Sunan Bonang : Biografi, Metode Dakwah, Makam, dan Kisahnya Lengkap

Sunan Bonang

Sunan Bonang atau yang memiliki nama asli Raden Makhdum Ibrahim merupakan salah satu anggota dari Walisongo atau Sembilan Wali. Beliau memiliki peran yang sangat penting dalam penyebaran ajaran Agama Islam di Nusantara.

Sunan Bonang merupakan salah satu putra dari anggota Walisongo lainnya yaitu Sunan Ampel.

Raden Makhdum Ibrahim juga merupakan seorang guru dan imam besar yang sangat disegani dan dihormati di pulau Jawa.

Untuk lebih lengkapnya lagi silahkan simak ulasan dari Sudut Nusantara di bawah ini hingga usai.

Biografi Sunan Bonang

biografi sunan bonang
Nama AsliRaden Makhdum Ibrahim
Nama LainLiem Bong Ang
Nama AyahRaden Rahmat (Sunan Ampel)
Nama IbuNyai Ageng Manila
Tahun Lahir1465 Masehi
Tempat LahirTuban
Tempat DakwahDesa Bonang, Rembang
AnakJayeng Rono, Jayeng Katon, Dewi Ruhil
Tahun Wafat1525 Masehi
MakamSebelah Masjid Agung Tuban, Jawa Timur
Kampung Tegal Gubug, Bawean, Jawa Timur

Sunan Bonang adalah putra dari Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Ibu Sunan Bonang bernama Nyai Ageng Manila. Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 Masehi di Tuban, Jawa Timur.

Selain itu, beliau juga merupakan cucu dari Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik.

Selain ayah dan kakeknya yang juga anggota Walisongo, Sunan Bonang juga memiliki seorang kakak kandung yang juga merupakan anggota Walisongo, yaitu Sunan Drajat atau Raden Qosim.

Sejak masih kecil, Raden Makhdum Ibrahim sudah diajarkan tentang ilmu Agama Islam dengan tekun dan disiplin oleh ayahnya sendiri yaitu Sunan Ampel.

Untuk bisa menjadi seorang wali dan meneruskan perjalanan dakwah ayahnya, Sunan Bonang harus berusaha menuntut ilmu sebanyak mungkin bahkan hingga melakukan perjalanan jauh.

Saat usia remaja, Sunan Bonang diutus oleh ayahnya untuk pergi ke Pasai, Aceh dan ditemani oleh Sunan Giri atau Raden Paku.

Perjalanan tersebut bertujuan agar Sunan Bonang belajar ilmu agama Islam dengan Syekh Maulana Ishak yang merupakan ayah dari Sunan Giri atau Raden Paku.

Setelah merasa cukup, beliau dan Raden Paku kemudian kembali ke Pulau Jawa untuk memulai perjalanan dakwahnya.

Sedangkan menurut versi China yang berada di naskah klenteng Talang menyebutkan bahwa nama kecil Sunan Bonang yaitu Liem Bong Ang. Dengan nama tersebut kemudian beliau lebih dikenal dengan sebutan Bonang.

Beliau merupakan seorang putra dari Bong Swi Ho yang dikenal dengan Sunan Ampel. Selain itu beliau merupakan cucu dari Bong Swi Hwo dan cucu buyut dari Bong Tak Keng.

Silsilah Sunan Bonang

silsilah-walisongo

Seperti yang sudah disinggung di atas, bahwa Sunan Bonang merupakan keturunan dari Sunan Ampel atau Raden Rahmat.

Selain itu, beliau juga merupakan seorang cucu dari Sunan Gresik atau Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Dengan garis keturunan dari ayahnya tersebut, Sunan Bonang juga masih termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW.

Berikut ini garis keturunan atau silsilah Sunan Bonang hingga ke Nabi Muhammad SAW.

