Sunan Ampel : Biografi, Metode Dakwah, Karomah, Ajaran Moh Limo, Makam dan Kisahnya

Sunan Ampel

Sunan Ampel merupakan salah satu anggota Walisongo atau Sembilan Wali. Sunan Ampel sangat berjasa dalam penyebaran dan perkembangan ajaran agama Islam di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa.

Beliau juga mendapatkan gelar sebagai bapaknya para wali, karena dengan jasa beliau tercipta para pendakwah yang menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di Indonesia.

Untuk lebih lengkapnya lagi, silahkan baca artikel yang sudah Sudut Nusantara rangkum di bawah ini hingga selesai.

Biografi Sunan Ampel

biografi sunan ampel
Nama AsliRaden Rahmat
Nama LainSayyid Muhammad Ali Rahmatullah
Nama AyahMaulana Ibrahim Al-Ghazi (Ibrahim Asmarakandi)
Nama IbuDewi Candrawulan
Tahun Lahir1401 Masehi
Tempat LahirKerajaan Champa
PasanganNyai Ageng Manila (Dewi Condrowati), dan Dewi Karimah
Tempat DakwahAmpel, Surabaya
Tahun Meninggal1481 Masehi
MakamKompleks Masjid Agung Sunan Ampel, Surabaya

Ayah Sunan Ampel bernama Ibrahim Asmarakandi atau Maulana Ibrahim Al-Ghazi yang berasal dari negeri Samarkand. Pada saat itu, beliau kemudian ditugaskan oleh kerajaan Turki untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di wilyah Asia.

Akhirnya beliau sampai ke negeri atau kerajaan Champa kemudian menjalankan tugasnya untuk berdakwah agama Islam.

Setelah berhasil mendakwahkan ajaran agama Islam di Champa, beliau kemudian menikah dengan seorang putri raja Champa Prabu Singhawarman yang bernama Dewi Candrawulan.

Dalam pernikahannya tersebut, Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Candrawulan dikaruniai anak yang bernama Raden Rahmat dan Raden Santri Ali, yang kemduian keduanya juga melanjutkan dakwah sang ayah ke Indonesia khususnya di pulau Jawa.

Sunan Ampel terlahir dengan nama Sayyid Muhammad Ali Rahmatullah. Namun saat beliau pindah dan berdakwah di daerah Jawa Timur, masyarakat daerah tersebut memanggilnya dengan nama Raden Rahmat.

Raden Rahmat dilahirkan pada tahun 1401 Masehi di Champa. Sedangkan nama Sunan Ampel sendiri beliau dapatka setelah melakukan dakwah di daerah Ampel Denta, Surabaya.

Namun sekarang ini daerah tersebut lebih dikenal dengan daerah Wonokromo, Surabaya.

Raden Rahmat memiliki dua orang istri dengan anak berjumlah 11 orang. Beliau menikahi istri pertama yang bernama Nyai Ageng Manila atau Dewi Condrowati.

Bersama Nyai Ageng Manila, Sunan Ampel memiliki 5 orang anak, yaitu:

  1. Maulana Mahdum Ibrahim / Raden Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang)
  2. Raden Qasim / Syarifuddin (Sunan Drajat)
  3. Siti Syarifah / Nyai Ageng Maloka / Nyai Ageng Manyuran (Istri Sunan Kudus)
  4. Siti Muthmainnah
  5. Siti Hafsah

Sedangkan bersama istri keduanya yaitu Dewi Karimah, Sunan Ampel memiliki 6 orang anak, yaitu:

  1. Raden Faqih
  2. Pangeran Tumapel
  3. Raden Zainal Abidin
  4. Raden Husamuddin
  5. Dewi Murtasimah
  6. Dewi Murasiyah

Silsilah Sunan Ampel

silsilah-walisongo

Jika dilihat dari Nasab atau garis keturunan sang ayah, Sunan Ampel ternyata masih keturunan dari Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan dari ibunya, Sunan Ampel memiliki darah keturunan Champa atau Uzbekistan.

