lalu dibawanya ke pesisir pantai di daerah Lamongan, Jawa Timur.

2. Memindahkan Masjid dalam Semalam

Suatu ketika Sunan Sendang Dhuwur meminta sebuah Masjid kepada Ratu Kalinyamat atau yang lebih dikenal dengan Mbok Rondo Mantingan. Ia kemudian mengizinkan untuk membawa masjid bangsawan yang ada di daerah Jepara untuk dibawa ke desa Sendang Dhuwur.

Namun dengan syarat, saat melakukan pemindahan masjid tersebut tidak boleh ada puing-puing pemindahan atau bekas pemindahan. Selain itu terdapat juga syarat lain yaitu harus memindahkannya dalam waktu satu malam.

Mendengar syarat tersebut, Sunan Sendang Dhuwur kemudian meminta bantuan kepada Sunan Drajat untuk membantu memindahkan masjid yang ada di Jepara ke desa Sendang Dhuwur.

Akhirnya dengan karomah yang diberikan oleh Allah SWT, Sunan Drajat berhasil memindahkan masjid yang ada di Jepara ke desa Sendang Dhuwur tanpa meninggalkan serpihan atau puing-puing.

Keesokan harinya, masyarakat desa Sendang Dhuwur kaget dan heran karena kemunculan masjid yang megah di desa tersebut. Padahal kemarin masjid tersebut belum ada di desanya itu.

Masyarakat Sendang Dhuwur merasa sangat bahagia dengan adanya masjid tersebut, mereka kemudian menggunakan masjid tersebut sebagai tempat ibadah sholat dan berbagai kegiatan keagamaan lain.

3. Membuat Sumur dari Lubang Bekas Umbi

Saat Sunan Drajat sedang melakukan perjalanan dakwah, beliau dan para pengikutnya merasa haus. Kemudian beliau dan pengikutnya memutuskan untuk beristirahat dan mencari air untuk menghilangkan rasa haus mereka.

Beberapa pengikutnya kemudian mencabut umbi hutan untuk diambil air yang ada didalamnya. Ketika itu Sunan Drajat berdoa dan meminta kepada Allah untuk diberikan air yang cukup. Saat itu juga keluar air yang memancar deras dari sebuah lubang bekas cabutan umbi.

Bahkan hingga sekarang air dari lubang tersebut masih terus keluar dan dijadikan sebuah sumur oleh warga setempat.

Karya Sunan Drajat

karya sunan drajat

Dalam melakukan syiarnya, beliau menggunakan seperangkat alat musik gamelan yang diberi nama Singo Mengkok sebagai salah satu metode dakwah yang beliau gunakan.

Hingga saat ini, seperangkat alat musik gamelan peninggalan dari beliau masih tersimpan rapi di dalam sebuah museum yang terletak di kompleks yang sama dengan makam beliau.

Selain gamelan, beliau juga menciptakan karya seni lain berupa lagu atau tembang Jawa yang dikenal dengan tembang Pangkur.

Hingga saat ini, tembang Pangkur masih banyak diajarkan di sekolah-sekolah sebagai salah satu tembang macapat pada mata pelajaran Bahasa Jawa.

Karya-karya tersebut dibuat oleh Sunan Drajat dengan tujuan dakwah, dengan karya seni tersebut masyarakat lebih tertarik dengan ajaran agama Islam.

Makam Sunan Drajat

makam sunan drajat

Keberhasilan beliau dalam mengembangkan dan mendakwahkan ajaran Islam membuatnya dijuluki dengan sebutan Kadrajat yang memiliki arti seseorang yang diangkat drajatnya.

Dari situlah nama atau sebutan Sunan Drajat muncul sekaligus menjadi gelar bagi Raden Syarifuddin karena telah berhasil mendakwahkan ajaran Islam dan mensejahterakan rakyat.

Setelah selama kurang lebih 36 tahun beliau melakukan dakwahnya, akhirnya beliau wafat yang diperkirakan sekitar tahun 1522 Masehi.

Sunan Drajat kemudian dikebumikan di sebuah perbukitan di desa Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Makam beliau diletakkan pada posisi paling tinggi yang ada di daerah tersebut.

Selain makam, dikomplek tersebut juga terdapat sebuah museum yang berisi peninggalan semasa hidup Sunan Drajat.