  • Sunan Bonang / Makhdum Ibrahim, bin
  • Sunan Ampel / Raden Rahmat / Sayyid Ahmad Rahmatullah, bin
  • Sunan Gresik / Maulana Malik Ibrahim, bin
  • Syekh Jumadil Qubro / Jamaluddin Akbar Khan, bin
  • Ahmad Jalaludin Khan, bin
  • Abdullah Khan, bin
  • Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabadad, India), bin
  • Alawi Ammil Faqih (Hadramaut), bin
  • Muhammad Sohib Mirbath (Hadramaut), bin
  • Ali Kholi’ Qosam, bin
  • Alawi Ats-Tsani, bin
  • Muhammad Sohibus Saumi’ah, bin
  • Alawi Awwal, bin
  • Ubaidullah, bin
  • Muhammad Syahrill, bin
  • Ali Zainal ‘Abidin, bin
  • Hussain, bin
  • Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad SAW

Ilmu Sunan Bonang

ilmu raden makhdum ibrahim

Sunan Bonang sangat dikenal dengan ilmunya khususnya ilmu tentang fiqih, tasawuf, sastra, ushuluddin, seni, arsitektur, dan lainnya.

Beliau juga dikenal dengan ilmu kesaktian, kadigdayaan, dan ilmu kebatinannya.

Sunan Bonang mengajarkan kepada murid atau santrinya untuk mendapatkan ilmu dengan cara bersujud (sholat) dan dzikir.

Beliau mengajarkan bagaimana caranya untuk mengembangkan dzikir dengan mengkombinasikannya menggunakan gerakan-gerakan fisik yang bersumber dari Rasulullah SAW, dan dikombinasikan juga dengan pernafasan yang seimbang yang dinamakan dengan Alif Lam Mim (hanya Allah yang mengetahui).

Sunan Bonang mengadopsi ilmu tersebut dari seni huruf Hijaiyah yang kemudian beliau ajarkan kepada para santrinya dengan menggunakan metode gerakan fisik yang memiliki makna tertentu dan tentunya bertujuan mulia.

Secara sederhanannya bisa disimpulkan bahwa beliau mengejarkan santrinya sebuah ilmu agar mudah menghafalkan huruf Hijaiyah yang berjumlah 28 huruf.

Dengan menghafal huruf-huruf Hijaiyah tersebut, santrinya kemudian diajarkan untuk mengartikan dan juga memahami Al-Quran dengan baik dan benar.

Bahkan hingga saat ini, metode yang diajarkan oleh Sunan Bonang masih diterapkan pada Padepokan Ilmu Sujud dan Tenaga Dalam Indonesia.

Kawasan Penyebaran Dakwah Sunan Bonang

dakwah sunan bonang

Dakwah dan penyebaran ajaran Agama Islam Sunan Bonang dimulai selepas beliau pulang dari perjalanan riyadhohnya. Setelah itu beliau diutus oleh ayahnya yaitu Sunan Ampel untuk melakukan dakwah dan menyebarkan agama Islam di daerah Tuban, Jawa Timur.

Di daerah tersebut beliau mendirikan sebuah pondok pesantren yang kemudian digunakan sebagai pusat dakwah dan menyebarkan agama Islam dengan menggunakan penyesuaian adat Jawa saat itu.

Pondok pesantren Sunan Bonang memiliki santri yang berasal dari seluruh penjuru Nusantara.

Salah satu murid atau santri Sunan Bonang yang sangat dikenal adalah Sunan Kalijaga, yang juga termasuk seorang sahabatnya.

Terdapat beberapa cerita yang menyebutkan bahwa Sunan Bonang merupakan orang yang paling bertanggung jawab atas penyesuaian adat Jawa dan ajaran Islam yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga.

Kisah Sunan Bonang

kisah sunan bonang

Selama masa hidupnya sebagai seorang wali dan meyebarkan ajaran Agama Islam di pulau Jawa, beliau memiliki beragam cerita atau kisah yang dialaminya.

Berikut ini beberapa kisah menarik semasa hidup Sunan Bonang.

1. Kisah Sunan Bonang Bertemu dengan Nabi Khidir

Pada saat itu, Raden Ibrahim atau Sunan Bonang diutus oleh ayahnya (Sunan Ampel) untuk pergi mengebara ke sebuah gunung. Ayahnya juga memberinya sebuah wasiat atau pesan dimana Sunan Bonang tidak boleh berhenti hingga benar-benar sampai ke sebuah hutan yang disebut dengan Alas Kemuning.