Berikut ini garis keturunan atau silsilah Sunan Ampel yang menyambung ke Nabi Muhammad SAW.

  • Sunan Ampel / Sayyid Ali Rahmatullah / Raden Rahmat, bin
  • Maulana Malik Ibrahim / Syekh Ibrahim As-Samarqandy, bin
  • Syaikh Jumadil Qubro / Jamaluddin Akbar Al-Husaini, bin
  • Ahmad Jalaluddin Syah, bin
  • Abdullah Khan, bin
  • Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India), bin
  • Alawi Ammil Faqih (Hadramaut), bin
  • Muhammad Sohib Mirbath (Hadramaut), bin
  • Ali Kholi’ Qosam, bin
  • Alawi Ats-Tsani, bin
  • Muhammad Sohibus Saumi’ah, bin
  • Alawi Awwal, bin
  • Ubaidullah, bin
  • Ahmad Al-Muhajir, bin
  • Isa Ar-Rumi, bin
  • Muhammad An-Naqib, bin
  • Ali Uraidhi, bin
  • Ja’far Ash-Shadiq, bin
  • Muhammad Al-Baqir, bin
  • Ali Zainal Abidin, bin
  • Husain, bin
  • Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad SAW

Perjalanan Dakwah Sunan Ampel

perjalanan dakwah raden rahmat

Sunan Ampel atau Raden Rahmat merupakan ulama besar yang ada di Nusantara. Beliau menjadi salah satu pendakwah Islam yang paling masyhur di tanah Jawa.

Sunan Ampel sangat berjasa dalam penyebaran dan perkembangan Islam di tanah air, sehingga kini Islam bisa berkembang dengan cepat dan luas di Indonesia.

Perjalanan Dakwah beliau dimulai dengan menuju ke daerah Trowulan yang saat itu merupakan ibukota dari kerajaan Majapahit. Dalam perjalanan tersebut beliau harus singgah terlebih dahulu di daerah Tuban dan juga Palembang.

Persinggahan tersebut bukan beliau pergunakan untuk beristirahat, melainkan untuk berdakwah dan menyebarkan ajaran agama Islam di kalangan masyarakat. Setelah itu, beliau kemudian melanjutkan dakwahnya ke kerajaan Majapahit.

Dalam catatan sejarah, peristiwa tersebut merupakan sebuah titi balik kepercayaan masyarakat di kerajaan Majapahit.

Kehadiran Sunan Ampel banyak merubah kepercayaan dari masyarakat yang tadinya beragama Hindu, kemudian memeluk ajaran agama Islam.

Metode Dakwah Sunan Ampel

metode dakwah sunan ampel

Dalam menyebarkan agama Islam, para wali tentu memiliki strategi atau metode yang berbeda.

Sunan Ampel sendiri memiliki metode dakwah yang cukup unik. Dengan menggunakan metode tertentu diharapkan masyarakat akan lebih mudah untuk menerima ajaran agama Islam.

Raden Rahmat atau Sunan Ampel sendiri membagi beberapa metode dakwah yang beliau sesuaikan dengan masyarakat. Misalnya saja metode untuk masyarakat menengah ke bawah dan juga untuk masyarakat cendekia dengan pengetahuan yang luas.

Metode yang digunakan Sunan Ampel sangat berbeda dengan metode dakwah yang digunakan oleh sunan-sunan lainnya.

Dimana hampir semua Sunan lain menggunakan metode dakwah berupa pendekatan seni budaya. Namun Sunan Ampel juga memiliki metode lain selain menggunakan metode seni budaya, yaitu dengan menggunakan metode pendekatan dan pembauran intelektual dengan diskusi yang kritis dan cerdas di dalamnya.

Metode pertama yang Sunan Ampel gunakan adalah dengan membaur di dalam pergaulan masyarakat kalangan menengah ke bawah. Dalam proses ini, beliau selalu menyelipkan sedikit demi sedikit tentang ajaran Islam.