Dalam museum tersebut tersimpan dengan baik berbagai kumpulan tembang pangkur yang pernah dibuat beliau, dayung perahu yang pernah menyelamatkannya saat tenggelam di lautan, dan alat musik gamelan.

Museum Sunan Drajat dibangun oleh pemerintah dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur pada tanggal 1 Maret 1992.

Hingga saat ini kompleks makam Sunan Drajat masih terjaga dengan baik dan selalu dilakukam pemugaran atau pemeliharaan oleh pemerintah dan masyarakat setempat.

Tidak hanya itu saja, makam Sunan Drajat juga sering didatangi oleh para peziarah dari berbagai daerah.

Sebelum masuk ke kompleks pemakaman Sunan Drajat, terdapat sebuah puntu Gapura Paduraksa dengan hiasan cungkup. Terdapat juga sebuah kayu dengan motif sulur dan teratai.

Di dalam kompleks tersebut juga terdapat sebuah Masjid yang dulu digunakan sebagai tempat dakwah beliau.

Selain itu di kompleks pemakaman Sunan Drajat juga terdapat beberapa makam lain dari para santri, petinggi desa kala itu, dan beberapa tokoh lainnya.

Peninggalan Sunan Drajat

peninggalan sunan drajat

Setelah beliau wafat, Sunan Drajat meninggalkan berbagai peninggalan yang hingga saat ini masih terjaga dengan baik.

1. Kompleks Pemakaman

Seperti yang sudah dibahas di poin sebelumnya, kompleks pemakaman Sunan Drajat berada di daerah perbukitan yang adai di desa Drajat, Paciran, Lamongan. Daerah tersebut biasanya disebut dengan Ndalem Dhuwur.

Kompleks pemakaman tersebut merupakan salah satu peninggalan Sunan Drajat yang hingga saat ini masih banyak dikunjungi oleh para peziarah.

Di komplek pemakaman tersebut tidak hanya terdapat makam Sunan Drajat saja, namun juga terdapat beberapa makam lain dari para wali, santri, ulama, dan tokoh masyarakat pada saat itu.

2. Masjid Sunan Drajat

Sunan Drajat juga meninggalkan sebuah masjid yang terletak satu kompleks dengan pemakaman beliau.

Masjid tersebut merupakan masjid yang dulunya digunakan oleh Sunan Drajat untuk menyebarkan ajaran agama Islam.

Sampai saat ini, masjid tersebut masih terawat dengan baik dan terjaga keasliannya, meskipun masjid tersebut sudah pernah mengalami pemugaran yang dilakukan oleh pemerintah setempat.

3. Benda Peninggalan Sunan Drajat

Sunan Drajat juga meninggalkan beberapa benda dan karya dari masa hidupnya. Benda-benda tersebut tersimpan dengan baik di museum yang ada di kompleks pemakaman Sunan Drajat.

Namun museum tersebut tidak dibangun oleh Sunan Drajat sendiri, melainkan dibuat oleh pemerintah dengan tujuan untuk menjaga dan menyimpan peninggalan Sunan Drajat.

Museum tersebut dibangun di sebelah timur kompleks pemakanan Sunan Drajat. Museum Sunan Drajat ini berisi berbagai karya dari beliau seperti tembang Pangkur dan gamelan Singo Mengkok.

Terdapat juga benda-benda peninggalan lainnya seperti dayung, buku, logam, keramik, kertas, alumunium, kuningan, lontar, bambu, kain, terakota, bedug, baja kertas, dan beragam benda peninggalan lainnya.

Banyak sekali kisah dari Sunan Drajat yang bisa kita pelajari, mulai dari kegigihannya dalam beribadah, ketekunannya dalam menuntut ilmu pengetahuan dan ilmu agama, kasih sayangnya terhadap sesama makhluk hidup, dan kesabarannya dalam berdakwah menyebarkan ajaran agama Islam.

Demikian ulasan lengkap mengenai Sunan Drajat, mulai dari Sejarah, Biografi, perjalanan dakwah, hingga berbagai peninggalan selepas beliau meninggal.

Semoga ulasan ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan kalian terhadap penyebaran ajaran agama Islam di tanah Jawa.

Beri Konten ini 5 Bintang Dong!
[Total: 0 Average: 0]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here