Dikisahkan bahwa dalam perjalanannya tersebut, beliau tidak minum dan tidak makan hingga beliau bertemu dengan Nabi Khidir.

Setelah itu Nabi Khidir meminta kepada Sunan Bonang untuk terus melanjutkan perjalanannya tersebut hingga ke Alas Kemuning. Setelah selama empat hari melanjutkan perjalanannya, Nabi Khidir kemudian menemui Sunan Bonang dan memberitahukan bahwa hitan tersebutlah yang dinamakan dengan Alas Kemuning.

Nabi Khidir kemudian menyuruh Sunan Bonang untuk menetap dan bertapa pada sebuah batu di hutan tersebut. Sunan Bonang kemudian bertapa dan bersujud pada sebuah batu yang kini batu tersebut dinamakam Pasujudan, yang memiliki arti sebuah tempat sujud kepada Allah SWT.

2. Kisah Sunan Bonang yang Mendapatkan Gelar Kanjeng Sunan dari Guru Mursyid

Disaat usia Sunan Bonang menginjak 30 tahun, beliau akhirnya mendapatkan sebuah pangkat terpuji dari Guru Mursyid. Gelar tersebut yaitu Kanjeng Sunan Bonang.

Kemudian dikisahkan juga bahwa beliau kini memiliki seorang santri yang bisa dilihat oleh masyarakat awam yaitu K Nagur. Karena menurut cerita santri dari Sunan Bonang banyak yang berasal dari golongan tidak kasat mata.

3. Kisah Pertemuan Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga

Suatu ketika, Sunan Kalijaga yang baru diusir dari Kadipaten Tuban pergi ke sebuah hutan dan menetap di hitan tersebut.

Kemudian Sunan Kalijaga bertemu dengan Sunan Bonang atau Syekh Maulana Makhdum Ibrahim. Namun pertemuannya tersebut ketika Sunan Kalijaga masih menjadi seorang perampok yang baik itu, kemudian Sunan Kalijaga berniatan untuk merampok Sunan Bonang.

Singkat cerita, Sunan Kalijaga merasa tersentuh dan terkesima dengan perkataan Sunan Bonang yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga merupakan sebuah kesalahan. Meskipun Sunan Kalijaga mencuri kemudian memberikannya kepada orang miskin, namun perbuatannya tersebut tidak dibenarkan oleh Allah SWT.

Kemudian Sunan Bonang menunjuk sebuah pohon aren dan merubahnya menjadi pohon emas. Beliau kemdudian berkata ke Sunan Kalijaga “Ambil semaumu, barang tersebut halal untukmu”. Sunan Kalijaga kian terkesima dengan apa yang beliau lihat tersebut.

Sunan Kalijaga kemudian memutuskan untuk ikut Sunan Bonang dan menjadi santrinya.

Setelah itu, Sunan Bonang kemudian mengutus raden mas said untuk menjaga tongkatnya yang ditancapkan di pinggir kali.

Hingga 3 tahun berlalu, Sunan Bonang baru teringat dan akhirnya beliau menghampiri raden Mas Said yang masih tetap bertapa menunggu tongkat Sunan Bonang.

Kemudian raden Mas Said diajak Sunan Bonang untuk belajar di pesantren beliau, setelah itu raden Mas Said kemudian dikenal dengan nama Sunan Kalijaga (Penjaga Kali).

4. Kisah Sunan Bonang dan Dampo Awang

Salah satu kisah yang terkenal di masyarakat Rembang adalah kisah antara Sunan Bonang dan Dampo Awang.

Pada saat itu, terdapat seorang saudagar kaya yaitu Dampo Awang, ia merupakan seorang saudagar yang berasal dari negeri China.

Ia sengaja untuk pergi ke pulau Jawa dengan niat untuk menyebarkan agama Khong Hu Cu dengan beberapa pengikutnya. Suatu ketika, tibalah ia dan pengikutnya di Timur Jawa. Ia kemudian jatuh cinta dengan daerah tersebut dan ingin menetap disana.

Setelah singgah beberapa di daerah tersebut, saudagar kaya itu kemudian bertemu dengan Raden Maulana Makhdum Ibrahim. Namun sikap yang ditunjukkan oleh Dampo Awang terhadap Sunan Bonang kurang baik, karena ia merasa bahwa Sunan Bonang adalah saingannya dalam menyebarkan ajaran agama.