Saat proses dakwah tersebut, pengetahuan akan agamanya sangatlah diuji oleh masyarakat sekitar. Dimana masyarakat banyak melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan agama Islam.

Dengan segala kemampuan dan pengertian beliau tentang ilmu agama Islam, beliau selalu mencoba untuk menjawab segala pertanyaan dari masyarakat terkait agama Islam.

Beliau juga selalu berusaha untuk beradaptasi dengan keadaan sosial budaya masyarakat pada saat itu. Dimana kesenjangan sosial antara masyarakat menengah ke atas dan menengah ke bawah sangat terasa pada waktu itu.

Akhirnya beliau berhasil untuk mensejajarkan kalangan menengah ke atas dan menengah ke bawah, setelah beberapa waktu beliau melakukan dakwah dan berusah menghilangkan jarak sosial tersebut.

Pada saat itu kekuasaan pemerintahan di bawah Kerajaan Majapahit. Meski demikian, pemerintah kerajaan Majapahit tidak melarang adanya kegiatan dakwah agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Ampel.

Bahkan pihak kerajaan sangat menghormati dan menghargai atas hak dan kewajiban yang telah diajarkan oleh Sunan Apel. Sehingga dengan begitu lambat laun banyak anggota kerajaan Majapahit yang juga memeluk agama Islam.

Metode lain yang digunakan oleh Sunan Ampel yaitu dengan melakukan pendekatan intelektuan melalui diskusi kritis dan cerdas yang bisa diterima oleh akal manusia.

Metode ini cenderung beliau gunakan untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat cendekia atau cerdas.

Ajaran Moh Limo dari Sunan Ampel

moh limo sunan ampel

Sunan Ampel memiliki ajaran atau falsafah dakwah yang bertujuan untuk memperbaiki moral pada masyarakat.

Di dalam dakwah yang dilakukan beliau, Sunan Ampel mengajarkan sebuah filsafat yang diberi nama Moh Limo kepada masyarakat sekitar.

Kata Moh Limo berasal dari bahasa Jawa, dimana Moh memiliki arti tidak dan Limo berarti lima. Jadi Moh Limo berarti “Tidak melakukan lima perbuatan yang dilarang oleh Allah“.

Berikut isi ajaran Moh Limo yaitu:

  1. Moh Mabuk (Tidak mabuk atau minum-minuman keras)
  2. Moh Main (Tidak main atau tidak berjudi)
  3. Moh Madon (Tidak bermain perempuan)
  4. Moh Madat (Tidak menggunakan obat-obatan terlarang)
  5. Moh Maling (Tidak mencuri)

Bahkan hingga saat ini ajaran Moh Limo dari Sunan Ampel tersebut masih banyak diterapkan oleh para umat muslim.

Adanya ajaran Moh Limo tersebut disambut baik oleh Prabu Brawijaya, bahkan Prabu Brawijaya menganggap bahwa ajaran agama Islam merupakan suatu ajaran beragama yang sangat mulia.

Namun sayangnya, Prabu Brawijaya tidak mau masuk dan memeluk Agama Islam, karena ia ingin menjadi Raja Majapahit terkahir yang memeluk Agama Buddha.

Meski begitu, sang raja memberikan izin dan support bagi Sunan Ampel untuk menyebarkan ajaran Islam di Kerajaan Majapahit dan daerah Surabaya, dengan catatan tidak ada paksaan untuk memeluk ajaran agama Islam.

Karomah Sunan Ampel

karomah sunan ampel

Sama halnya dengan semua anggota Walisongo, Sunan Ampel juga memiliki karomah dari Allah SWT yang sangat luar biasa. Berikut ini beberapa karomah dari Sunan Ampel.

1. Berjalan di Atas Air

Pernah suatu ketika saat beliau sedang melakukan perjalanan dakwahnya, beliau bertemu dengan seorang pertapa di pinggiran sungai. Pertapa tersebut ternyata sedang berusaha untuk menyeberangi sungai di depannya tanpa menggunakan media apapun dan tidak juga dengan berenang, melainkan dengan berjalan di atas permukaan air sungai tersebut.

Akan tetapi pertapa tersebut selalu gagal dan terjatuh ke dalam air sungai. Melihat kejadian tersebut Sunan Ampel kemudian memberitahukan kepada pertapa tersebut bahwa usahanya sia-sia.

Namun sang pertapa tidak mendengarkan kata-kata dari Sunan Ampel dan meminta beliau untuk pergi meninggalkannya dan tidak mengganggunya.

Mendengar ucapan pertapa tersebut, Sunan Ampel kemudian pergi meninggalkan sang pertapa dengan cara berjalan di atas air dan menyeberangi suangai tersebut.

Melihat hal tersebut sang pertapa sangat terkejut lalu mengejar Sunan Ampel untuk memohon diajari bagaimana caranya untuk berjalan di atas air seperti yang Sunan Ampel lakukan.

Setelah itu Sunan Ampel mengajari pertapa tersebut untuk bisa berjalan di atas air. Setelah itu pertapa bisa berjalan di atas air, namun Sunan Ampel berpesan agar kemampuannya tersebut dipergunakan untuk kebaikan dan slealu mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah dengan cara beribadah kepada-Nya.

2. Mbah Sholeh yang Hidup 9 Kali

Terdapat seorang murid Sunan Ampel yang sangat dikenal masyarakat pada saat itu, yaitu Mbah Sholeh.

Mbah Sholeh sendiri merupakan seorang marbot Masjid Sunan Ampel yang selalu menjaga kebersihan masjid tersebut setiap harinya.

Mbah Sholeh memiliki sebuah keistimewaan yang luar biasa dan membuat orang-orang pada saat itu menyayanginya.

Pernah suatu ketika Sunan Ampel tidak sengaja mengucapkan bahwa Mbah Sholeh akan hidup sebanyak 9 kali.

Ternyata pernyataan Sunan Ampel tersebut benar adanya. Dikemudian hari saat Mbah Sholeh wafat sudah tidak ada lagi orang yang mau membersihkan masjid tersebut hingga bersih tanpa ada debu sedikitpun.

Pada saat itu Sunan Ampel mengatakan bahwa jika Mbah Sholeh masih hidup pasti masjid tersebut akan selalu bersih.

Kemudian tanpa diketahui siapapun, Mbah Sholeh sudah berada di dalam masjid tersebut dan sedang membersihkan masjid tersebut. Alhasil masjid tersebut kembali menjadi bersih seperti sedia kala.

Dengan kejadian tersebut banyak orang yang bertanya-tanya kenapa Mbah Sholeh bisa hidup kembali. Setelah beberapa bulan berlalu Mbah Sholeh kembali wafat, lalu Sunan Ampel kembali mengatakan hal yang sama dan membuat Mbah Sholeh hidup kembali.

Kejadian tersebut berlangsung terus-menerus hingga 8 kali. Setelah itu Sunan Ampel meninggal dunia, kemudian beberapa hari setelah itu disusul dengan wafatnya Mbah Sholeh.

Alhasil Mbah Sholeh memiliki 9 makam yang letaknya berada di sekitar makam Raden Rahmat.

Dengan adanya kejadian tersebut, Mbah Sholeh banyak dikenal oleh masyarakat. Bahkan hingga saat ini cerita tersebut masih banyak diceritakan oleh orang setempat ketika ada masyarakat luar daerah yang berkunjung ke masjid atau makam Sunan Ampel di Surabaya.

Sunan Ampel Merupakan Sesepuh Para Wali

anggota walisongo

Raden Rahmat atau Sunan Ampel bukanlah asli ketuturan dari penduduk Jawa. Namun, beliau berhasil berdakwah di Nusantara khususnya di pulau Jawa dan menjadi sesepuh atau bapaknya Walisongo.