Setelah itu, Dampo Awang mengutus pasukannya untuk mengalahkan Sunan Bonang. Namun sayangnya, Sunan Bonang bisa dengan mudah mengalahkan Dampo Awang beserta para pasukannya.

Meski demikian, saudagar kaya dari China tersebut tidak menyerah begitu saja. Dampo Awang memutuskan untuk kembali ke China dan menyiapkan berbagai strategi untuk mengalahkan Sunan Bonang.

Setelah menyiapkan segala strategi dan persiapan pasukan yang lebih banyak, Dampo Awang kemudian kembali ke tanah Jawa.

Setibanya di tanah Jawa, ia kaget dengan keadaan yang ada, pasalnya sudah banyak sekali penduduk yang memeluk agama Islam. Ia sangat marah dan mencari Sunan Bonang untuk langsung menyerangnya.

Meski sudah menyiapkan strategi dan membawa pasukan dengan jumlah yang cukup banyak, pada kenyataanya saudagar itu masih tidak bisa mengalahkan Sunan Bonang.

Dampo Awang kemudian diikat oleh Sunan Bonang di sebuah kapal, setelah itu Sunan Bonang menendang kapal tersebut hingga terpecah menjadi beberapa bagian dan memencar ke segala arah.

Sebagian dari pecahan kapal tersebut mengapung dilautan. Oleh saudagar kaya itu, ia menyebut serpihan kapal yang terapung dengan sebutan Karem. Sedangkan Sunan Bonang menyebutnya dengan Kemambang.

Dari dua kata tersebut kemudian masyarakat menyebut daerah tersebut dengan nama Rembang. Kini Rembang merupakan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah.

Jangkar dari kapal tersebut kini disimpan di Taman Kartini, sedangkan layar kapalnya terdapat di Batu atau yang biasa disebut dengan Watu Layar.

Menurut cerita, kapal tersebut kini menjadi sebuah gunung yaitu Gunung Bugel yang terletak di Kecamatan Pancur.

5. Kisah Sunan Bonang Menaklukan Kebondanu

Pada suatu ketika saat Sunan Bonang sedang melakukan perjalanan melewati sebuah hutan, beliau dikagetkan dengan sekelompok perampok yang dipimpin oleh Kebondanu.

Saat beliau dihadang oleh sekawanan perampok tersebut, beliau tetap tenang lalu memperdendangkan tambang dan gending Dharma dan juga Macapat.

Ajaibnya, Kebondanu dan para pasukannya tiba-tiba terbujur kaku dan tidak bisa bergerak sama sekali. Tangan dan kaki mereka seolah mati rasa dan tidak bisa digerakkan.

Karena keadaan tersebut, mereka kemudian tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain minta maaf dan meminta kepada Sunan Bonang untuk menghentikannya.

Mendengar ucapan maaf dan minta tolong mereka, Sunan Bonang kemudian menghentikan dendangannya tersebut. Para perampok tersebut kemudian merasa takjub dan heran dengan kehebatan yang dimiliki oleh Sunan Bonang.

Setelah kejadian tersebut, Kebondanu dan pasukannya kemudian memeluk Agama Islam dan menjadi pengikut setia Sunan Bonang.

6. Kisah Sunan Bonang dan Brahmana Sakti

Sunan Bonang diberikan kelebihan oleh Allah SWT berupa kesaktian yang luar biasa, hingga suatu ketika kesaktian beliau terdengar hingga ke negeri India dan didengar oleh telinga para brahmana atau pendeta di sana.

Mendengar hal tersebut, terdapat seorang brahmana di India yang rela menuju ke pulau Jawa dengan mengarungi lautan dan samudra, brahmana tersebut yaitu Sakyakirti.

Ia rela pergi ke pulau jawa untuk menantang Sunan Bonang dengan membawa berbagai kitab yang siap ia pakai untuk berdebat dan bertarung dengan Sunan Bonang.

Saat ditengah laut, ia bahkan dengan sombongnya berdiri di atas kapalnya dan bersumpah bahwa ia akan menebas kepala Sunan Bonang jika ia menang, dan akan bertekuk lutut jika ia kalah dari Raden Makhdum Ibrahim.

Saat kapal yang dinaiki brahmana tersebut sudah mendekati perairan Tuban, dengan tiba-tiba ada sebuah badai yang datang dan mengantam kapal tersebut.

Segala cara sudah brahmana lakukan untuk menghalau badai tersebut, namun ia kehabisan tenaga dan akhirnya kapal yang ia tunggangi tenggelam.

Brahmana tersebut kemudian mencari potongan-potongan kayu dari kapal tersebut untuk digunakan menyelamatkan dirinya dan para pasukannya.

Sesampainya di pesisir, ia baru menyadari bahwa kitab-kitab yang dibawanya lenyap dimakan ombak.

Meski brahmana tersebut sudah tidak memiliki apa-apa karena semuanya hanyut tersapu badai, namun ia tetap berambisi untuk beradu debat dengan Sunan bonang.

Ia dan para pasukannya kemudian terjebak di sebuah pesisir pantai yang tidak ada satupun orang atau penghuni di pesisir tersebut.

Namun tiba-tiba muncul seseorang yang menggunakan jubah putih dan membawa sebuah tongkat. Melihat orang tersebut kemudian brahmana dan pasukannya mengejar orang tersebut dan menceritakan semua hal yang menimpanya.

Brahmana juga menceritakan tujuannya datang ke Tuban, yaitu untuk beradu debat dengan Sunan Bonang. Ia juga menceritakan bahwa semua kitab-kitab referensi yang ia bawa sudah tenggelam bersama kapalnya.

Orang berjubah putih tersebut kemudian mencabut tongkatnya yang tertancap di tanah, tiba-tiba keluar air segar dari lubang tersebut.

Brahmana dan pasukannya kaget melihat hal tersebut, bukan hanya karena ada air yang tiba-tiba muncul dari lubang tersebut namun juga karena kitab-kitab milik brahmana juga keluar dari lubang tersebut.

Ia kemudian mengambil kitab-kitab tersebut dan memastikan apakah kitab-kitab tersebut benar miliknya.

Brahmana kemudian bertanya siapa orang tersebut dan bertanya tentang tempat dimana ia terdampar.

Orang berjubah putih kemudian menjawab bahwa itu adalah daerah Tuban, dan ia adalah Sunan Bonang.

Seketika brahmana dan pasukannya bertekuk lutut sujud di kaki Raden Makhdum Ibrahim. Sunan Bonang kemudian menyuruh brahmana dan para muridnya itu untuk berdiri dan mengajak mereka untuk menunaikan maksud dan juga tujuan kedangan merke ke Tuban, yaitu untuk beradu debat.

Akan tetapi brahmana merasa malu sekali dan memilih untuk mengurungkan niatnya itu. Tidak hanya itu saja, brahmana juga memutuskan untuk mempelajari agama Islam langsung dari Sunan Bonang. Begitu juga dengan para muridnya.

Metode Dakwah Sunan Bonang Melalui Kebudayaan Jawa

metode dakwah sunan bonang

Salah satu metode dakwah yang digunakan Sunan Bonang adalah dengan menggunakan kebudayaan Jawa yang sudah ada sejak lama.

Hal tersebut bertujuan untuk mengenalkan ajaran Agama Islam tanpa harus mengubah sebuah kebiasaan dan unsur budaya yang sudah ada sebelumnya. Karena jika beliau langsung mengubah dan melarang apa yang sudah ada saat itu, maka kemungkinan besar orang-orang tidak akan tertarik atau bahkan membenci ajaran Agama Islam.

Beliau kemudian memanfaatkan kesenian rakyat yaitu gamelan bonang dan pertunjukkan wayang.

Gamelan bonang merupakan salah satu alat musik kesenian daerah tersebut yang berbentuk bulat dengan benjolan di tengahnya yang terbuat dari kuningan.

Alat musik ini dibunyikan dengan cara dipukul dengan menggunakan sebuah kayu kecil.

Sunan Bonang bisa memainkan gamelan bonang tersebut dengan baik dan menghasilkan suara yang sangat merdu dan enak untuk didengarkan. Sehingga membuat masyarakat sangat suka jika beliau memainkan alat musik tersebut.