Sunan Ampel dianggap sebagai sesepuh Walisongo karena terbukti mampu menjadikan putra dan anak santrinya sebagai wali penerus dakwahnya. Bahkan beberapa diantaranya juga tergabung ke dalam anggota Walisongo.

Selain itu, setiap perkataan yang disampaikan oleh Raden Rahmat juga selalu ditaati oleh masyarakat, santri, dan wali-wali lainnya.

Penerus Dakwah Sunan Ampel

penerus dakwah raden rahmat

Setelah berhasil menyebarkan dan mengajarkan Agama Islam, Sunan Ampel juga mempersiapkan generasi penerus yang akan melanjutkan dakwahnya di Indonesia.

Beliau memiliki cukup banyak murid yang sebagian besar terdiri dari kalangan rakyat menengah ke bawah, para Pangeran Kerajaan Majapahit, bangsawan kerajaan, hingga anggota Walisongo itu sendiri.

Berikut ini beberapa penerus Dakwah Sunan Ampel.

1. Sunan Bonang atau Maulana Makhdum Ibrahim

Maulana Makhdum Ibrahim merupakan putra dari Sunan Ampel yang sekaligus menjadi santri yang belajar agama Islam di pesantren yang didirikan oleh Sunan Ampel.

Sejak masih kecil Maulana Makhdum Ibrahim selalu diberikan ajaran agama Islam oleh ayahnya yaitu Sunan Ampel untuk terus belajar tentang ilmu agama, tauhid, sejarah, dan sastra.

Maulana Makhdum Ibrahim juga merupakan seorang sahabat dari Raden Paku atau Sunan Giri yang sama-sama menimba ilmu agama di pesantren Sunan Ampel.

Setelah menginjak dewasa dan dirasa sudah mampu untuk berdakwah, Maulana Makhdum Ibrahim kemudian melakukan dakwahnya di daerah Bonang, Tuban, Jawa Timur.

Karena berhasil berdakwah di daerah Bonang tersebut, beliau lebih dikenal dengan sebutan Sunan bonang.

Sunan Bonang berhasil menjadi penerus dakwah dari ayahnya sendiri yaitu Sunan Ampel. Sunan Bonang bahkan juga berhasil membangun sebuah pesantren yang didirikan di daerah Bonang, Tuban, Jawa Timur.

2. Sunan Giri atau Raden Paku

Raden Paku atau Joko Samudro merupakan seorang pemuda yang berasal dari Gresik dan diangkat oleh Nyai Ageng Pinatih seorang saudagar wanita yang kaya raya sebagai anaknya.

Joko Samudro kemudian menimba ilmu di pesantren Sunan Ampel, beliau merupakan santri yang sangat cerdas dan pintar dalam menguasai berbagai ajaran di pesantren tersebut.

Raden Paku sendiri ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan Sunan Ampel, dimana beliau ternyata masih keponakan dari Sunan Ampel yang merupakan putra dari pamanya yang bernama Syekh Maulana Ishaq.

Setelah mengetahui hal tersebut, Sunan Ampel kemudian teringat dengan pesan pamanya itu, dimana jika Sunan Ampel berhasil menemukan dan mengenali anaknya itu, beliau berpesan untuk memberi nama anaknya Raden Paku. Sejak saat itu Jiko Samudro dikenal dengan nama Raden Paku.

Setelah lulus dari pesantren Sunan Ampel, Raden Paku dan Maulana Makhdum Ibrahim yang merupakan anak Sunan Ampel diutus untuk belajar agama Islam lebih dalam ke daerah Champa.

Ternyata Sunan Ampel meiliki rencana khusus, dimana Sunan Ampel ingin memepertemukan Raden Paku dengan ayah kandungnya yaitu Syekh Maulana Ishaq.

Raden Paku dan Maulana Makhdum Ibrahim kemudian menimba ilmu dengan ayahnya Raden Paku yaitu Syekh Maulana Ishaq.

Setelah memiliki ilmu Agama yang kian bertambah, akhirnya mereka berdua kembali ke tanah Jawa untuk melakukan dakwah.