Selain bermain gamelan, beliau juga menciptakan lagu sebagai pengiring dalam pertunjukan wayang.

Dalam lagu yang dibuat Sunan Bonang tersebut, selalu terselip ajaran Agama Islam. Bahkan ada juga lagu yang berisi Dua Kalimat Syahadat.

Cara tersebut bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam menerima ajaran Agama Islam. Setelah masyarakat bisa menerimanya, beliau kemudian mengajarkan agama Islam yang lebih mendalam lagi.

Pada setiap pertunjukan, beliau juga selalu menyematkan kalimat dzikir agar masyarakat familiar dengan kalimat tersebut.

Metode Dakwah Sunan Bonang Melalui Karya Sastra

dakwah raden makhdum ibrahim

Sunan Bonang juga menggunakan metode dakwah lain yaitu melalui karya sastra berupa suluk atau tembang.

Berikut ini beberapa karya sastra yang beliau gunakan sebagai metode dakwahnya.

1. Suluk Wujil

Suluk Wujil memiliki dua makna yang terkandung di dalamnya.

Makna yang pertama yaitu Sunan Bonang ingin menggambarkan sebuah keadaan atau masa peralihan dari ajaran Agama Hindu ke ajaran Agama Islam.

Dimana peralihan ajaran yang dimaksud mencakup semua aspek termasuk budaya, politik, sastra, intelektual, dan kepercayaan. Hal tersebut terjadi pada runtuhnya Kerajaan Majapahit yang kemudian digantikan dengan Kesultanan Demak.

Makna yang kedua yaitu sebagai perenungan Ilmu Ketuhanan dan apa saja yang dimiliki oleh-Nya atau yang biasa dikenal dengan Ilmu Sufi.

Suluk Wujil sendiri diciptakan karena adanya keingintahuan dari salah satu orang santri Sunan Bonang yang bernama Wujil Kinasih tentag ajaran agama Islam hingga ke bagian paling dalam.

Alhasil Sunan Bonang menciptakan Suluk Wujil yang mengandung makna tersirat berupa sebuah tujuan untuk melakukan ibadah, pengenalan diri sendiri, dan hakikat adanya sebuah niat.

2. Suluk Jebeng

Sunan Bonang juga menciptakan Suluk Jebeng yang terdapat dalam Tembang Dandanggula yang hingga saat ini masih terkenal.

Suluk Jebeng tercipta karena adanya sebuah percakapan mengenai pengenalan diri sendiri agar bisa berada di jalan yang benar, dan juga tentang pembentukan khalifah di muka bumi ini.

Suluk Jebeng juga menggambarkan hubungan yang kuat dan saling mengenal antara hamba dengan Tuhannya.

3. Gita Suluk Latri

Sunan Bonang juga membuat Suluk Latri yang memiliki makna tentang sesorang yang sedang menunggu Sang Kekasih hingga merasakan kegelisahan.

Saat malam semakin larut, perasaan gelisahnya tersebut menjadi semakin bertambah. Kemudian Sang Kekasih datang lalu membuatnya lupa dengan segalanya. Alhasil ia kemudian terbawa oleh ombak dan hanyut ke tengah lautan tanpa wujud.

4. Suluk Khalifah

Raden Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang juga menciptakan Suluk Khalifah yang berisi tentang perjalanan para Walisongo dalam berdakwah dan menyebarkan ajaran Agama Islam di Indonesia.

Syair Suluk Khalifah juga menjelaskan tentang perjuangan Walisongo dalam menyebarkan dan mengajarkan tentang agama Islam kepada masyarakat.

Terdapat juga penjelasan mengenai kisah Sunan Bonang yang menjalankan riyadhoh ke Pasai dan perjalanan beliau saat melakukan ibadah haji.

5. Suluk Gentur atau Suluk Bentur

Suluk Bentur atau Suluk Gentur berisi tentang sebuah perjalanan yang harus dilalui agar bisa mencapai tingkat paling tinggi dari seorang ahli sufi.

Syair tersebut dituliskan pada sebuah tembang Wirangrong yang sangat panjang.

Arti dari Gentur sendiri yaitu sempurna atau lengkap. Namun tidak sedikit juga yang mengartikannya sebagai sebuah semangat atau ketekunan.

Kandungan yang terdapat pada Suluk Gentur yaitu tentang syahadat da’im qa’im dan fana’ ruh idafi.

Syahadat da’im qa’im adalah sebuah anugerah untuk bisa melihat seseorang bersatu atas kehendak Sang Ilahi. Isi dari syahadat tersebut antara lain yaitu:

  • Syahadat atau penyaksian sebelum orang terlahir ke dunia ini
  • Syahadat atau penyaksian saat seseorang memeluk dan masuk ke dalam ajaran Agama Islam
  • Syahadat atau penyaksian yang diucapkan oleh para nabi, wali, dan juga para mukmin sejati

Sedangkan fana’ ruh idafi merupakan bentuk pembuktian dari ayat 28:88 Al-Quran ang berbunyi bahwa segala sesuatu akan binasi kecuali Wajah-Nya.

6. Gita Suluk Wali

Suluk Wali merupakan karya dari Sunan Bonang yang berbentuk lirik puisi yang sangat menakjubkan.

Syair tersebut berisi tentang penjelasan bahwa hati dari seseorang yang sedang dalam perasaan cinta itu diibaratkan seperti hanyut dalam pasang air laut dan juga terbakar api hingga hangus tidak bersisa.

Selain itu, pada akhir baitnya juga dituliskan “Qalb Al-Mukmin Bait Allah”.

Tembang Tombo Ati Ciptaan Sunan Bonang

Lagu Tombo Ati atau Obat Hati ternyata adalah ciptaan dari Sunan Bonang, bahkan lagu ini masih terkenal hingga sekarang dan banyak dinyanyikan oleh para penyanyi religi seperti Opick.

Berikut ini lirik dari Tembang Tombo Ati ciptaan Sunan Bonang:

Tombo Ati iku limo sakwarnane
Moco Quran angen-angen sak maknane
Kaping pindho sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kanconono
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo dzikir ingkang suwe

Artinya yaitu:

Obat Hati itu ada lima perkaranya
Bacalah Quran beserta isinya
Yang kedua Sholat malam dirikanlah
Yang ketiga bertemanlah dengan orang-orang sholeh
Yang keempat jalankanlah puasa
Yang kelima berdzikirlah di malam hari

Tembang Tombo Ati memiliki makna untuk memberikan nasehat kepada setiap umat mukmin untuk selalu tenang dan dekat dengan Sang Pencipta dengan melakukan 5 perkara tersebut.

Jika 5 perkara di dalam lagu tersebut dikerjakan, maka InsyaAllah hidup kita sebagai hamba Allah akan bahagia di dunia dan di akhirat. Dengan begitu hati juga akan merasa damai dan tenteram dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Kelima perkara di atas adalah membaca Al-Quran dan artinya, melaksanakan sholat sunah malam (Sholat tahajud dan sholat witir), berteman dengan orang sholeh, menjalankan ibadah puasa wajib dan sunah, berdzikir di setiap malam.

Karomah Sunan Bonang

karomah sunan bonang

Sebagai seorang wali, Sunan Bonang tentu memiliki karomah dari Allah SWT. Berikut ini beberapa karomah yang dimiliki oleh Sunan Bonang.

1. Anak Ayam Menang Melawan Ayam Jago

Dalam ajaran agama Islam, sabung ayam sangat dilarang untuk dilakukan.

Namun karena adanya tantangan dari Ajar Bacak Ngilo untuk bertarung ayam dan dengan taruhan yang kalah harus menjadi pengikutnya.

Mendapat ajakan dari orang yang sombong tersebut Sunan Bonang kemudian mengutus salah satu muridnya yaitu Mujil untuk beradu ayam dengan Ajar Bacak Ngilo.

Namun beliau tidak menggunakan ayam jago yang biasa digunakan untuk sabung ayam. Sunan Bonang malah memilih untuk menggunakan anak ayam (dalam bahasa jawa disebut dengan khutuk) yang masih sangat kecil.

Di dalam kisah tersebut, terdapat sebuah keajaiban dimana kuthuk atau ayam kecil tersebut akan semakin bertambah besar setiap kali terjatuh dan ditiup oleh santri Mujil.