Dimana Raden Paku melakukan dakwahnya di daerah Giri Kedahton, yang kemudian beliau dikenal dengan Sunan Giri.

Beliau kemudian berhasil menjadi penerus Dakwah dari Sunan Ampel dan ayahnya, Raden Paku juga mendirikan sebuah pesantren di daerah Gersik.

3. Raden Qasim atau Sunan Drajat

Raden Qasim merupakan putra kandung dari Sunan Ampel dan merupakan adik dari Sunan Binang atau Maulana Makhdum Ibrahim.

Sunan Drajat belajar mengenai ilmu agama Islam dari ayahnya sendiri di pondok pesantren Sunan Ampel Denta.

Raden Qasim dikenal sebagai sesorang yang memiliki jiwa sosial tinggi, dimana dakwahnya selalu bertemakan saling menolong antar sesama.

Beliau juga selalu terbuka untuk membantu sesama, mengasihi anak yatim, menyantuni fakir miskin, dan menolong orang yang membutuhkannya.

Sunan Drajat berhasil menjadi penerus dakwah islam ayahnya yaitu Sunan Ampel. Dimana Sunan Drajat melakukan dakwahnya dan mendirikan sebuah pesantren di daerah Lamongan, Jawa Timur.

Bahkan hingga saat ini, kompleks pesantren Sunan Drajat masih menjadi pusat dakwah dan syiar pendidikan agama Islam.

4. Raden Fatah

Raden Fatah merupaka raja atau sultan Demak Bintara pertama. Beliau merupakan seorang sultan Demak yang diangkat oleh para Walisongo.

Raden Fatah sendiri merupakan murid sekaligus menantu dari Sunan Ampel yang berhasil menjadi sultan kerajaan Islam yang ada di Demak.

Beliau merupakan salah satu penerus dakwah Sunan Ampel yang mengajak rakyatnya untuk memeluk ajaran agama Islam dan menerapkan hukum Islam di kerajaannya tersebut.

Jasa Besar Sunan Ampel

pesantren sunan ampel

Sebagai seorang wali yang mengajarkan dan menyebarkan agama Islam di pulau Jawa kala itu, beliau juga memberikan jasa yang sangat berharga. Berikut ini beberapa jasa besar dari Sunan Ampel.

1. Mendirikan Pesantren Ampel Denta

Beliau memulai dakwahnya dengan mendirikan pesantren Ampel Denta yang terletak di daerah kota Surabaya. Oleh karena itu, beliau juga dikenal sebagai pemimpin pondok Pesantren pertama di Provinsi Jawa Timur.

Di pesantren tersebut, Sunan Ampel mendidik para pemuda untuk dijadikan mubaligh atau tenaga dai yang nantinya akan meneruskan dakwah Islam hingga ke seluruh pelosok tanah Jawa.

Pesantren tersebut bahkan masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu pesantren terfavorit di pulau Jawa hingga saat ini.

2. Perancang Kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa

Sunan Ampel juga tercatat menjadi seorang perancang kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa, yang pada saat itu ibu kotanya berada di Bintaro.

Fakta-Fakta Sunan Ampel

fakta unik sunan ampel

Berikut ini beberapa fakta-fakta menarik dari Sunan Ampel.

1. Bukan Asli Orang Indonesia

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa Sunan Ampel lahir di daerah Champa dan termasuk salah satu cucu dari raja Champa saat itu.

Dari situ bisa digaris bawahi bahwa Raden Rahmat bukan keturunan asli orang Indonesia.

Meski begitu, beliau melakukan dakwah dan syiar agama Islam di tanah Jawa secara maksimal dan tidak memandang bahwa beliau bukanlah orang asli tanah Jawa.

2. Pangeran Kerajaan Champa

Jika dilihat dari garis keturunannya, Sunan Ampel merupakan seorang pangeran dari kerajaan Champa.