Hingga akhirnya ayam tersebut menjadi semakin besar dan mampu mengalahkan ayam jago milik Ajar Bacak Ngilo. Melihat kejadian tersebut Ajar Bacak Ngilo kemudian masuk ke agama Islam dan memutuskan untuk menjadi murid Sunan Bonang.

2. Mengalahkan Buta Lokaya dan Nyai Pluncing

Dikisahkan bahwa Sunan Bonang sering berdebat dengan beberapa tokoh umat Hindu seperti Buta Lokaya yang selalu mengecam kegiatan dakwah beliau.

Namun dengan kesaktian yang dimiliki oleh Sunan Bonang, Buta Lokaya akhirnya menyerah dan tidak sanggup lagi melawan kesaktian beliau.

Selain itu beliau juga berhadapan dengan tokoh Nyai Pluncing yang dikenal sangat sakti, dimana Nyai Pluncing merupakan penerus ajaran sesat Calon Arang dari Bali.

Lagi-lagi Sunan Bonang bisa dengan mudah mengalahkan Nyai Pluncing dengan kesaktiannya.

3. Mengubah Aliran Sungai Brantas

Dengan kemampuan dan kesaktian yang dimiliki oleh Sunan Bonang, beliau mampu mengubah aliran sungai Brantas yang ada di Jawa Timur.

Hal tersebut beliau lakukan karena banyak masyarakat yang enggan untuk menerima dakwah beliau di aliran sungai Brantas.

Kemudian beliau memindahkan aliran sungai Brantas agar tidak melewati wilayah tersebut.

Dengan begitu, wilayah-wilayah yang tidak mau menerima dakwah beliau menjadi kekurangan air bahkan kekeringan. Dengan kejadian tersebut akhirnya orang-orang dari wilayah tersebut sadar dan mulai mau untuk belajar lebih jauh mengenai ajaran agama Islam.

Pada akhirnya dakwah Sunan Bonang banyak diterima oleh masyarakat sekitar sungai Brantas tersebut.

Makam Sunan Bonang

makam sunan bonang

Makam Sunan Bonang sendiri berbeda dengan makam wali atau sunan lain yang biasanya terletak di kompleks masjid dia berdakwah.

Namun makam Sunan Bonang bahkan terdapat di 2 wilayah yang berbeda. Hal tersebut terjadi karena beragam kisah yang berbeda. Hingga sekarang tidak diketahui pasti mana makam Sunan Bonang.

Letak makam Sunan Bonang yaitu:

  1. Kampung Tegal Gubug, Bawean (Sebuah pulau di laut Jawa sebelah utara Tuban)
  2. Masjid Agung Tuban

Kisah tersebut terjadi ketika Sunan Bonang sedang melakukan dakwah di Bawean disana beliau mendadak sakit dan wafat pada tahun 1525 Masehi.

Setelah itu murid-murid yang ada di Bawean menginginkan untuk beliau dimakamkan di Bawean saja. Namun murid-murid dari Tuban tidak setuju, dan mereka menginginkan untuk Sunan Bonang dimakamkan di tanah Tuban.

Karena santri-santri dari Bawean tetap tidak membolahkan santri-santri dari Tuban untuk membawa Sunan Bonang dan memakamkannya di Tuban, disaat malam hari santri-santri dari Tuban me-nyirep atau menidurkan santri-santri Bawean dan membawa jenazah Sunan Bonang ke Tuban.

Mereka berlayar ke Tuban dengan menggunakan sebuah perahu dan memakamkan jasad Sunan Bonang di komplek Masjid Agung Tuban.

Namun anehnya, jenazah Sunan Bonang yang ada di Bawean juga masih ada dan dimakamkan di desa Tegal Gubug, Bawean.

Hingga saat ini kedua makam tersebut tetap terawat dengan baik, keduanya juga masih banyak dikunjungi oleh wisatawan religi atau peziarah.

Demikian ulasan mengenai Sunan Bonang atau raden Makhdum Ibrahim, semoga bisa menambah wawasan kalian dan meningkatkan keimanan kalian terhadap Allah SWT.

Beri Konten ini 5 Bintang Dong!
[Total: 0 Average: 0]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here