Tidak hanya itu saja, beliau bahkan juga merupakan keponakan dari Raja Brawijaya Majapahit.

Meski statusnya sangat tinggi, namun beliau tidak pernah terlena dan takabur, apalagi sampai menggunakan statusnya tersebut untuk berdakwah.

Bahkan hal tersebut menjadi sebuah dorongan kuat bagi beliau untuk menuntut ilmu agama Islam lebih tinggi lagi dan melakukan dakwah dengan semaksimal mungkin.

3. Kawasan Ampel merupakan Kampung Arab

Fakta menarik lainnya adalah bahwa wilayah Ampel merupakan kampung Arab. Dimana kawasan Ampel tersebut sebagian besar penduduknya berkewarganegaraan atau keturunan Arab Yaman.

Selain itu terdapat juga beberapa keuturunan China yang sudah sejak lama berdagang di wilayah tersebut.

Suasana di kawasan Ampel juga sangat kental akan nuansa di tanah Arab. Khususnya di pusat pasar daerah tersebut yag menyerupai pasar Mekkah.

4. Makamnya Terletak di Sebelah Masjid Tertua Ketiga di Indonesia

Fakta unik selanjutnya yaitu makam Sunan Ampel berada di sebalah masjid tertua ketiga di Indonesia, dimana masjid tersebut didirikan pada tahun 1421 M tepat di wilayah kerajaan Majapahit.

Masjid Ampel juga termasuk masjid terbesar kedua yang ada di Surabaya, dimana masjid ini dulunya digunakan sebagai tempat untuk berdakwah dan berkumpulnya para ulama untuk membahas penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.

Namun seiring berjalannya waktu, masjid tersebut aktif digunakan sebagai tempat ibadah dan dakwah untuk umum.

Saat ini masjid tersebut juga masih banyak dikunjungi oleh para wisatawan religi dari berabgai daerah.

Uniknya lagi, masjid Ampel ini memiliki bentuk arsitektur dengan tiang penyangga yang sangat besar. Dimana tiang-tiang tersebut juga menjulang tinggi dan terbuat dari kayu.

Saking banyaknya orang yang mengunjungi masjid ini, masjid Ampel kemudian mengalami tiga kali perluasan yaitu pada tahun 1926, 1954, dan 1972.

Pada perluasan terakhir, luasnya mencapai 1.320 meter persegi dengan lebar 11 meter dan panjang 120 meter.

5. Terdapat Sebuah Sumur Bersejarah di Sekitar Masjid Sunan Ampel

Fakta unik yang terakhir yaitu adanya sumur bersejarah di kompleks masjid Sunan Ampel.

Masyarakat percaya bahwa air dari sumur tersebut memiliki kelebihan layaknya air zamzam. Jadi tidak heran jika para pengunjung yang mendatangi masjid Sunan Ampel akan membawa pulang air dari sumur tersebut.

Makam Sunan Ampel

makam sunan ampel

Sunan Ampel meninggal pada tahun 1481 Masehi dan dimakamkan di bagian barat Masjid Ampel yang didirakannya pada tahun 1421 Masehi.

Makam Sunan Ampel bersebelahan dengan makam istri pertamanya yaitu Nyai Ageng Manila.

Untuk memasuki komplek pemakaman, kamu harus melalui 9 gapura terlebih dahulu. Jumlah dari gapura tersebut disesuaikan dengan jumlah arah mata angin yang juga melambangkan kesembilan wali atau Walisongo.

Terdapat 3 gapura yang masih asli dari julah keseluruhan gapura yang ada.

Hingga saat ini komplek makam Sunan Ampel dan Masjid Sunan Ampel masih banyak dikunjungi oleh para wisatawan religi dan para peziarah.

Demikian ulasan lengkap mengenai Sunan Ampel, semoga bisa menambah wawasan kalian tentang ajaran agama Islam, khususnya sejarah masuknya Islam di Nusantara.

Beri Konten ini 5 Bintang Dong!
[Total: 0 Average: 0]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here